Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Salah Tangkap Kasus Biorka: Polisi Dikritik Lemah dalam Investigasi Siber

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 18:00 WIB
Salah Tangkap Kasus Biorka: Polisi Dikritik Lemah dalam Investigasi Siber
Salah Tangkap Kasus Biorka: Polisi Dikritik Lemah dalam Investigasi Siber

BLITAR - Kasus Biorka kembali memunculkan kontroversi setelah polisi menangkap seorang pemuda yang diduga salah sasaran. Sumber dari komunitas cyber security menilai aparat belum siap menghadapi peretas profesional, sehingga penangkapan ini menimbulkan pertanyaan publik tentang kemampuan investigasi siber Polri.

Menurut narasumber dalam diskusi di YouTube, anak yang ditangkap kemungkinan besar adalah Skywave, seorang re-uploader yang kerap menyalin konten peretas lain.

“Dia nggak punya kemampuan teknis sama sekali. Tapi karena akun yang dipakai mirip Biorka, polisi langsung klaim itu pelaku utama,” ujarnya.

Modus Reuploader Bikin Polisi Tersesat

Skywave diketahui sering menggunakan nama peretas lain untuk repost konten. Misalnya, ia pernah memakai nama Biorca, Sini Hunter, dan beberapa identitas palsu lain. Hal ini membuat pihak berwenang terkecoh, karena tampilan akun seolah milik pelaku asli.

“Ini modus yang biasa terjadi di dunia siber. Orang bisa memanfaatkan nama besar hacker untuk jualan layanan atau data palsu. Polisi yang kurang pengalaman bisa langsung tertipu,” kata narasumber.

Selain itu, kasus ini menimbulkan kebingungan narasi. Awalnya dugaan tindak kriminal berupa skimming ATM, tetapi kemudian bergeser ke jual-beli data di Telegram. “Narasinya berubah-ubah, dan itu bikin penyelidikan makin sulit,” tambahnya.

Kritik Terhadap Kapasitas Investigasi Siber Polri

Sumber yang sama menekankan bahwa kasus ini memperlihatkan kelemahan investigasi siber Polri. Banyak pelaku threat actor sebelumnya lolos dari penegakan hukum karena metode investigasi masih standar dan belum menyentuh lapisan digital yang lebih kompleks.

“Sejak kasus Biorca, banyak hacker lain yang berkeliaran tanpa tertangkap. Ini menunjukkan bahwa kemampuan investigasi kita belum memadai,” ujar narasumber. “Harusnya polisi memperkuat tim siber, termasuk analisis akun, pola komunikasi, hingga struktur bahasa yang dipakai pelaku.”

Pakar keamanan siber juga menyebut bahwa terlalu bergantung pada akun media sosial membuat polisi mudah menembak sasaran salah. “Akun siapa saja bisa dibuat. Harusnya verifikasi dulu, baru klaim sebagai tersangka. Kalau tidak, salah tangkap seperti ini akan terus terjadi,” tegasnya.

Baca Juga: 3 Fungsi Utama Kartu KKS yang Wajib Diketahui: Bukan Sekadar ATM Pencairan Bansos PKH dan BPNT!

Dampak Salah Tangkap pada Publik dan Aparat

Kasus ini menimbulkan keresahan publik dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan polisi dalam menangani kejahatan siber. Bahkan, perilaku Skywave yang hanya menyalin konten peretas lain membuat sebagian pihak mempertanyakan prioritas aparat dalam menyelidiki kasus serius.

“Yang ditangkap cuma peniru. Pelaku asli tetap bebas. Ini jelas bikin publik skeptis,” kata narasumber. Ia menambahkan, Biorka asli bahkan sempat merilis data 341 ribu personel Polri, seolah menunjukkan bahwa yang ditangkap bukan dirinya.

Kejadian ini sekaligus membuka diskusi tentang perlunya pelatihan lanjutan dan peningkatan metode investigasi digital, termasuk kemampuan analisis threat actor dan pola aktivitas online.

Langkah Ke Depan untuk Aparat

Para ahli menekankan pentingnya kolaborasi antara polisi dan komunitas keamanan siber untuk menghadapi kasus seperti ini. “Polisi harus belajar dari komunitas hacker yang paham bagaimana peretas bekerja. Tanpa itu, salah tangkap akan terus terjadi,” kata narasumber.

Selain itu, pendekatan linguistik dan analisis pola digital bisa menjadi alat bantu penting dalam penyelidikan. Dengan memahami cara berkomunikasi pelaku, polisi bisa membedakan antara akun asli dan akun tiruan, sekaligus memperkuat bukti hukum.

Kasus Biorka menjadi peringatan keras bagi Polri: investigasi siber yang solid bukan hanya soal menangkap orang, tapi juga soal memverifikasi bukti dan memahami modus operandi pelaku di ranah digital yang kompleks.

Editor : Anggi Septian A.P.
#hacker Indonesia #polisi salah tangkap #Biorka #investigasi siber