BLITAR – Di sebuah sudut Tulungagung, tepatnya tak jauh dari wilayah Pantai Popoh, Kecamatan Besuki, berdiri sebuah kompleks yang menawarkan kesakralan budaya Jawa.
Namanya Reco Sewu, bukan hanya makam pendiri rokok legendaris Reco Pentung, tempat ini juga menjadi lambang nguri-uri budaya Jawa atau pelestarian adat dan tradisi leluhur yang masih terjaga hingga kini.
Nguri-uri dalam bahasa Jawa berarti “merawat”, “menjaga”, atau “melestarikan”. Dan di Reco Sewu, makna ini bukan sekadar slogan.
Mulai dari ratusan hingga ribuan arca Dwarapala, simbol naga di empat penjuru, hingga tata letak bangunan yang penuh angka-angka simbolik seperti angka Sembilan semua mencerminkan penghormatan yang dalam terhadap kearifan nenek moyang.
“Budaya itu jangan ditinggalkan, tapi harus dilestarikan” ujar penjaga kompleks yang ditemui di lokasi.
Ia menambahkan bahwa warisan budaya adalah usaha para leluhur yang harus dijaga.
"Karena kita tinggal di Jawa, maka kita juga harus tahu dan menghormati tatanan dan adatnya," lanjutnya.
Tradisi ini juga terlihat dari berbagai bentuk ritual dan simbolisme lokal yang menyatu dengan keyakinan masyarakat.
Meskipun mendiang Soemiran Karsodiwirjo adalah seorang muslim, pengaruh Kejawen masih melekat.
Ini tercermin dalam keberadaan area Palerman Nyai Roro Kidul, tempat ritual spiritual yang dahulu ramai dikunjungi peziarah sebelum pandemi COVID-19.
Tak hanya itu, pancuran air suci bernama "Cuci Pasurian" juga menjadi bagian dari budaya lokal yang diyakini membawa berkah.
Di tengah arus modernisasi, Reco Sewu berdiri sebagai benteng budaya. Para penjaga, masyarakat sekitar, hingga keluarga besar almarhum, masih terus berupaya menjaga makna dan nilai luhur yang ada di tempat ini.
Mereka percaya bahwa dengan menjaga budaya, mereka sedang menjaga identitas, sejarah, dan koneksi spiritual mereka dengan masa lalu.
Reco Sewu adalah bukti nyata bahwa budaya dan spiritualitas Jawa tidak pernah benar-benar hilang selama masih ada yang rela nguri-uri, selama itu pula warisan leluhur akan tetap hidup dan bermakna.(*)
Editor : M. Subchan Abdullah