Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengenal Jaranan Jur, Kesenian Asli Blitar yang Usianya 1 Abad, Ternyata Ada Kaitan Erat dengan Gong Kyai Pradah

Fajar Rahmad Ali Wardana • Rabu, 25 September 2024 | 20:00 WIB
LESTARI : Penampilan Jaranan Jur pada hajatan di Desa Sukorejo  Kecamatan Sutojayan, beberapa waktu lalu.
LESTARI : Penampilan Jaranan Jur pada hajatan di Desa Sukorejo Kecamatan Sutojayan, beberapa waktu lalu.

BLITAR - Masyarakat patut berbangga dengan kesenian yang dimiliki oleh Kabupaten Blitar. Sebab, salah satu kesenian, yakni Jaranan Jur baru saja mendapatkan penghargaan warisan budaya tak benda (WBTB) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Penghargaan itu diterima langsung oleh ketua paguyuban Budi Santosa awal September.

Ternyata kesenian jaranan jur ini sudah cukup tua di Jawa Timur, dibandingkan dengan jaranan atau kesenian lainnya.

Sebab, jaranan jur sudah ada sejak 1921 dengan lebih dulu bernama jaranan Ngasinan yang berasal dari Desa Sukorejo, Kecamatan Sutojayan.

Dinamakan Jaranan Ngasinan karena di Sukorejo ini dulu ada tempat sumber mata air dan tetap mengalir meskipun musim kemarau panjang.

Sumber itu dimanfaatkan oleh para petani dan peternak kala itu. Namun, air dari sumur terasa asin, sehingga disebut Jaranan Ngasinan

“Penamaan jaranan jur ini lekat dengan Gong Kyai Pradah. Sejarahnya cukup panjang dan ada kaitannya dengan Kerajaan Jenggolo serta kisah Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun.,” ujar Budi yang ditemui di rumahnya, Selasa (24/9).

Pada 1949, nama Jaranan Ngasinan berganti menjadi Jaranan Jur. Nama itu berkaitan dengan cerita rakyat tentang ditemukannya Gong Kyai Pradah yang telah menghilang dan dapat dipindahkan ke Sanggar Pusaka menggunakan arak-arakan jaranan.

Pada saat itu Jaranan yang menjadi pengiring adalah Jaranan Ngasinan dari Sukorejo atau Jaranan Jur.

Sesepuh Jaranan Jur Ngasinan konon terdapat suatu legenda Lodoyo berupah hilangnya pusaka Gong Kyai Pradah. Pada tahun 1949 Gong Kyai Pradah ditemukan di rumah Mbok Rondo Dadapan.

Namun ketika ditemukan, Mbok Rondo Dadapan memanjat dan memetik buah kelapa. Akan tetapi, buah kelapa tidak jatuh lurus ke bawah melainkan ke kanan dan kekiri.

Hal ini yang membuat penasaran pembantu dan melihat kebawah terdapat puncu dari pusaka Gong Kyai Pradah.

Baca Juga: Jamasan Gong Kiai Pradah di Alun-Alun Lodoyo Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat Blitar, Ini Pesan Bupati

Tidak seorang pun yang bisa memindahkan pusaka itu, dan terdapat Dewi Sekartaji yang bermimpi Gong Kyai Pradah dapat di boyong ke sanggar pusaka dengan arak-arakan Jaranan Jujur.

 Maka dari itu, jaranan dari Desa Sukorejo yang dapat memboyong Gong Kyai Pradah dan menjadi arak-arakan sampai ke sanggar pusaka. Hingga saat ini Jaranan Jur Ngasinan menjadi salah satu bagian dari acara ritual Siraman Gong Kyai Pradah.

“Nama Jur ini didapat setelah Mbok Rondo Dadapan memetik buah kelapa dan jatuhnya dapat langsung ke bawah atau jujur. Dulu nama desa bukan Sukorejo, tetapi Desa Sukoanyar. Berganti Desa Sukorejo pada 1971,” ungkapnya.

Kata "Jur" memiliki arti Jujur sehingga baik dalam per-tunjukan dan pemainnya harus memiliki sifat jujur. Selain itu, dengan nama "Jur" menjadi tanda bahwa pemain jaranan tidak diperbolehkan untuk minum-minuman keras, bermain judi dan dianjurkan menjunjung tinggi kejujuran. Maka dari itu pelaku kesenian ini menjunjung tinggi kesakralan jaranan jur.

Untuk melestarikan jaranan yang sudah berusia 102 tahun ini, latihan terus dilakukan. Beberapa pertunjukkan seni juga diikuti untuk melestarikan jaranan ini. Apalagi kesenian ini menjadi iringan wajib jamasan Gong Kyai Pradah. Beberapa kali kesenian ini juga menjadi kesenian wajib untuk acara bersih Desa Sukorejo.

Kesenian Jaranan Jur ini juga dapat tampil untuk memenuhi undangan hajatan, terutama nadzar. Uniknya, mereka tidak meminta untuk diberi uang imbalan, hanya saja harus dipenuhi sesaji ubo rampe dalam penampilannya.

“Diraihnya penghargaan WBTB ini menjadi kebanggaan sendiri bagi masyarakat Kabupaten Blitar, khususnya Desa Sukorejo karena kesenian ini paling tua. Selain itu, WBTB menjadi tambahan semangat bagi 20 anggota Jaranan Jur ini,” pungkasnya. (*/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kabupaten Blitar #Kecamatan Sutojayan #jaranan jur #warisan budaya tak benda (WBTB)