Sound System Malang, dari Warisan Keluarga hingga Fenomena Sound Horeg

Cecilia Dzakira Pasha • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:15 WIB
Sound system berukuran besar menjadi bagian dari fenomena sound horeg dan karnaval yang berkembang di Malang.
Sound system berukuran besar menjadi bagian dari fenomena sound horeg dan karnaval yang berkembang di Malang.

MALANG - Sound system Malang berkembang menjadi bagian dari fenomena hiburan yang lekat dengan berbagai kegiatan karnaval. Perkembangannya tidak lagi sebatas perangkat untuk mendukung acara live, tetapi juga melahirkan budaya sound horeg yang mengutamakan kekuatan suara hingga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

David Blitar, nama panggilan Devi Stefan Laksamana, merupakan owner Bliset Audio sekaligus Ketua Paguyuban Sound Malang Bersatu. Dia menyebut sound system sebagai salah satu kearifan lokal Malang karena perkembangannya begitu kuat di wilayah tersebut.

Menurut David, dirinya mulai terjun ke dunia sound system sekitar 2010. Namun, keterlibatan keluarganya dalam dunia tersebut sudah berlangsung jauh lebih lama. Sound system milik keluarganya mulai dibangun oleh sang ayah pada 1976.

Baca Juga: Paket Sound Rp130 Juta dari Kalimantan Timur Bikin Melongo, Tingginya Bukan Kaleng-Kaleng

David kemudian meneruskan usaha tersebut. Jika dahulu sound system lebih banyak digunakan untuk mendukung acara live dan hiburan, kini penggunaannya berkembang mengikuti tren di masyarakat.

Salah satu fenomena yang berkembang adalah sound horeg atau sound system yang digunakan dalam acara karnaval. Dalam kegiatan tersebut, perangkat sound system dapat dibawa menggunakan kendaraan berukuran besar, seperti truk atau bus.

Perubahan karakter penikmat sound system juga menjadi bagian dari perkembangan tersebut. David melihat masyarakat kini cenderung mencari suara dengan tingkat kekuatan tinggi. Suara yang dihasilkan bahkan dapat terasa hingga membuat telinga bergetar.

Baca Juga: Tera Ulang Kota Blitar Masih Rendah, 2.476 Timbangan Belum Diperiksa hingga 2026

Fenomena sound horeg di Malang, menurut David, mulai terlihat sekitar 2015. Perkembangannya kemudian semakin cepat seiring dengan peran media sosial. Konten sound system yang viral membuat perhatian terhadap pemilik dan perangkat yang digunakan ikut meningkat.

"Sound kita viral otomatis ownernya juga agak terangkat, kebanggaannya di situ," ujar David dalam wawancara.

Menurut dia, perkembangan tersebut membuat semakin banyak sound system baru bermunculan. Persaingan dan perkembangan teknologi maupun perangkat juga membuat para pelaku terus berusaha menghasilkan sound system yang lebih baik.

Fenomena penggunaan sound berdaya besar dalam karnaval juga tidak lepas dari berbagai kejadian yang dianggap tidak biasa. David menyebut pernah terjadi genteng yang rontok maupun kaca pecah dalam kegiatan yang berkaitan dengan sound system.

Dia menilai kejadian tersebut justru menjadi bagian dari fenomena yang membuat para pelaku semakin bersemangat. Bagi mereka, perkembangan dan respons masyarakat menjadi salah satu tanda bahwa dunia sound system terus mendapatkan perhatian.

Selain karnaval, terdapat pula kegiatan yang dikenal sebagai battle sound atau cek sound. David menjelaskan, cek sound pada dasarnya dilakukan untuk mengetahui kesiapan sebuah perangkat sound system.

Baca Juga: Ormas Soroti PKS di Area KHDPK Blitar, Ada Dua Dokumen Saling Klaim Pengelolaan Hutan

Namun, kegiatan tersebut dapat dikemas dengan pertunjukan langsung. Ada live DJ dan dancer yang tampil bersamaan sehingga suasananya menyerupai diskotik, tetapi berlangsung di ruang terbuka.

Perkembangan yang terus terjadi membuat David mengaku belum menemukan titik jenuh dalam dunia sound system. Dia menyebut dirinya sebenarnya merupakan orang yang mudah merasa bosan. Namun, dunia sound system terus memberikan tantangan baru sehingga membuatnya terdorong untuk berkembang.

"Berarti saya harus lebih baik lagi, harus lebih baik lagi," katanya.

Baca Juga: Cara Membuat Kostum dari Koran Bekas, Kreatif dan Murah untuk Karnaval Sekolah

Bagi David, perkembangan tersebut menjadi alasan dirinya tetap bertahan di dunia sound system. Dari yang awalnya meneruskan usaha keluarga, dia kini juga aktif dalam komunitas sound system di Malang.

Dia pun menilai hobi menjadi salah satu dasar penting untuk bertahan di bidang tersebut. Menurutnya, ketika seseorang sudah menjalani sesuatu karena hobi, persoalan penghasilan akan mengikuti dengan sendirinya.

Perjalanan sound system Malang menunjukkan bagaimana sebuah perangkat yang awalnya digunakan untuk mendukung acara hiburan berkembang menjadi bagian dari budaya pertunjukan di tengah masyarakat. Karnaval, cek sound, hingga battle sound menjadi ruang bagi para pelaku untuk terus mengembangkan perangkat sekaligus menunjukkan kemampuan mereka.

 

Editor : Cecilia Dzakira Pasha
Sound System Malang Karnaval Malang Bliset Audio Sound Malang Bersatu sound horeg