BLITAR KAWENTAR – Satreskrim Polres Blitar terus mendalami kasus ledakan balon udara berisi petasan yang menewaskan seorang warga di Desa Tambakan, Kecamatan Gandusari. Terkini, dua saksi kembali diminta keterangan. Hasilnya diduga petasan yang memicu ledakan maut itu dibeli secara online melalui media sosial (medsos).
Kasatreskrim Polres Blitar AKP Margono Suhendra mengatakan, polisi telah mengantongi informasi awal terkait asal-usul petasan yang digunakan dalam balon udara tersebut. Saat ini, proses penyelidikan masih terus dikembangkan untuk mengungkap siapa saja yang terlibat dalam pembuatan hingga penerbangan balon udara maut itu.
“Untuk sementara sudah ada dua saksi yang kami periksa. Mereka warga sekitar lokasi kejadian. Hasil sementara mengarah petasan diperoleh secara online lewat medsos. Tapi ini masih kami dalami lagi,” ujarnya, Minugu (31/5/2026).
Baca Juga: Makin Mudah Miliki Properti Impian Lewat BRI KPR, Ada Promo Spesial hingga Tenor 20 Tahun
Hingga kini, Satreskrim Polres Blitar baru memeriksa dua orang saksi dari warga sekitar lokasi kejadian. Pemeriksaan dilakukan untuk menyusun kronologi detail sekaligus memastikan pihak-pihak yang ikut membuat maupun menerbangkan balon udara berpetasan tersebut.
Meski proses penyelidikan terus berjalan, polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus ini. Margono menegaskan masih fokus pada penanganan korban, terutama dua anak yang mengalami luka-luka dan kini menjalani perawatan intensif di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.
“Masih tahap penyelidikan, karena korban kami fokuskan untuk tindakan medis dulu, mengingat masih anak-anak. Proses hukum tetap berjalan sambil menunggu kelengkapan alat bukti dan hasil pemeriksaan saksi tambahan,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua RT 4 RW 8 Dusun Tekik, Juwito mengaku, suara ledakan terdengar sangat keras sekitar pukul 06.30 WIB sesaat sebelum warga melaksanakan salat Idul Adha. Bahkan, dentuman tersebut terasa hingga permukiman warga. “Suara ledakannya keras sekali sampai terasa getarannya di rumah-rumah sini. Padahal lokasinya cukup jauh di tengah sawah,” katanya.
Ledakan itu menyebabkan warganya, Irfan Hidayat, warga RT 4 RW 8 Dusun Tekik, meninggal dunia. Dua korban lainnya mengalami luka bakar dan luka serpihan petasan hingga harus dirawat di rumah sakit.
Juwito menegaskan, Irfan bukan pembuat maupun penerbang balon udara. Korban disebut hanya datang untuk melihat balon udara yang diterbangkan warga lain. Dia mendengar dari warga lain, Irfan membantu mengecek kondisi petasan pada balon udara, hingga membuatnya terkena ledakan hingga meninggal dunia.
Padahal, sebelum kejadian tersebut, pihak RT sudah mengumpulkan warga dan anak-anak untuk memberikan imbauan agar tidak lagi menerbangkan balon udara disertai petasan.
Menurutnya, sosialisasi larangan sebenarnya sudah beberapa kali dilakukan, termasuk dari pihak PLN karena berpotensi membahayakan keselamatan warga dan jaringan listrik. “Sudah kami ingatkan lagi supaya tidak membuat balon seperti itu. Jangan sampai kejadian ini terulang,” pungkasnya.(jar/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah