Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Faisal Asegaf Bongkar: Israel Bukan Perang, Tapi Jajah Palestina!

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Kamis, 2 Oktober 2025 | 21:00 WIB
Faisal Asegaf Bongkar: Israel Bukan Perang, Tapi Jajah Palestina!
Faisal Asegaf Bongkar: Israel Bukan Perang, Tapi Jajah Palestina!

BLITAR - Jakarta, Blitarkawentar.jawapos.com – Pengamat Timur Tengah Faisal Asegaf memicu kontroversi baru terkait narasi perang Israel–Iran. Menurutnya, apa yang selama ini disebut sebagai “konflik Israel–Palestina” sebetulnya adalah bentuk nyata penjajahan Israel atas Palestina.

“Kalau disebut konflik, itu keliru. Konflik artinya setara. Padahal Palestina jelas-jelas dijajah oleh Israel. Maka narasi yang benar adalah penjajahan,” tegas Faisal dalam sebuah perbincangan di kanal YouTube yang kini viral.

Pernyataan tersebut menohok, karena berlawanan dengan istilah resmi yang biasa dipakai pemerintah, akademisi, hingga media internasional. Istilah “konflik Israel–Palestina” dianggap terlalu lunak, sementara Faisal menekankan aspek penjajahan yang sejalan dengan konstitusi Indonesia, bahwa “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan”.

Pengalaman Langsung di Medan Perang

Faisal Asegaf bukan orang baru dalam isu Timur Tengah. Ia mengaku pernah meliput langsung di Gaza tahun 2012, menyaksikan revolusi Libya hingga jatuhnya Khadafi, serta berkali-kali masuk ke Lebanon, Suriah, hingga Iran. Bahkan, ia pernah ditawan Hizbullah di Lebanon dan pasukan Kurdi di Suriah.

“Kalau untuk daerah perang memang berbahaya. Tapi buat saya, pengalaman jauh lebih berharga dari sekadar teori,” ujar Faisal.

Pengalamannya itu membuat Faisal punya sudut pandang berbeda soal konflik terbaru Israel–Iran. Menurutnya, keterlibatan Iran tidak bisa dilepaskan dari dukungan negeri itu terhadap Palestina.

Iran, Palestina, dan Serangan Balasan

Dalam pandangan Faisal, Iran adalah satu-satunya negara yang secara nyata membantu perjuangan Palestina, baik dalam bentuk pelatihan, pendanaan, maupun persenjataan. Ia menilai, negara-negara muslim lain hanya datang ketika perang usai, sebatas memberi bantuan kemanusiaan tanpa memberikan keadilan.

“Saudara-saudara kami bangsa Arab enggak ada yang membantu, cuma Iran,” kata Faisal, mengutip pernyataan Yahya Sinwar, pemimpin Hamas yang tewas pada 2024.

Faisal menjelaskan, serangan rudal Iran ke Israel pada Juni 2025 bukan sekadar aksi sepihak. Menurutnya, Israel lebih dulu menyerang Iran dengan dalih menghancurkan program nuklir. Bahkan, enam komandan senior Iran tewas dalam serangan mendadak tersebut.

Baca Juga: Ledakan Kilang Pertamina Dumai, Warga Panik Lari ke Luar Rumah

“Israel sengaja menyerang lebih dulu. Alasan utamanya intelijen dan upaya mengganti rezim anti-Zionis di Iran,” katanya.

Israel Dituding Terapkan Standar Ganda

Faisal juga menyoroti standar ganda dalam isu senjata nuklir. Iran, katanya, belum terbukti memiliki senjata nuklir, sementara Israel sudah lama memilikinya.

“Israel punya sekitar 200 bom nuklir. Tapi mereka menolak masuk Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Sebaliknya, Iran yang bersedia diaudit malah terus dituduh,” jelasnya.

Menurut Faisal, hal ini menunjukkan adanya propaganda besar untuk menekan Iran, sekaligus melanggengkan hegemoni Israel di kawasan Timur Tengah.

Dampak Serangan Iran ke Israel

Meski Israel berusaha menyensor kerusakan akibat serangan balasan Iran, Faisal meyakini sejumlah fasilitas militer mereka luluh lantak. Kota Tel Aviv dan Haifa disebut mengalami kerusakan parah akibat rudal hipersonik Iran yang mampu menembus sistem pertahanan Iron Dome.

“Kalau itu terbuka ke publik, mitos Israel sebagai negara paling kuat di Timur Tengah runtuh,” ujar Faisal.

Ia menambahkan, serangan Iran memberikan dampak psikologis besar bagi rakyat Palestina. Banyak yang bersorak saat rudal Iran menghantam Israel, karena untuk pertama kalinya dalam 52 tahun terakhir ada negara yang berani melawan Israel secara langsung.

Trump dan Gencatan Senjata

Menariknya, Faisal menyebut mantan Presiden AS Donald Trump ikut mendorong gencatan senjata. Trump disebut khawatir jika perang dibiarkan berlanjut, kota-kota penting Israel akan hancur total.

“Trump tahu kalau diteruskan, Tel Aviv bisa jadi seperti Gaza. Makanya dia serukan gencatan senjata,” ujar Faisal.

Baca Juga: Popeye sebagai Media Propaganda: Strategi Komunikasi Massa yang Mengubah Kebiasaan Makan

Pernyataan Faisal Asegaf ini sontak memicu perdebatan luas. Ada yang mendukung, menganggap narasinya lebih jujur terhadap fakta penjajahan Palestina. Namun tak sedikit pula yang menilai klaim tersebut berlebihan dan berpotensi memperkeruh situasi diplomasi.

Yang jelas, kontroversi ini menambah panas perbincangan soal Timur Tengah, sekaligus menegaskan betapa rumit dan sarat kepentingan konflik Israel, Iran, dan Palestina.

Editor : Anggi Septian A.P.
#faisal assegaf #palestina #Israel