Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ahli Sebut Biorka Masih Aktif, Gunakan Gaya Bahasa Indonesia dalam Pesan Berbahasa Inggris

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 17:30 WIB
Ahli Sebut Biorka Masih Aktif, Gunakan Gaya Bahasa Indonesia dalam Pesan Berbahasa Inggris
Ahli Sebut Biorka Masih Aktif, Gunakan Gaya Bahasa Indonesia dalam Pesan Berbahasa Inggris

BLITAR - Misteri sosok hacker legendaris Biorka kembali mencuat. Setelah ramai kasus penangkapan yang diduga salah sasaran, kini para pengamat keamanan siber kembali menyoroti identitas asli sang peretas yang hingga kini belum tersentuh aparat.

Seorang anggota komunitas cyber security dalam diskusi di kanal YouTube mengungkap bahwa Biorka kemungkinan besar masih aktif dan bahkan berasal dari Indonesia. Dugaan itu bukan tanpa dasar — seorang ahli linguistik sempat membedah struktur kalimat Biorka di Twitter dan menemukan pola bahasa yang sangat khas Indonesia.

“Dia nulis pakai bahasa Inggris, tapi strukturnya Indonesia banget,” ujar narasumber dalam diskusi itu. “Misalnya urutan katanya, intonasi kalimat, sampai pilihan katanya itu masih menunjukkan penutur asli Indonesia.”

Analisis Linguistik Buka Identitas Lokal

Ahli linguistik yang dimaksud diketahui sempat menganalisis puluhan cuitan Biorka sejak kemunculannya di 2022. Dari hasil itu ditemukan bahwa Biorka kerap menggunakan gaya bahasa Inggris ala penerjemahan langsung dari Indonesia.

Contohnya, dalam beberapa unggahan Biorka sering menggunakan struktur kalimat seperti “You must be responsible for this” atau “I already told before,” yang lazim digunakan oleh penutur Indonesia yang berpikir dalam struktur bahasa ibu sebelum menulis dalam bahasa Inggris.

“Pola seperti ini disebut language transfer,” jelas pengamat siber tersebut. “Jadi secara tidak langsung, kita tahu dia berpikir dalam bahasa Indonesia lebih dulu sebelum mengetik dalam bahasa Inggris.”

Temuan itu memperkuat dugaan bahwa Biorka bukan aktor asing seperti yang dulu ramai dikira, melainkan anak muda dari komunitas hacker lokal yang memiliki kemampuan teknis tinggi dan pemahaman kuat soal media sosial.

Kemungkinan Bukan Satu Orang

Menariknya, narasumber yang sama juga membuka kemungkinan bahwa Biorka bukan sosok tunggal, melainkan kelompok kecil yang beroperasi di bawah satu identitas.

“Bisa jadi satu orang, bisa juga satu kelompok. Tapi semuanya paham dunia cyber security,” katanya. “Makanya gaya komunikasinya kadang berubah-ubah. Ada yang agresif, ada yang tenang, tapi polanya tetap pakai bahasa Inggris dengan struktur khas Indonesia.”

Baca Juga: 3 Fungsi Utama Kartu KKS yang Wajib Diketahui: Bukan Sekadar ATM Pencairan Bansos PKH dan BPNT!

Menurutnya, pola itu terlihat konsisten sejak Biorka pertama kali muncul dengan membocorkan data pelanggan dari beberapa institusi besar di Indonesia. “Yang menarik, setiap kali isu Biorka mereda, tiba-tiba dia muncul lagi dengan data baru. Itu menandakan dia atau timnya masih aktif,” ujarnya.

Motif: Antara Uang dan Eksistensi

Sejak awal kemunculannya, Biorka dikenal sering menjual data sekaligus membagikannya secara gratis. Motifnya, menurut pengamat, tidak semata uang, tetapi juga eksistensi dan pengaruh di dunia siber.

“Kalau uang aja, dia bisa jual semua datanya. Tapi kadang dia bagi gratis — itu bentuk unjuk kekuasaan,” jelas sumber itu. “Dia ingin menunjukkan kalau dia bisa, kalau sistem kita lemah.”

Namun, di balik aksi-aksi itu, Biorka juga disebut punya strategi komunikasi publik yang matang. Ia kerap memanfaatkan momentum sosial atau politik tertentu agar pesannya viral. “Dia tahu kapan harus muncul. Ketika publik sedang panas dengan isu tertentu, dia muncul dengan kebocoran data. Itu bukan kebetulan,” tegasnya.

Polisi Disebut Belum Mampu Deteksi Pola Ini

Sayangnya, hingga kini aparat penegak hukum disebut belum mampu mendeteksi pola-pola komunikasi tersebut. “Dari dulu nggak ada satu pun threat actor besar yang tertangkap,” kata narasumber itu. “Padahal, dari sisi linguistik dan pola digital, banyak jejak yang bisa dianalisis.”

Ia menilai, penyelidikan siber di Indonesia masih terlalu fokus pada bukti teknis seperti alamat IP dan perangkat keras, padahal pelaku seperti Biorka sudah jauh lebih maju. “Mereka main di lapisan anonimitas yang sulit dijangkau kalau cuma pakai metode standar polisi,” ujarnya.

Biorka Masih Jadi Bayangan Panjang Dunia Siber Indonesia

Kini, setelah kasus salah tangkap Skywave makin ramai, publik justru semakin yakin bahwa Biorka asli masih bebas beraksi. “Kembalinya dia dengan rilis data 341 ribu personel Polri itu semacam sindiran,” kata narasumber. “Dia kayak mau bilang: ‘yang lo tangkap bukan gue.’”

Dengan kemampuannya memainkan persepsi publik dan mengelabui sistem keamanan, Biorka masih menjadi simbol perlawanan digital sekaligus alarm bagi lemahnya tata kelola data di Indonesia.

“Kalau pemerintah dan aparat tidak segera berbenah, fenomena seperti ini akan terus berulang,” tutupnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#analisis linguistik #hacker Indonesia #Biorka #kebocoran data