BLITAR - Bung Karno muda dikenal sebagai sosok yang memiliki semangat belajar tinggi sekaligus jiwa kepemimpinan yang kuat sejak usia belia. Perjalanan hidup Presiden pertama Republik Indonesia itu menunjukkan bagaimana pendidikan, organisasi, dan pengalaman hidup membentuk karakter yang kelak membawa Indonesia menuju gerbang kemerdekaan.
Kisah Bung Karno muda dimulai dari keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan. Ia merupakan putra Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru, dan Ida Ayu Nyoman Rai, perempuan keturunan bangsawan Bali. Masa kecilnya sempat dihabiskan di Tulungagung bersama sang kakek sebelum mengikuti orang tuanya ke Mojokerto.
Sejak kecil, Bung Karno muda memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan yang saat itu hanya bisa diakses sebagian kecil masyarakat pribumi. Kesempatan tersebut menjadi awal lahirnya pemikiran kritis yang terus berkembang hingga menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.
Baca Juga: Asal Usul Nama Tulungagung, Berawal dari Banjir hingga Menjadi Simbol Pertolongan Besar dari Tuhan
Pendidikan Membentuk Cara Berpikir Soekarno
Setelah menempuh pendidikan dasar di Mojokerto, Soekarno melanjutkan sekolah di Europeesche Lagere School sebelum diterima di Hoogere Burger School (HBS) Surabaya. Di kota inilah perjalanan intelektualnya berkembang pesat.
Selama tinggal di rumah HOS Cokroaminoto, Soekarno bertemu banyak tokoh pergerakan nasional seperti Haji Agus Salim, Alimin, Muso, Darsono, hingga Abdul Muis. Lingkungan tersebut memperluas wawasannya mengenai perjuangan melawan penjajahan.
Selain aktif berdiskusi, Soekarno juga mengikuti organisasi pemuda Tri Koro Dharmo yang kemudian berubah menjadi Jong Java. Ia mulai menunjukkan kemampuan menulis melalui berbagai artikel yang dimuat di harian Utusan Hindia.
Setelah lulus HBS, Soekarno melanjutkan pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Di kampus tersebut ia mengambil jurusan Teknik Sipil dan berhasil meraih gelar insinyur pada 1926.
Aktif Berorganisasi dan Membangun Gerakan Nasional
Selama berada di Bandung, Soekarno semakin aktif dalam dunia organisasi. Ia banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh nasional seperti Ki Hajar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, dan Douwes Dekker.
Pada 1926, ia mendirikan Algemene Studie Club sebagai wadah diskusi kaum terpelajar. Organisasi ini kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927.
Melalui PNI, Soekarno menggalang semangat persatuan bangsa dan mendorong perjuangan politik melawan kolonialisme. Aktivitasnya membuat pemerintah Hindia Belanda menganggapnya sebagai ancaman.
Akibatnya, Soekarno ditangkap pada penghujung 1929 dan dipenjara di Bandung. Dalam persidangan, ia menyampaikan pidato pembelaan berjudul Indonesia Menggugat yang kemudian menjadi salah satu dokumen penting dalam sejarah perjuangan nasional.
Masa Pengasingan Tidak Memadamkan Semangat
Setelah bebas, Soekarno kembali aktif dalam dunia politik. Namun, ia kembali ditangkap dan diasingkan ke Flores, kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Meski jauh dari pusat pergerakan nasional, semangatnya tidak pernah surut. Selama masa pengasingan, ia tetap menulis, berdiskusi, serta membangun hubungan dengan berbagai tokoh.
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Soekarno kembali memperoleh ruang untuk beraktivitas di ranah publik. Bersama Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH Mas Mansyur, ia terlibat dalam berbagai organisasi bentukan pemerintah pendudukan.
Langkah tersebut hingga kini masih menjadi bahan kajian sejarah. Namun, berdasarkan berbagai penjelasan yang disampaikan Soekarno, kerja sama itu dilakukan sebagai bagian dari strategi untuk membuka jalan menuju kemerdekaan Indonesia.
Menjelang Proklamasi Kemerdekaan
Baca Juga: Asal Usul Nama Tulungagung, Berawal dari Banjir hingga Menjadi Simbol Pertolongan Besar dari Tuhan
Menjelang berakhirnya Perang Dunia II, Soekarno berperan aktif dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Ia ikut merumuskan dasar negara, Undang-Undang Dasar 1945, serta berbagai perangkat pemerintahan yang akan digunakan setelah Indonesia merdeka.
Peristiwa Rengasdengklok menjadi salah satu momen penting ketika para pemuda mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Setelah melalui berbagai pembahasan, Proklamasi akhirnya dibacakan pada 17 Agustus 1945.
Sehari setelahnya, Soekarno bersama Mohammad Hatta ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
Warisan Bung Karno
Selain dikenal sebagai proklamator, Soekarno juga merupakan seorang insinyur yang memberi perhatian besar terhadap pembangunan nasional. Berbagai proyek monumental seperti Monumen Nasional, Masjid Istiqlal, Hotel Indonesia, hingga kawasan pusat pemerintahan menjadi bagian dari gagasannya dalam membangun wajah Indonesia modern.
Di tingkat internasional, Soekarno turut memperkuat posisi Indonesia melalui Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok yang memperjuangkan kemerdekaan serta kedaulatan bangsa-bangsa berkembang.
Perjalanan Bung Karno muda menunjukkan bahwa pendidikan, keberanian menyampaikan gagasan, serta kemampuan membangun persatuan menjadi fondasi penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Semangat itulah yang kemudian mengantarkannya menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah bangsa.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Noah Decade