BLITAR – DV, pelajar asal Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, babak belur hingga mengalami retak tulang hidung. Kondisi itu terjadi usai DV dihajar kakak kelasnya di lingkungan SMKN 1 Kademangan pada 18 September lalu. Kabarnya, pelaku mengundurkan diri dari sekolah sebelum bertanggung jawab terhadap tindakannya.
Istiani, ibu korban, mengatakan bahwa kabar tidak mengenakkan itu datang 4 jam setelah mengantarkan DV ke sekolah. Dia tiba-tiba menerima telepon dari pihak sekolah dan dikabarkan bahwa buah hatinya sudah berada di Puskesmas Kademangan. Istiani langsung pergi ke fasilitas kesehatan tersebut dan mengetahui wajah anaknya sudah berlumuran darah.
“Saat itu, anak saya mengaku baru saja dipukul oleh kakak kelasnya tanpa sebab apa pun. Temannya juga menyatakan DV hanya duduk bermain ponsel di depan kelas. DV memang melihat teman atau orang lain yang lewat, tiba-tiba dipukul oleh pelaku berinisial FM,” ujarnya.
Saat itu, kondisi di lokasi kejadian ramai kegiatan pelajar. Sebab bertepatan dengan kegiatan Dies Natalis SMKN 1 Kademangan. Tentu banyak teman-teman pelaku maupun korban yang melihat kejadian tragis tersebut. Istiani menceritakan bahwa anaknya harus dilarikan ke Rumah Sakit Aminah di Kota Blitar untuk ct scan luka di hidungnya.
Hasilnya, DV mengalami retak pada tulang hidung dan sempat dilakukan perawatan intensif selama tiga hari di rumah sakit. Hampir tiga minggu area hidung DV dibungkus perban. “Sampai saat ini anak saya tidak ingin sekolah. Karena merasa trauma akibat peristiwa tersebut. Rencananya, saya ikutkan kejar paket C agar lebih aman bagi kesehatan mentalnya,” tuturnya.
Usai pulang dari rumah sakit, wali kelas DV mengajak FM untuk mengunjungi rumah korban. FM berniat meminta maaf dan sebenarnya DV memaafkan. Namun, permasalahan belum selesai dengan hal itu. Pihak keluarga korban ingin ada tanggung jawab dari pelaku terhadap pembiayaan perawatan DV.
Sayangnya, setelah pertemuan tersebut, sampai sekarang FM tidak ada kabar lagi. Bahkan, Istiani mengetahui dari pihak sekolah bahwa FM sudah mengundurkan diri dari sekolah. “Anak saya dan pelaku ini tidak kenal. Saat pelaku datang ke rumah sakit, saya tanya kenapa dia memukul, jawabnya ‘saya khilaf saja karena banyak pikiran’. Katanya waktu itu mau tanggung jawab, tapi sampai sekarang justru menghilang, makanya kami melaporkan kasus ini ke polisi,” ungkapnya.
Sementara itu, pihak sekolah enggan memberikan keterangan terkait pemukulan yang terjadi di acara dies natalis tersebut. Waka Humas SMKN 1 Kademangan, M. Taufik Hidayat, menyebut enggan untuk memberikan statement perihal kasus itu. “Saya tidak berkenan untuk memberikan statement terkait hal itu. Karena bukan hal baik bagi sekolah,” pungkasnya. (jar/c1/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah