JAKARTA - Komunitas sound system memperkenalkan istilah Sound Karnaval Indonesia sebagai sebutan baru untuk aktivitas sound yang selama ini banyak dikenal dengan istilah sound horek. Pergantian istilah tersebut disampaikan dalam sebuah pertemuan komunitas sound yang membahas situasi dan aturan terkait penggunaan sound dalam kegiatan karnaval.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah pelaku sound mengajak komunitas untuk tidak lagi memperdebatkan istilah sound horek. Mereka mengusulkan penggunaan nama Sound Karnaval Indonesia atau SKI sebagai istilah bersama.
"Jadi antara tepuk tangan di tangan dulu, SKI namanya ini teman-teman," ujar salah satu pembicara dalam pertemuan tersebut.
Baca Juga: Paket Sound di Bawah Rp5 Juta Full Bonus, Speaker ACR dan Mixer 99 Efek Jadi Andalan
Menurut penjelasan yang disampaikan, istilah baru tersebut diharapkan dapat menjadi payung bagi berbagai karakter sound yang digunakan dalam kegiatan karnaval di Indonesia. Para pelaku sound juga menilai setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing.
Pergantian nama ini muncul ketika aktivitas sound karnaval menjadi pembahasan di tengah masyarakat. Dalam pertemuan tersebut, komunitas sound memilih untuk mengubah istilah yang selama ini digunakan menjadi Sound Karnaval Indonesia.
Salah satu hal yang ditekankan dalam pertemuan adalah pentingnya mengikuti aturan yang berlaku di masing-masing wilayah. Para pelaku sound menyadari bahwa ketentuan penggunaan sound dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Baca Juga: Ormas Soroti PKS di Area KHDPK Blitar, Ada Dua Dokumen Saling Klaim Pengelolaan Hutan
"Kita nanti tetap harus mematuhi aturan-aturan dari masing-masing wilayah Indonesia. Jadi nanti kan beda-beda aturannya," kata salah satu pembicara.
Karena itu, Sound Karnaval Indonesia tidak diarahkan untuk memiliki satu bentuk yang seragam. Karakter sound di setiap wilayah tetap dapat berbeda sesuai dengan ciri khas masing-masing.
Seorang perwakilan yang mengaku berasal dari Jawa Tengah juga hadir dalam pertemuan tersebut. Ia mengatakan kedatangannya bertujuan untuk mendukung atau "mengguyupi" teman-teman komunitas sound di Jawa Timur.
Ia juga menyatakan dukungannya terhadap penggunaan istilah Sound Karnaval Indonesia. Menurutnya, setiap kabupaten atau wilayah dapat memiliki karakter sound masing-masing, tetapi semuanya tetap berada dalam sebutan yang sama.
"Mau 4 SAT, en SAT atau 8 SAT nanti pokoknya itu adalah sound karnaval Indonesia," ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan keinginan komunitas untuk tetap mempertahankan keberagaman karakter sound tanpa menjadikannya sebagai alasan untuk mempertentangkan satu daerah dengan daerah lainnya.
Baca Juga: Paket Sound di Bawah Rp5 Juta Ini Full Bonus, Dapat Rak hingga Kabel, Speknya Bikin Penasaran
Dalam pertemuan tersebut, komunitas juga mengingatkan para pelaku dan penikmat sound agar tidak saling menghujat terkait polemik yang muncul.
Mereka mengajak komunitas untuk menghormati keputusan yang telah ada, termasuk keputusan dari MUI yang disebut dalam pertemuan tersebut. Para pembicara meminta agar ulama tidak menjadi sasaran hujatan akibat perbedaan pandangan mengenai aktivitas sound karnaval.
"Pokoke wis ora usah diperdebatkan lagi. Kita tetap menghormati apapun keputusan dari MUI," kata salah satu pembicara.
Baca Juga: 6.447 Penumpang Naik-Turun Stasiun Blitar Saat Libur Panjang HUT Kemerdekaan, KAI Catat Lonjakan Mob
Pesan tersebut sekaligus menjadi bagian dari ajakan agar komunitas sound lebih fokus pada pelaksanaan kegiatan karnaval dengan tetap memperhatikan aturan.
Dalam pertemuan itu, perubahan istilah tidak disebut sebagai upaya untuk menghilangkan karakter sound yang sudah berkembang di berbagai daerah. Sebaliknya, Sound Karnaval Indonesia diposisikan sebagai nama yang dapat digunakan bersama.
Para pelaku sound berharap kegiatan karnaval tetap dapat berjalan dengan baik. Mereka juga menekankan pentingnya mengikuti ketentuan yang berlaku di setiap wilayah agar aktivitas sound tidak menimbulkan persoalan baru.
Dengan penggunaan istilah Sound Karnaval Indonesia, komunitas sound kini memiliki sebutan baru yang ingin mereka gunakan dalam kegiatan karnaval. Di tengah perbedaan karakter dan aturan antardaerah, mereka mengajak seluruh pelaku untuk tetap menjaga kebersamaan sekaligus menghormati ketentuan yang berlaku.
Editor : Cecilia Dzakira Pasha