BLITAR - Habib Ahmad bin Alwi Assegaf berasal dai Hadramaut, Yaman, kemudian berdakwah ke Indonesia, tepatnya di daerah Pati, Jawa Tengah.
Hingga kini, belum diketahui secara pasti tahun berapa tokoh tersebut mulai bermukim di wilayah Blitar.
Meski demikian, beliau diketahui wafat pada tahun 1951 M. Makamnya berada di sebelah barat Masjid Riyadlush Sholihin, Desa Tuliskriyo, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar.
“Peziarahnya banyak dari luar maupun Blitar sendiri. Tiap malam Selasa dan Malam Jumat Legi, ada wiridan jemaah dan masyarakat,” tutur perempuan yang masih kerabat tokoh tersebut, Kholis, Rabu (27/3/2024).
Habib Ahmad bin Alwi Assegaf melakukan syiar Islam di Blitar diperkirakan sekitar tahun 1940 hingga 1950 M.
Menurut silsilah yang ada, Habib dipercaya sebagai keturunan Nabi Muhammad ke-34 yang berasal dari Hadramaut Yaman.
Semasa hidup ia terkenal sebagai sosok santun dan dermawan. Selain itu, menjunjung tinggi budaya lokal sehingga dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.
Beliau juga kerap dimintai fatwa oleh pemerintah Blitar. “Dulu syiarnya sambil berdagang, ada kain, macam-macam pokoknya.
Beliau dekat dengan pedagang emas dari suku Banjar, hingga kini yang ziarah dari keturunan-keturunan Banjar masih banyak. Pemerintah Blitar juga sering minta arahan,” tutur Kholis, Rabu (27/03).
Beliau juga akrab dengan saudagar Tionghoa di wilayah Blitar dan Tulungagung. Sikapnya yang tidak memaksakan agama pada non-muslim membuatnya dapat merangkul semua kalangan. Karena itu, beliau semakin dikenal.
Cucu Habib Ahmad bin Alwi Assegaf, Habib Husein bin Alwi Assegaf, bersama masyarakat Tuliskriyo kini mendirikan yayasan pendidikan Islam yang dinamai Tarbiyatul Uquul.
Yayasan tersebut diketahui memiliki cabang di beberapa kota seperti Malang, Pamekasan, dan Pasuruan.
Selain menjadi tempat pendidikan formal, yayasan tersebut juga menjadi tempat TPQ dan madrasah diniyah ketika sore hingga malam.
“Berharap Haul Habib Ahmad bin Alwi Assegaf yang sebelumnya rutin digelar tiap 5 tahun sekali dapat terlaksana lagi,” katanya. (mg3/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila