BLITAR - Kandungan air pengusaha katering kolak kacang hijau yang diduga menyebabkan keracunan masal di Kecamatan Selopuro, tercemar dan mengandung bakteri coliform.
Hasil ini diketahui usai Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar melakukan uji sampel. Selain itu, Polres Blitar sudah memeriksa 20 saksi untuk dimintai keterangan.
Sub Koordinator Surveilans dan Imunisasi Dinkes Kabupaten Blitar, Endro Pramono mengatakan, ada hasil dari uji sampel air yang dilakukan di laboratorium kesehatan daerah (labkesda).
Diketahui air kran tempat pengusaha katering kolak kacang hijau yang diduga menyebabkan puluhan orang keracunan di Kecamatan Selorejo, hasilnya positif mengandung bakteri coliform.
“Jenis bakteri coliform, diindikasikan air tersebut terkontaminasi kotoran hewan. Kami akan segera melakukan pemeriksaan lanjutan di air tandon dan saluran lainnya,” ujarnya.
Endro melanjutkan, jika air tandon dinyatakan aman, maka indikasi lainnya terjadi kebocoran di sambungan pipa air, sehingga terkontaminasi kotoran ternak.
Pihaknya akan kembali ke lokasi katering, untuk memeriksa sumber air sekitar. Sedangkan, untuk uji laboratorium kolak kacang hijau saat ini masih belum keluar, karena masih berproses di laboratorium Surabaya.
Diperkiran uji sampel ini membutuhkan waktu dua minggu, untuk dapat mengetahui hasilnya.
“Hasil sementara yang bisa kami sampaikan, air kran katering tercemar. Untuk lainnya menunggu hasi laboratorium Surabaya,” ungkapnya.
Sementara itu, Kasatreskrim Polres Blitar, AKP Momon Suwito mengatakan, telah melakukan serangkaian langkah penyelidikan, termasuk olah tempat kejadian perkara (TKP) serta pengamanan barang bukti.
Sampel makanan yang diduga menyebabkan keracunan juga telah dikirim ke laboratorium forensik (Labfor) Polda Jawa Timur untuk diperiksa.
“Penyidik sudah memeriksa sekitar 20 saksi. Mereka adalah warga yang sempat mengkonsumsi makanan tersebut dan sudah kembali ke rumah. Kami periksa setelah kondisi mereka membaik,” ujarnya, Selasa (20/5/2025).
Momo menyebut, salah satu fokus pemeriksaan ialah makanan kolak kacang hijau yang disajikan dalam kegiatan posyandu lansia di Dusun Sidomulyo, Desa Selorejo.
Kolak tersebut diduga menjadi penyebab utama gejala keracunan yang dialami warga, seperti mual, muntah, dan diare. Warga yang memasak kolak itu ternyata juga ikut dirawat akibat gejala serupa.
“Yang memasak kolaknya juga sempat masuk rumah sakit. Nantinya juga kami periksa yang bersangkutan,” terangnya.
Saat ini polisi masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui kandungan pasti dalam makanan yang dikonsumsi para korban. Biasanya prosesnya sekitar 14 hari, setelah hasil keluar, akan kami sampaikan ke media.
Soal kronologi lengkap mulai dari waktu memasak hingga jumlah dan sebaran konsumsi makanan, polisi masih mengumpulkan keterangan lebih lanjut dari saksi-saksi dan pihak yang terlibat.
“Termasuk kapan makanan itu mulai dimasak dan dibagikan ke siapa saja, itu semua sedang kami telusuri,” jelasnya.
Hingga kini, masih ada empat korban dari insiden di Desa/Kecamatan Selorejo, yang menjalani perawatan di puskesmas dan rumah sakit.
Sementara itu, seluruh korban dari kejadian di Kecamatan Wonotirto sudah dinyatakan sembuh dan dipulangkan ke rumah masing-masing. (jar/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah