Bung Karno Muda Meniti Jalan Perjuangan dari Tulungagung hingga Menjadi Tokoh Bangsa Indonesia

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 18:00 WIB
Bung Karno muda menempuh perjalanan panjang dari masa pendidikan, organisasi, hingga memimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia. Simak kisah lengkapnya. (PINTEREST)
Bung Karno muda menempuh perjalanan panjang dari masa pendidikan, organisasi, hingga memimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia. Simak kisah lengkapnya. (PINTEREST)

BLITAR - Kisah Bung Karno muda menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia. Jauh sebelum dikenal sebagai Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno menjalani perjalanan panjang yang membentuk karakter kepemimpinan, semangat nasionalisme, dan kecintaannya terhadap tanah air.

Bung Karno muda lahir dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Ayahnya merupakan seorang guru beragama Islam, sedangkan ibunya berasal dari keluarga bangsawan Bali yang beragama Hindu. Latar belakang keluarga yang beragam tersebut turut membentuk cara pandang Soekarno yang terbuka terhadap perbedaan.

Sejak kecil, Bung Karno muda sempat tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo, di Tulungagung, Jawa Timur. Di kota inilah ia mengawali pendidikan sebelum kemudian mengikuti orang tuanya ke Mojokerto. Perjalanan pendidikan inilah yang menjadi fondasi awal lahirnya sosok pemimpin yang kelak berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Kampung Coklat Blitar Punya Wahana hingga Feeding Hewan, Tiket Terusan Rp35 Ribu

Pendidikan Membentuk Karakter Bung Karno Muda

Setelah mengenyam pendidikan dasar di Mojokerto, Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS). Langkah tersebut dilakukan agar ia memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya.

Kesempatan masuk HBS diperoleh berkat bantuan HOS Tjokroaminoto, tokoh besar Sarekat Islam. Tidak hanya membantu pendidikan, Tjokroaminoto juga memberikan tempat tinggal bagi Soekarno di kediamannya.

Lingkungan rumah Tjokroaminoto menjadi tempat berseminya berbagai pemikiran kebangsaan. Bung Karno muda berinteraksi dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti Alimin, Musso, Darsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis. Dari pergaulan tersebut, wawasan politik dan nasionalismenya berkembang pesat.

Selain aktif belajar, Soekarno juga mulai menulis di surat kabar Utusan Hindia dan aktif dalam organisasi pemuda yang kemudian dikenal sebagai Jong Java. Aktivitas organisasi tersebut menjadi latihan awalnya dalam menyampaikan gagasan kepada masyarakat.

Menjadi Insinyur dan Mulai Aktif Berorganisasi

Usai lulus dari HBS, Soekarno melanjutkan pendidikan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB), mengambil jurusan Teknik Sipil.

Meski sempat menghentikan kuliah selama beberapa waktu, ia kembali melanjutkan studi hingga berhasil meraih gelar insinyur pada 1926. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena saat itu jumlah lulusan pribumi masih sangat terbatas.

Selama berada di Bandung, Soekarno tinggal di rumah Haji Sanusi dan semakin aktif berdiskusi dengan tokoh-tokoh nasional seperti Ki Hajar Dewantara, dr. Cipto Mangunkusumo, dan Ernest Douwes Dekker.

Pada masa inilah Bung Karno muda mendirikan Algemeene Studie Club yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927.

Perjuangan Menghadapi Penjajahan

Aktivitas politik Soekarno membuat pemerintah kolonial Belanda menangkapnya pada penghujung 1929. Ia dipenjara di Banceuy sebelum dipindahkan ke Sukamiskin.

Di pengadilan Bandung, Soekarno menyampaikan pidato pembelaan berjudul Indonesia Menggugat. Pledoi tersebut menjadi salah satu pidato politik paling berpengaruh dalam sejarah perjuangan bangsa.

Setelah dibebaskan, perjuangannya tidak berhenti. Soekarno kembali ditangkap dan diasingkan ke Flores, kemudian dipindahkan ke Bengkulu hingga akhirnya memperoleh kebebasan ketika Jepang datang ke Indonesia pada 1942.

Peran Penting Menuju Kemerdekaan

Pada masa pendudukan Jepang, Soekarno terlibat dalam berbagai lembaga yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Bersama Mohammad Hatta dan tokoh nasional lainnya, ia ikut merumuskan dasar negara, Undang-Undang Dasar 1945, hingga naskah Proklamasi Kemerdekaan.

Peristiwa Rengasdengklok menjadi salah satu momen penting sebelum Proklamasi. Setelah melalui berbagai pertimbangan, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Sehari kemudian, keduanya ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia oleh PPKI.

Warisan Pemikiran dan Arsitektur

Baca Juga: Kampung Coklat Blitar Punya Wahana hingga Feeding Hewan, Tiket Terusan Rp35 Ribu

Selain dikenal sebagai negarawan, Soekarno juga memiliki latar belakang sebagai seorang arsitek. Berbagai proyek monumental Indonesia lahir atas gagasan, arahan, maupun koordinasinya dengan sejumlah arsitek nasional.

Beberapa di antaranya adalah Masjid Istiqlal, Monumen Nasional (Monas), Hotel Indonesia, Wisma Nusantara, Gedung Conefo, Gedung Sarinah, Tugu Selamat Datang, Monumen Pembebasan Irian Barat, serta Patung Dirgantara.

Soekarno juga dikenal memiliki perhatian terhadap perencanaan kota. Salah satu gagasannya adalah pengembangan Palangkaraya sebagai kota yang diproyeksikan menjadi pusat pemerintahan masa depan.

Dalam hubungan internasional, Soekarno turut menggagas Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang melahirkan Dasasila Bandung dan menjadi inspirasi lahirnya Gerakan Non-Blok bersama sejumlah pemimpin dunia.

Sosok Bung Karno yang Tetap Dikenang

Perjalanan hidup Soekarno tidak selalu berjalan mulus. Ia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari masa penjajahan, pengasingan, hingga perubahan politik setelah kemerdekaan.

Kondisi kesehatannya menurun menjelang akhir hayat akibat gangguan ginjal. Soekarno wafat pada 21 Juni 1970 di Jakarta.

Meski demikian, warisan pemikiran, semangat persatuan, serta kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan terus dikenang sebagai bagian penting dalam sejarah Indonesia. Kisah Bung Karno muda menjadi bukti bahwa pendidikan, organisasi, dan keteguhan dalam memperjuangkan cita-cita dapat membentuk seorang pemimpin yang memberikan pengaruh besar bagi bangsa.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Noah Decade
Perjuangan Kemerdekaan Indonesia Bung Karno muda soekarno presiden pertama indonesia sejarah indonesia