Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Silsilah Kiai Legendaris Blitar: Gus Iqdam dan Jejak Pondok Mamba’ul Hikam Mantenan

Axsha Zazhika • Jumat, 1 Agustus 2025 | 05:30 WIB

Silsilah Kiai Legendaris Blitar: Gus Iqdam dan Jejak Pondok Mamba’ul Hikam Mantenan
Silsilah Kiai Legendaris Blitar: Gus Iqdam dan Jejak Pondok Mamba’ul Hikam Mantenan

BLITAR – Nama Gus Iqdam kian sering mencuat dalam perbincangan publik, terutama di kalangan Nahdliyin dan pecinta sejarah pesantren di Blitar.

Namun di balik sosok mudanya yang akrab dengan anak-anak muda NU, tersimpan cerita panjang tentang garis keturunan yang sarat nilai sejarah.

Dalam tayangan di channel YouTube NU Kota Blitar, Gus Iqdam mengisahkan bagaimana jejak leluhurnya terhubung dengan pendirian Pondok Pesantren Mamba’ul Hikam Mantenan, salah satu pesantren tertua di Blitar Barat.

Baca Juga: Harga Bawang Merah di Pasar Tradisional Kota Blitar Tembus Rp 50 Ribu, Pedagang Ungkap Penyebabnya

“Saya ini cucunya Mbah Kiai Zubaidi Abdul Ghofur, mursyid tarekat yang cukup dikenal di Blitar Barat. Tapi jejaknya tak berhenti di situ. Kalau ditarik ke atas, buyut saya, Mbah Kiai Ghofur, adalah pendiri Pondok Mamba’ul Hikam Mantenan,” tutur Gus Iqdam.

Nama Gus Iqdam kini bukan sekadar panggilan kehormatan. Ia membawa cerita lintas generasi tentang para ulama pendiri pesantren, yang telah berpuluh tahun membentuk karakter masyarakat Blitar.

Dalam videonya, Gus Iqdam menekankan bahwa panggilan “Gus” bukan label kosong. Ada tanggung jawab moral yang ikut melekat, karena panggilan itu lahir dari garis keturunan para kiai besar.

Baca Juga: Mengenal Konsep Ketuhanan Kepercayaan Kapitayan, Sang Hyang Taya

“Kenapa saya dipanggil Gus? Ya karena saya cucunya kiai. Tapi itu bukan berarti saya langsung pantas dipanggil Gus. Saya harus berusaha memantaskan diri,” ungkapnya.

Dari cerita itu, publik mengetahui bahwa keluarga Gus Iqdam punya peran penting dalam sejarah pesantren di Blitar.

Mbah buyutnya, Kiai Ghofur, mendirikan Pondok Mamba’ul Hikam Mantenan, yang dikenal sebagai salah satu pondok salaf tua di Blitar Barat dan menjadi pusat pembelajaran agama.

Baca Juga: Harga Beras di Pasar Tradisional Kota Blitar Cenderung Naik, Ini Penyebabnya

Pondok Mamba’ul Hikam Mantenan sendiri sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Dari sinilah banyak kiai dan santri lahir, membawa tradisi keilmuan Islam ke berbagai pelosok.

“Pesantren itu bukan sekadar tempat belajar ngaji. Itu pusat budaya, pusat dakwah, pusat pembentukan karakter masyarakat,” ujar Gus Iqdam.

Warisan itulah yang kini coba ia jaga. Meski lahir di desa Karanggayam, jauh dari gemerlap kota, ia tak lupa dari mana ia berasal.

Baca Juga: ⁠Impor Pejabat Sekda Kabupaten Blitar Potensi Timbulkan Konflik

Gus Iqdam bahkan mengaku merasa punya beban moral ketika sadar bahwa dirinya merupakan bagian dari silsilah panjang ulama karismatik.

“Kalau saya ini cucu kiai, berarti saya harus bisa memberikan contoh. Tidak bisa kalau dipanggil Gus tapi saya malah sembarangan. Itu memalukan,” katanya dengan jujur.

Pernyataan ini disambut warganet dengan antusias. Banyak yang mengaku terinspirasi melihat figur muda NU yang tidak sekadar menumpang nama besar keluarga, tetapi juga berusaha menata diri dan belajar.

Baca Juga: 11 Organisasi Kepercayaan Hidup di Kabupaten Blitar, Apa Saja?

Sejumlah akademisi NU dan pengamat pesantren bahkan menilai, kisah seperti yang dibawa Gus Iqdam penting untuk mengingatkan generasi muda tentang akar sejarah.

“Seringkali kita lupa, banyak pesantren tua yang telah membentuk wajah Blitar. Mamba’ul Hikam Mantenan adalah salah satu pondok penting itu,” kata seorang pemerhati sejarah lokal.

Dengan mengulas kisah keluarganya, Gus Iqdam bukan hanya bercerita tentang diri sendiri, tapi juga menyambungkan memori kolektif masyarakat dengan warisan spiritual Blitar Barat.

Baca Juga: Akhirnya Polisi Selesaikan Kasus Perundungan Siswa SMP di Blitar dengan Diversi

Kini, meski kerap hadir di forum-forum NU dan dikenal publik, Gus Iqdam tetap menegaskan bahwa dirinya hanyalah “orang biasa” yang berusaha menghormati jejak para pendahulunya.

“Saya ini lahir sebagai anak desa, dari keluarga biasa. Hanya saja Allah menakdirkan saya punya kakek dan buyut yang luar biasa,” ucapnya.

Dengan cara itu, ia mencoba merendah sekaligus mengangkat kembali sejarah pesantren yang nyaris terlupakan oleh generasi muda.

Baca Juga: Mengenal Konsep Ketuhanan Kepercayaan Kapitayan, Sang Hyang Taya

Cerita tentang Gus Iqdam dan Pondok Mamba’ul Hikam Mantenan bukan hanya nostalgia. Ini adalah pengingat bahwa tradisi keilmuan Islam dan budaya pesantren telah mengakar kuat di Blitar, dan masih menjadi bagian penting identitas daerah ini.

Melalui kisah ini, Gus Iqdam mengajak generasi muda NU untuk tidak hanya bangga pada sebutan “Gus” atau “Santri”, tapi juga benar-benar memahami dan merawat warisan para ulama.

Editor : Anggi Septian A.P.
#gus iqdam #pengajian #sabilu taubah