BLITAR – Seorang dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang mendadak mundur dari jabatannya. Alasannya mengejutkan, ia mengaku kecewa karena mahasiswa tidak hadir di kelas. Namun, di balik itu, muncul cerita lain soal konflik panjang dengan tetangga yang ikut memperkeruh situasi.
Dosen yang dikenal sebagai pengajar filsafat dan tasawuf itu bercerita bahwa dirinya sudah mengajar sejak 1991. Ia masuk ke kelas pada pertemuan ketiga mata kuliah Teosofi—gabungan antara teologi, tasawuf, dan filsafat—namun mendapati ruang kuliah benar-benar kosong.
“Pertemuan pertama dan kedua hadir 100 persen, tapi pertemuan ketiga tidak ada satu mahasiswa pun yang datang. Saya tunggu sampai 06.40, tetap nihil,” ujarnya dalam rekaman video yang beredar.
Merasa kecewa, ia pun langsung menghadap kaprodi dan menulis surat pengunduran diri. Surat itu ditujukan kepada Direktur Pascasarjana, Prof. Gus Maemun. “Saya mundur mulai hari itu juga, karena kuliah tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya,” tegasnya.
Namun, keputusan mundur itu ternyata tidak hanya dipicu faktor akademik. Sang dosen juga mengaku tengah menghadapi persoalan pelik dengan tetangganya. Konflik bermula dari masalah parkir kendaraan di depan rumahnya yang berlarut-larut hingga menimbulkan ketegangan.
Ia menuturkan, suatu malam sekira pukul 23.00, ada mobil rental milik tetangga terparkir di depan pintu rumah. Padahal, ia sudah memberi tanda larangan parkir. Mobil itu tak kunjung dipindah hingga dini hari, membuat dirinya kesulitan keluar rumah.
“Jam 2 pagi saya bangunkan sopirnya, tapi tidak bangun. Akhirnya saya telepon pemilik rental, lalu disuruh pindahkan sendiri. Karena terburu-buru ada jadwal pengajian, mobil akhirnya saya geser,” ceritanya.
Sayangnya, upaya memindahkan mobil justru memicu keributan. Suara mesin mobil yang keras menimbulkan protes keras dari tetangga. Situasi semakin panas karena pihak tetangga merasa terganggu. “Saya sudah berkali-kali minta maaf, tapi suasana tetap tegang,” tambahnya.
Tak hanya soal parkir, konflik juga merembet ke persoalan tanah kosong yang dijadikan lahan parkir. Sang dosen mengklaim sudah membantu membersihkan lahan tersebut dengan biaya sendiri hingga belasan juta rupiah. Namun, masalah baru muncul ketika ia meminta bantuan biaya kebersihan kepada tetangga, yang berujung pada perbedaan pendapat.
Menurutnya, situasi itu membuat hubungan antarwarga semakin renggang. Bahkan, ada tudingan tak mengenakkan yang dialamatkan kepada keluarganya. “Saya ini ingin suasana adem, tapi kenyataannya malah jadi panas. Akhirnya saya putuskan berhenti mengajar dulu, sambil menyelesaikan masalah ini,” katanya.
Video pengakuan dosen ini langsung ramai dibicarakan warganet. Banyak yang menyoroti keputusannya mundur hanya karena mahasiswa absen, sementara ada juga yang menyoroti kisruh dengan tetangganya. Kombinasi dua isu berbeda membuat kasus ini kian menarik perhatian.
Beberapa mahasiswa pun ikut memberikan komentar di media sosial. Sebagian menyayangkan keputusan mundur itu, sebab dosen yang bersangkutan dikenal sebagai pengajar senior dengan pengalaman panjang.
Sementara itu, pihak universitas belum memberikan pernyataan resmi terkait pengunduran diri ini. Hanya saja, sejumlah sumber internal menyebut bahwa keputusan mundur tersebut masih bersifat pribadi dan belum tercatat secara administratif.
Kasus ini menjadi sorotan publik karena memperlihatkan bagaimana masalah pribadi bisa bersinggungan dengan dunia akademik. Dosen yang sudah puluhan tahun mengabdi akhirnya memilih mundur di tengah jalan, bukan hanya karena alasan akademik, tetapi juga konflik sosial di lingkungannya.
Editor : Anggi Septian A.P.