Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah Monumen Operasi Trisula Bakung Tahun 1968, Kuatnya ABRI, Tumpas Basis PKI di Blitar Selatan

Muhamad Ilham Baha’udin • 2024-10-07 17:07:44

 

BERJASA: Kolonel Witarmin, komandan yang ditugaskan untuk menumpas sisa-sisa orang PKI di wilayah Blitar Selatan pada 1968 lewat Operasi Trisula.
BERJASA: Kolonel Witarmin, komandan yang ditugaskan untuk menumpas sisa-sisa orang PKI di wilayah Blitar Selatan pada 1968 lewat Operasi Trisula.

BLITAR - Desa/Kecamatan Bakung yang masuk dalam wilayah Blitar Selatan pernah menjadi jantung kegiatan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Untuk menumpas hal itu, diangkatlah para pamong-pamong desa baru untuk mendukung operasi intelijen dan operasi teritorial di Blitar Selatan.

“Para pamong desa di Blitar Selatan itu terdiri dari care taker ABRI, pada 1968, berjumlah 144 orang,” dikutip dari Buku Sejarah Daerah Jawa Timur, 1978.

Pada 20 Mei 1968 dibentuk posko operasi pembinaan teritorial sipil yang dipimpin oleh bupati/kepala daerah Kabupaten Blitar, Sanoesi Prawirodihardjo. Dengan tugas melancarkan 3P, yakni pendidikan, pangan, dan prasarana.

Dari operasi tersebut, Kodam VIII/Brawijaya mendapat kesimpulan bahwa perlu meningkatkan dan mengintensifkan operasi penghancuran proyek basis PKI Blitar Selatan.

Akhirnya dilancarkan Operasi Trisula di bawah pimpinan Kolonel Witarmin yang dimulai pada 31 Mei 1968.

Operasi Trisula dilancarkan sekitar dua bulan dan berhasil menghancurkan kubu-kubu pertahanan serta proyek basis PKI gaya baru.

Selain itu, tokoh-tokoh PKI yang menghimpun kekuatan di Blitar Selatan seperti Rewang, Ruslan Widjajasatra, dan Oloan Hutapea, berhasil ditangkap hidup atau mati.

Tahun itu, wilayah Blitar Selatan menjadi bagian kelam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia. Kekuatan TNI yang diturunkan untuk menumpas sisa-sisa kekuatan PKI berhasil dengan gemilang.

Untuk mengenang peristiwa itu, maka didirikanlah Monumen Trisula yang terletak di Desa/Kecamatan Bakung yang bisa dikunjungi hingga kini.

Sementara itu, penjaga Monumen Trisula, Sukamto mengatakan, monumen tersebut sempat menjadi jujukan bagi para pelajar hingga mahasiswa untuk belajar sejarah PKI yang ada di Desa Bakung.

Tak jarang dalam sehari bisa menerima puluhan hingga ratusan pengunjung yang hendak mempelajari dan memahami berbagai arsip serta peninggalan bersejarah.

“Belajar sejarah itu penting, khususnya bagi anak muda, agar betul-betul paham bagaimana sejarah di masa lalu. Sehingga bisa semakin menghargai dan mencintai negara ini,” pungkasnya. (ham/c1/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#blitar selatan #partai komunis indonesia #trisula