BLITAR - Nama Faisal Asegaf belakangan ramai diperbincangkan usai pernyataannya tentang perang Israel–Iran yang viral. Namun, di balik analisis tajamnya, Faisal ternyata menyimpan pengalaman pribadi yang penuh risiko di medan konflik Timur Tengah.
Dalam perbincangan di kanal YouTube, Faisal blak-blakan mengaku pernah ditawan oleh Hizbullah di Lebanon dan pasukan Kurdi di Suriah. Ia bahkan sempat nyaris dieksekusi karena dianggap sebagai mata-mata Israel.
“Kalau ke daerah perang memang berbahaya. Saya pernah ditahan Hizbullah, pernah juga ditahan pasukan Kurdi. Mereka curiga, lalu berkata: you will die!,” kenang Faisal dengan tenang.
Nyaris Jadi Korban Salah Tuduh
Faisal menuturkan, saat itu situasi di Suriah sedang genting akibat perang sipil. Pasukan Kurdi curiga ia membawa identitas palsu dan menuduhnya bekerja untuk intelijen Israel.
“Buat mereka, orang asing yang memotret atau bertanya bisa dianggap mata-mata. Kalau salah sedikit, bisa ditembak di tempat,” ujarnya.
Beruntung, Faisal bisa meyakinkan mereka bahwa dirinya hanya seorang jurnalis yang sedang meliput situasi perang. Setelah beberapa jam interogasi, ia akhirnya dibebaskan. Namun pengalaman itu membuatnya menyadari betapa tipis jarak antara hidup dan mati di medan konflik.
Liputan Berbahaya di Gaza dan Libya
Selain ditawan, Faisal juga mengaku pernah masuk ke Gaza pada 2012. Ia menyaksikan langsung serangan Israel ke wilayah padat penduduk tersebut. Suara ledakan dan rudal yang jatuh hanya berjarak beberapa kilometer dari tempatnya menginap.
“Tidur di Gaza rasanya seperti tidur di kuburan. Kapan saja bisa kena bom,” katanya.
Tak hanya Gaza, Faisal juga meliput revolusi di Libya hingga jatuhnya Khadafi. Ia menggambarkan suasana di Tripoli saat itu penuh kekacauan, dengan milisi bersenjata menguasai jalanan dan saling berebut wilayah.
Baca Juga: Pemkot Blitar Mulai Siapkan Skema Perdagangan untuk BTC, Seperti Apa Bentuknya?
“Di Tripoli, saya masuk ke apartemen yang penuh peluru nyasar. Itu pengalaman yang tak mungkin saya lupakan,” ujar Faisal.
Risiko Profesi Jurnalis Perang
Kisah Faisal Asegaf ini menggambarkan betapa berisikonya profesi jurnalis yang terjun langsung ke medan perang. Tidak hanya menghadapi ancaman bom dan peluru, tapi juga risiko penculikan, salah tuduh, hingga penyiksaan.
“Kalau cuma baca dari buku, teori, atau media, kita tidak bisa merasakan realitas sebenarnya. Makanya saya memilih terjun langsung,” jelasnya.
Menurut Faisal, pengalaman tersebut membuatnya punya perspektif berbeda dibanding analis politik yang hanya membaca dari laporan. Ia percaya, kebenaran konflik tidak bisa dipahami hanya dari jarak jauh.
Antara Keberanian dan Nekat
Meski penuh risiko, Faisal mengaku tidak menyesal. Ia merasa pengalaman itu membuat dirinya lebih berani bersuara, termasuk ketika menyebut perang Israel–Palestina sebagai penjajahan.
“Kalau orang bilang saya nekat, mungkin benar. Tapi bagi saya, kebenaran harus dicari langsung di lapangan,” ungkapnya.
Pengakuan Faisal Asegaf ini sontak jadi sorotan publik. Banyak yang kagum dengan keberaniannya, namun tak sedikit pula yang menilai aksinya berisiko tinggi. Apalagi, tidak banyak jurnalis Indonesia yang berani masuk ke zona merah Timur Tengah.
Bagi Faisal, semua itu adalah bagian dari perjalanan hidup dan panggilan profesi. Ia menutup ceritanya dengan satu kalimat singkat:
“Jurnalisme bukan soal aman atau nyaman. Jurnalisme itu soal kebenaran, meski taruhannya nyawa.”
Editor : Anggi Septian A.P.