JIWA SOSIAL: Natasya Sharla Kirana membawa misi program POJOK Berdaya di ajang Raka Raki Jatim 2026.
BLITAR KAWENTAR - Menjadi duta pariwisata bagi Natasya Sharla Kirana bukan sekadar tentang memperkenalkan destinasi kepada wisatawan. Gadis 22 tahun yang kini menjadi finalis Raki Jawa Timur 2026 tersebut ingin menjadikan pariwisata sebagai ruang pemberdayaan masyarakat sekaligus tempat tumbuhnya kolaborasi generasi muda.
Gagasan itu dia wujudkan melalui TemuBerdaya Indonesia, sebuah wadah yang dibangunnya untuk mempertemukan anak muda dalam berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan.
Salah satu fokus yang dibawanya adalah pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Di kawasan wisata sejarah Monumen PETA Kota Blitar, Natasya menginisiasi POJOK Berdaya. Program tersebut dirancang untuk membuka ruang kolaborasi antara UMKM, komunitas lokal, dan pelaku ekonomi kreatif.
Baca Juga: Keluarga Pelaku Perundungan di Blitar Pilih Mundur dari Sekolah, Ini Respon SMPN 1 Doko
Menurut Natasha, pengembangan kawasan wisata seharusnya tidak berhenti pada pembangunan fisik. Keberadaan kawasan wisata juga harus mampu memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat di sekitarnya.
"Melalui POJOK Berdaya, UMKM, komunitas lokal, dan pelaku ekonomi kreatif dapat berkegiatan bersama sehingga kawasan wisata menjadi lebih hidup dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," jelas warga Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan.
Tidak berhenti di sana. Perhatiannya terhadap akses wisata yang ramah bagi semua kalangan juga melahirkan program WPI atau Wisata Peduli Inklusi. Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi dengan komunitas Aksara Tangan.
Baca Juga: Juhoon CORTIS Jadi Sorotan, Tatapan Diamnya ke Martin Bikin Fans Curiga Ada Kedekatan Spesial
Melalui WPI, pelaku wisata dan UMKM mendapatkan pelatihan bahasa isyarat dasar. Natasya menilai kemampuan tersebut penting untuk membangun ekosistem pariwisata yang lebih inklusif.
Dia melihat masih terbatasnya akses pelatihan bahasa isyarat bagi pelaku wisata di Bumi Bung Karno. Karena itu, program tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan pelayanan kepada wisatawan dengan kebutuhan komunikasi yang berbeda.
”Saya percaya bahwa destinasi wisata yang baik adalah destinasi yang dapat diakses dan dinikmati oleh semua orang tanpa terkecuali," katanya.
Baca Juga: Lisa BLACKPINK Makan Malam Bareng Pria Misterius, Benarkah Blue Pongtiwat? Ini Faktanya
Gagasan tersebut juga menjadi salah satu hal yang ingin dibawa Natasya ke panggung Raki Jawa Timur 2026. Dia berharap ruang kolaborasi di tingkat provinsi dapat membuka peluang agar program yang telah berjalan di Blitar bisa dikembangkan dan diterapkan di daerah lain.
Bagi Natasya, generasi muda memiliki posisi penting dalam menjaga keberlanjutan budaya dan pariwisata. Anak muda tidak harus menunggu memiliki jabatan atau posisi tertentu untuk mulai berkontribusi.
Baca Juga: Bela Ananda Novembri, Top 10 Raka-Raki Jatim, Perform Dalang Jadi Pembeda dari Peserta Lain
Dia mengajak generasi muda memulai dari lingkungan terdekat, komunitas, maupun ide sederhana yang dapat memberikan manfaat. ”Budaya dan pariwisata bukan hanya sesuatu yang dinikmati, tetapi juga ruang untuk berkarya dan memberi manfaat," tegasnya.(sub/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah