BLITAR – Muhammad Ali Rofqi, 13, santri yang diduga korban pengeroyokan di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Blitar, meninggal dunia kemarin (7/1). Pihak kepolisian kini memeriksa 21 saksi untuk pendalaman kasus.
Usai perkelahian dengan beberapa rekan sepondoknya pada Selasa (2/1), Rofqi dilarikan ke RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Bocah asal Desa Pandarum, Kecamatan Sutojayan, ini langsung mendapatkan perawatan intensif di ICU.
Meninggalnya Rofqi itu juga dibenarkan oleh Kasatreskrim Polres Blitar, AKP Febby Pahlevi Riza. Dia mengatakan bahwa santri itu meninggal pada pukul 05.40 WIB usai mendapatkan perawatan di rumah sakit. “Betul (meninggal dunia), kita doakan semoga husnulkhatimah,” ujarnya.
Sayangnya, Febby tidak menyampaikan secara detail perihal meninggalnya Rofqi. Dia mengaku masih melakukan penyelidikan dan mendalami keterangan dari 21 orang yang telah menjadi saksi kasus pengeroyokan ini.
“Lebih jelas sampai dengan saat ini sudah 21 orang yang telah dimintai keterangan. Dimungkinkan besok (hari ini, Red) akan kami sampaikan pemeriksaan terbarunya,” jelasnya.
Untuk diketahui, Muhammad Ali Rofqi merupakan seorang santri di salah satu ponpes Kabupaten Blitar yang menjadi korban pengeroyokan oleh teman-temannya. Keluarga yang mengetahui kondisi korban tidak terima dan melaporkan kejadian itu ke polisi.
Menurut Febby, orang tua korban melaporkan kejadian dugaan pengeroyokan itu pada 3 Januari 2024. Setelah itu, polisi langsung melakukan serangkaian penyelidikan hingga saat ini.
Sementara itu, Pendamping Hukum PPA Kabupaten Blitar Yulis Hastutik mengaku mendengar kabar kasus pengeroyokan di sebuah pondok pesantren di Sutojayan pada Kamis (3/1/2024). Pihaknya bergegas ke rumah sakit untuk koordinasi dengan keluarga.
“Usai dikabari kasus pengeroyokan ini, kami langsung ke rumah sakit untuk mengecek kondisi korban dan berkoordinasi dengan keluarga. Kami sudah mendampingi pelaporan ke Polres Blitar,” ujar Hastutik.
Baca Juga: Santri Ponpes di Blitar yang Jadi Korban Dikeroyok Meninggal Dunia, Ini Langkah Polisi
Dia mengaku kaget mendapatkan kabar bahwa korban telah meninggal dunia meski sudah mendapatkan penanganan intensif. Usai berkoordinasi dengan keluarga korban, kemudian diputuskan untuk melanjutkan proses hukum dari kasus tersebut.
PPA Kabupaten Blitar juga telah berkoordinasi dengan Kelurahan Kalipang, Kecamatan Sutojayan, yang menjadi lokasi peristiwa pengeroyokan.
Koordinasi ini tidak lain untuk mendampingi anak-anak yang berhadapan dengan hukum. Sebab, ada belasan anak yang diduga terlibat dalam kasus ini.
“Kami melihat luka korban ada memar di wajah. Bahkan juga terdapat luka di punggung yang tidak dilakukan dengan tangan kosong,” ungkapnya.
Untuk mengantisipasi, sebenarnya PPA telah melakukan sosialisasi berulang-ulang. Bahkan dilakukan pada berbagai instansi, mulai dari sekolah hingga lembaga pendidikan nonformal.
“Memang harus kerja sama dengan semua sektor. Sebab, ponpes yang dianggap masyarakat aman dan terlindungi ternyata juga terjadi kasus kekerasan,” tutur Hastutik.
Di lokasi terpisah, Kasubbag TU Kemenag Blitar Syaikhul Munib turut menyayangkan sekaligus menyerahkan kasus pengeroyokan tersebut kepada kepolisian.
Pihaknya juga telah mendengar kabar meninggalnya korban. Serta menunggu hasil visum yang dilakukan rumah sakit sebagai bahan penyidikan polisi.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra