BLITAR - Pengamat Timur Tengah Faisal Asegaf menyebut serangan rudal Iran ke Israel pada Juni 2025 sebagai momen bersejarah. Untuk pertama kalinya dalam 52 tahun, ada negara yang berani menyerang Israel secara langsung.
“Sejak Perang Yom Kippur 1973, tidak ada lagi negara yang berani melawan Israel secara frontal. Iran memecahkan tabu itu. Hasilnya, Israel kocar-kacir,” tegas Faisal dalam perbincangan yang viral di media sosial.
Serangan Balasan Iran yang Mengejutkan
Menurut Faisal, Iran meluncurkan ratusan rudal hipersonik ke wilayah Israel sebagai balasan atas serangan mendadak yang sebelumnya menewaskan enam komandan senior mereka.
Rudal-rudal itu menghantam sejumlah fasilitas militer strategis, termasuk di Tel Aviv dan Haifa. Meski Israel berusaha menutup informasi ke publik, Faisal yakin kerusakan yang ditimbulkan cukup parah.
“Kalau kerusakan itu dibuka, publik dunia akan tahu Israel bukan negara yang tak terkalahkan. Mereka panik, Iron Dome jebol, bahkan kota-kota penting porak-poranda,” ujarnya.
Mitos Israel Mulai Runtuh
Selama ini Israel dikenal sebagai kekuatan militer terbesar di Timur Tengah, dengan teknologi canggih dan dukungan penuh Amerika Serikat. Namun serangan Iran membuat citra itu goyah.
“Orang selalu menganggap Israel tak bisa dikalahkan. Tapi Iran membuktikan sebaliknya. Ini titik balik,” kata Faisal.
Ia menilai, serangan tersebut tidak hanya meruntuhkan mitos militer Israel, tapi juga mengguncang psikologis rakyatnya. Banyak warga Israel yang kabur ke tempat perlindungan bawah tanah selama serangan berlangsung.
Harapan Baru untuk Palestina
Bagi rakyat Palestina, serangan Iran dianggap sebagai angin segar. Mereka melihat ada negara yang berani pasang badan melawan dominasi Israel.
“Selama ini Palestina berjuang sendirian. Negara Arab lain hanya memberi bantuan setelah perang selesai. Iran beda, mereka benar-benar turun tangan,” jelas Faisal.
Ia menyebut euforia rakyat Palestina saat rudal Iran menghantam Israel sangat nyata. Bagi mereka, serangan itu adalah simbol bahwa penindasan tidak selamanya bisa bertahan.
Dampak Geopolitik Global
Serangan Iran ini juga memicu reaksi internasional. Amerika Serikat dan Eropa menyerukan gencatan senjata, sementara Donald Trump bahkan ikut angkat suara.
“Trump takut kalau perang berlanjut, Tel Aviv bisa jadi seperti Gaza. Makanya dia mendorong gencatan senjata secepatnya,” ungkap Faisal.
Selain itu, Faisal menilai langkah Iran akan memengaruhi peta politik global. Negara-negara yang selama ini diam bisa terdorong untuk mengambil sikap lebih berani terhadap Israel.
Kontroversi dan Pro-Kontra
Meski banyak pihak kagum pada keberanian Iran, ada juga yang menilai langkah itu berisiko memperluas perang di kawasan. Apalagi, Israel memiliki senjata nuklir yang bisa memicu eskalasi lebih besar.
Namun bagi Faisal Asegaf, serangan Iran sudah menjadi penanda penting. “Selama 52 tahun, dunia takut pada Israel. Sekarang ketakutan itu pecah. Ini momentum baru,” pungkasnya.
Editor : Anggi Septian A.P.