Desa Gaib di Perbatasan Blitar? Kisah Pemotor yang Tersesat di Malam Hari
Axsha Zazhika• Kamis, 10 Juli 2025 | 04:30 WIB
Desa Gaib di Perbatasan Blitar? Kisah Pemotor yang Tersesat di Malam Hari
BLITAR – Perjalanan pulang dua sejoli dari Malang menuju Kediri pada suatu malam di tahun 2015, menjadi pengalaman tak terlupakan dan penuh misteri. Rendra dan Tika, dua mahasiswa asal Kediri, semula hanya ingin membeli buku di kawasan Pasar Wilis, Malang.
Namun keputusan untuk melewati jalur alternatif menuju Blitar malah membawa mereka ke pengalaman supranatural, bertemu dengan desa gaib yang tak lagi mereka temukan saat pagi hari.
Rendra dan Tika berangkat dari Kediri pukul 08.00 pagi. Setelah belanja dan menikmati waktu di Malang, hujan deras mengguyur menjelang sore hingga memaksa mereka berteduh dan baru melanjutkan perjalanan sekitar pukul 19.00 malam. Menghindari jalur Ngantang yang penuh hutan dan tebing curam, mereka memilih jalur memutar lewat Blitar atas saran seorang pemilik warung makan.
Namun, perjalanan malam itu tidak semudah yang mereka kira. Jalanan sepi dan gelap, nyaris tanpa penerangan.
Sekitar pukul 20.30, mereka melihat sosok misterius berdiri di tengah jalan terlihat seorang nenek tua berpakaian kebaya dengan wajah menyeramkan dan mata merah menyala. Rendra nyaris menabraknya, tapi saat motor melewati tubuh sang nenek, ternyata sosok itu tembus, seperti tak nyata.
Tika langsung syok. Mulutnya bungkam, wajahnya linglung. Rendra pun berusaha menenangkannya dan melanjutkan perjalanan. Tak lama, mereka tiba di sebuah kios buah berdiri sendirian di tengah hutan.
Seorang pria tua di sana langsung menyodorkan dua buah apel dan menyuruh mereka memakannya. Tanpa sadar, mereka memakan apel itu hingga habis dan membeli dua kilogram tambahan. Apel-apel itu kemudian disimpan di bawah jok motor mereka.
Yang aneh, setelah perjalanan berlanjut, barulah Rendra tersadar, kios itu berdiri sendiri, jauh dari keramaian. Tidak ada kios lain, tidak ada bangunan lain, hanya hutan lebat. "Kok bisa ya ada penjual buah sendirian di tengah hutan, malam-malam begini?" gumam Rendra dalam hati.
Perjalanan mereka berlanjut hingga akhirnya Rendra memutuskan untuk putar balik karena tidak menemukan jalan keluar. Tapi saat hendak berbalik arah, ia melihat dari kejauhan ada cahaya lampu-lampu kelap-kelip. Mereka pun mengikuti arah cahaya itu. Semakin dekat, cahaya itu ternyata berasal dari sebuah desa.
"Begitu kami masuk, desa itu tampak seperti kampung biasa. Ada pos ronda dengan lima orang bapak-bapak duduk, ada anak-anak main layangan, bahkan ada ibu-ibu pulang dari pasar," ujar Rendra saat bercerita kembali.
Namun, suasana desa itu terasa ganjil. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, tapi warga desa tampak beraktivitas seperti siang hari. Tak ada satu pun dari mereka yang menoleh ke arah Rendra dan Tika, meski motor mereka melintasi jalan desa.
Saat Rendra bertanya kepada bapak-bapak di pos ronda, mereka hanya menoleh dan menatap, tanpa mengucap sepatah kata pun. Tak ada respons, tak ada sapa. Sunyi.
Rendra dan Tika melanjutkan perjalanan hingga sampai ke ladang tebu yang membentuk semacam lorong alami sepanjang sekitar 50 meter. Di ujung lorong, sosok nenek yang sebelumnya mereka lihat kembali muncul, kini duduk santai sambil memanggil Rendra untuk “jagongan”.
Rendra tak menggubris dan terus melaju. Hingga tiba-tiba muncul suara klakson mobil dari belakang, mendesak mereka untuk jalan lebih cepat. Tapi saat Rendra menepi untuk mempersilakan mobil lewat, kendaraan itu justru berhenti dan terus membunyikan klakson.
Ketika mereka memutuskan melaju kembali dan sampai ke jalan besar, suara mobil serta klakson menghilang begitu saja. Saat menoleh, mobil itu tak terlihat. Sekeliling hanya ladang tebu. Tidak ada desa. Tidak ada rumah.
Begitu tiba di Kediri sekitar pukul 04.00 pagi, Rendra memeriksa tempat penyimpanan buah apel. Anehnya, apel yang mereka beli sudah tak ada. Hilang begitu saja. Padahal, apel itu sebelumnya diikat erat di bagian bawah jok motor. Mereka tak merasa apel itu jatuh di jalan. Semua terasa seperti ilusi.
Saat menceritakan pengalaman itu kepada teman kuliah asal Blitar, temannya hanya berkata, “Kamu beruntung bisa keluar dari sana. Banyak cerita tentang orang yang hilang setelah masuk ke desa gaib itu.”
Menurut warga lokal, kawasan perbatasan Blitar memang menyimpan banyak cerita mistis. Beberapa bahkan menyebut adanya “desa gaib” yang hanya bisa muncul pada waktu-waktu tertentu, terutama malam hari. Desa itu tidak akan ditemukan lagi saat pagi datang.
Hingga kini, tidak ada penjelasan logis mengenai keberadaan desa tersebut. Apakah itu hanya ilusi, bagian dari dimensi lain, atau memang benar-benar ada tapi tak kasat mata? Yang jelas, cerita seperti yang dialami Rendra dan Tika bukanlah yang pertama terdengar.
Peristiwa ini memperkaya kisah misteri yang tumbuh subur di kawasan Blitar dan sekitarnya, sekaligus mengingatkan bahwa di balik jalanan sepi dan hutan lebat, bisa saja tersembunyi dunia yang tak semua orang bisa pulang darinya.