BLITAR – Dunia perbankan Indonesia berduka atas kepergian Muhammad Ilham Pradipta, seorang Kacab Bank BUMN yang dikenal berprestasi. Sosok yang selama ini identik dengan profesionalisme dan dedikasi tinggi itu ditemukan tewas setelah menjadi korban penculikan. Kisahnya menjadi sorotan publik setelah channel YouTube KOMPASTV LAMPUNG menayangkan liputan lengkap perjalanan karier hingga detik-detik duka yang menutup hidupnya.
Ilham Pradipta, Kacab Bank BUMN cabang pembantu di Jakarta Pusat, dikenal luas sebagai pemimpin yang rendah hati dan pekerja keras. Ia memulai kariernya dari nol dan berhasil mendaki tangga profesional hingga dipercaya memimpin kantor cabang.
Kepergian mendadaknya bukan hanya mengejutkan kolega, tapi juga masyarakat yang mengenalnya sebagai sosok penuh integritas. Tragedi ini memicu empati publik, mengingat Kacab Bank BUMN ini tak pernah terlibat konflik pribadi maupun profesional yang mencolok.
Human interest menjadi titik kuat dari cerita ini. Ilham tidak hanya pekerja perbankan, ia adalah suami, ayah, dan sahabat bagi banyak orang. Mereka yang hadir di pemakaman umum Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, menyaksikan isak tangis yang pecah ketika jenazah dimasukkan ke liang lahat. Istrinya tak kuasa menahan air mata, sementara rekan kerja menyebut Ilham sebagai pribadi yang selalu menginspirasi.
Di dunia kerja, Ilham dikenal sebagai pemimpin yang mampu memotivasi timnya. Selama lebih dari 13 tahun berkecimpung di dunia perbankan, ia berhasil mencetak berbagai prestasi, termasuk peningkatan portofolio nasabah dan inovasi pelayanan cabang. Rekan-rekannya mengatakan, “Beliau tidak hanya memimpin, tapi mendidik. Kami banyak belajar dari beliau.” Karier yang cemerlang ini menjadi bukti bahwa kerja keras dan integritas mampu membuka jalan sukses, sekaligus menjadi warisan nilai bagi yang ditinggalkan.
Namun, di balik kesuksesan itu, tak ada yang menduga takdir tragis yang menanti. Rabu, 20 Agustus 2025, Ilham diculik ketika hendak masuk ke mobilnya di parkiran sebuah swalayan di kawasan Pasar Bo, Jakarta Timur. Rekaman CCTV yang ditayangkan KOMPASTV LAMPUNG menunjukkan momen cepat ketika sekelompok pelaku menyergapnya. Upaya melawan sia-sia karena jumlah pelaku lebih banyak dan kondisi parkiran sepi.
Keesokan paginya, Kamis, 21 Agustus 2025, jasadnya ditemukan di area persawahan Desa Nagasari, Kabupaten Bekasi. Kondisi korban mengenaskan, dengan tangan dan kaki terikat lakban serta bekas luka di leher dan dada. Hasil autopsi mengungkap adanya tanda kekerasan yang menjadi penyebab kematiannya. Temuan ini mengguncang publik, terlebih karena sosok korban dikenal jauh dari masalah dan dihormati dalam lingkaran profesional.
Polisi bergerak cepat. Tim Resmob Polda Metro Jaya menangkap empat orang pelaku di lokasi berbeda, tiga di Johar Baru, Jakarta Pusat, dan satu di Bandara Komodo, Labuan Bajo, NTT. Mereka diduga merupakan penagih utang yang beraksi terencana. Meski begitu, motif pasti penculikan masih dalam penyelidikan. Pihak kepolisian menyebut, “Kami masih mendalami apakah ada dalang di balik aksi ini. Bukti forensik dan rekaman CCTV menjadi petunjuk utama.”
Kabar ini menyentuh banyak kalangan. Dunia perbankan kehilangan salah satu aset terbaiknya, sementara masyarakat diingatkan bahwa kejahatan bisa menyasar siapa saja. Profil Ilham Pradipta kini menjadi pengingat tentang pentingnya kewaspadaan, bahkan di tengah rutinitas sehari-hari.
Istri dan keluarga korban berharap kasus ini segera tuntas. “Kami ingin keadilan, agar pelaku mendapat hukuman setimpal,” ujar sang istri. Doa dan dukungan terus mengalir, baik dari kolega, nasabah, hingga publik luas yang turut merasakan duka mendalam atas kepergian seorang pemimpin dan sahabat yang tak tergantikan.
Kasus ini bukan sekadar angka kriminalitas. Ia adalah cerita tentang seorang manusia yang mengabdikan hidupnya untuk pekerjaan dan keluarga, yang terhenti secara tragis di tangan para penculik. Semoga penegak hukum mampu menyingkap tabir motif dan memberikan keadilan untuk almarhum Ilham Pradipta.
Editor : Anggi Septian A.P.