Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kasus Menantu Bunuh Mertua di Blitar, Psikolog Sebut Dipicu Tekanan Ekonomi-Konflik Berkepanjangan

Fajar Rahmad Ali Wardana • Minggu, 1 Februari 2026 | 09:00 WIB
Ilustrasi pembunuhan.
Ilustrasi pembunuhan.

BLITAR KAWENTAR – Kasus pembunuhan menantu perempuan terhadap mertua yang terjadi di Desa Gandekan, Kecamatan Wonodadi, menjadi sorotan publik.

Dari sisi psikologis, peristiwa tragis tersebut dipicu oleh akumulasi konflik rumah tangga, tekanan ekonomi, hingga kegagalan regulasi emosi pelaku.

Psikolog RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Yeni Rofiqoh menjelaskan, kondisi psikis seseorang sangat memengaruhi perilaku anarkis.

Dalam kasus ini, usia tersangka yang masih sangat muda dinilai menjadi salah satu faktor utama. “Usia tersangka masih 21 tahun, sementara korban berusia sekitar 70 tahun. Regulasi emosi pada usia muda memang belum stabil, apalagi jika didukung kondisi ekonomi dan sosial yang tidak menguntungkan,” ujarnya.

Yeni melanjutkan, tekanan ekonomi kerap menjadi pemicu konflik dalam relasi keluarga, termasuk hubungan mertua dan menantu. Apalagi jika relasi tersebut sejak awal sudah tidak harmonis.

Selain faktor usia dan ekonomi, latar belakang pendidikan serta perbedaan budaya juga turut memperkeruh keadaan.

Diketahui, tersangka bukan berasal dari Jawa Timur, sehingga perbedaan cara berkomunikasi, menghormati, dan menghargai menjadi potensi konflik.

Yeni juga menyoroti, kemungkinan adanya luapan emosi akibat cacian atau tekanan verbal dari mertua.

Dari informasi yang berkembang, konflik antara korban dan tersangka bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan telah berlangsung sebelumnya.

“Perbedaan latar belakang daerah itu penting. Cara bicara, cara menyampaikan pendapat, hingga nilai menghormati orang tua bisa berbeda. Jika tidak ada penyesuaian, konflik mudah terjadi. Kalau melihat dari pemberitaan, sudah ada cekcok dan konflik yang tidak pernah benar-benar selesai. Hal-hal kecil dalam keseharian yang terus berulang, akhirnya memicu ledakan emosi,” ungkapnya.

Menurutnya, konflik antara mertua dan menantu sebenarnya cukup wajar terjadi dalam rumah tangga.

Keduanya sama-sama berada pada fase penyesuaian dengan latar belakang yang berbeda. Namun, konflik menjadi berbahaya ketika tidak diimbangi dengan saling pengertian.

Sering terjadi saat ini, orang tua sering merasa harus dituruti, sementara anak muda punya cara berpikir sendiri.

Ketika tidak ada kesepahaman dan saling menghargai, konflik akan terus berulang. Karakter generasi Z yang cenderung lebih terbuka dalam menyampaikan keluhan juga bisa menjadi bumerang jika tidak dipahami dengan baik oleh generasi yang lebih tua.

Dalam kondisi tersebut, peran suami dinilai sangat krusial. Sebagai pihak yang berada di tengah, suami seharusnya mampu menjadi jembatan komunikasi antara istri dan keluarga besarnya.

Sebab, suami membawa istrinya ke dalam keluarga besar. Artinya, dia harus siap memberikan pengertian kepada kedua belah pihak tentang perbedaan yang ada.

“Jika suami hanya menjadi penonton, konflik bisa berkepanjangan,” tegasnya.

Menurut Yeni, suami seharusnya mampu memberi batasan kepada istri tentang hal-hal yang sensitif bagi orang tua, sekaligus memberi pemahaman kepada orang tua bahwa perbedaan sikap menantu bukan berarti bentuk perlawanan.

“Jika sejak awal tidak ada upaya penyesuaian dan komunikasi, konflik seperti ini bisa berujung fatal,” pungkasnya. (jar/ynu)

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#faktor pemicu #psikis #mertua #blitar #pembunuhan #Polres Blitar Kota #ekonomi #psikolog #menantu #Wonodadi #konflik #rumah tangga