Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Gunung Kelud: Kutukan Abadi Lembu Suro, Benarkah Letusan Hanya Soal Waktu?

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 02:55 WIB
Sejarah Gunung Kelud selalu menjadi topik yang memikat, bukan hanya karena letusan dahsyatnya, tetapi juga kisah mistis yang mengiringinya. Salah satu legenda paling populer adalah kutukan Lembu Suro,
Sejarah Gunung Kelud selalu menjadi topik yang memikat, bukan hanya karena letusan dahsyatnya, tetapi juga kisah mistis yang mengiringinya. Salah satu legenda paling populer adalah kutukan Lembu Suro,

BLITAR Sejarah Gunung Kelud selalu menjadi topik yang memikat, bukan hanya karena letusan dahsyatnya, tetapi juga kisah mistis yang mengiringinya. Salah satu legenda paling populer adalah kutukan Lembu Suro, sosok setengah manusia setengah kerbau, yang dipercaya masih bersemayam di perut Gunung Kelud hingga kini.

Dalam sejarah Gunung Kelud, Lembu Suro dikenal sebagai makhluk sakti yang jatuh hati pada Dewi Kilisuci, putri cantik dan bijak dari Kerajaan Daha. Sayangnya, lamaran Lembu Suro ditolak dengan sebuah syarat mustahil: membuat sumur raksasa di puncak gunung hanya dalam satu malam. Saat Lembu Suro hampir berhasil, Dewi Kilisuci menipu dengan menaburkan bunga hingga Lembu Suro mengira fajar sudah tiba.

Merasa dikhianati, Lembu Suro murka dan melontarkan kutukan: "Wahai penduduk Kediri dan sekitarnya, kalian akan merasakan banjir lahar dan bencana dari Gunung Kelud!" Sejak saat itu, letusan demi letusan dalam sejarah Gunung Kelud kerap dianggap sebagai perwujudan amarahnya.

Baca Juga: Warung Makti Blitar: Sensasi Kuliner Ikan Segar dari Sungai Brantas yang Bikin Ketagihan

Misteri yang Tak Pernah Padam

Bagi masyarakat Jawa Timur, legenda ini bukan sekadar cerita pengantar tidur. Kepercayaan akan kutukan Lembu Suro masih hidup, terutama di desa-desa lereng Kelud. Setiap kali aktivitas vulkanik meningkat, warga akan mengaitkannya dengan “tanda-tanda” murka Lembu Suro.

Sejarawan lokal dari komunitas Sejarah Abadi menyebutkan bahwa catatan letusan Kelud sudah ada sejak abad ke-10. Beberapa letusan besar tercatat pada tahun 1586, 1919, 1990, hingga yang terbaru pada 2014. Menariknya, jeda waktu antara letusan sering membuat masyarakat bertanya-tanya: apakah benar bencana berikutnya hanya menunggu giliran?

Tradisi Sesaji sebagai Bentuk Penghormatan

Untuk meredam amarah sang legenda, tradisi larung sesaji di Gunung Kelud masih dilakukan. Biasanya, warga membawa hasil bumi, bunga, dan kepala kerbau sebagai persembahan simbolis. Upacara ini dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada penjaga gunung sekaligus doa agar Kelud tetap tenang.

Baca Juga: Lagi, 9 Oknum Pesilat di Blitar Keroyok Pemuda Hanya Gara-gara Hal Sepele Ini

“Ini bukan soal syirik atau tidak. Bagi kami, ini cara menghargai alam dan leluhur,” ujar Sutikno, tokoh adat dari Desa Sugihwaras. Ia menegaskan bahwa sesaji juga menjadi momentum silaturahmi dan gotong royong antarwarga.

Antara Mitos dan Sains

Meski kisah kutukan Lembu Suro sarat mistis, ilmuwan tetap memandang Kelud sebagai gunung api aktif yang pergerakannya dapat dipantau secara ilmiah. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) rutin melakukan pengamatan melalui seismograf, citra satelit, dan pengukuran gas vulkanik.

Namun, tak sedikit peneliti yang mengakui bahwa legenda seperti ini punya peran penting dalam edukasi masyarakat. “Cerita rakyat menjadi cara efektif untuk menanamkan kewaspadaan bencana sejak zaman dulu,” jelas Dwi Purnomo, pakar antropologi budaya dari Universitas Negeri Malang.

Baca Juga: Minimarket Terus Bermunculan, DPMPTSP Hingga Kini Masih Tunggu Kajian Teknis Aturan Perizinan Baru

Letusan yang Mengubah Wajah Kediri dan Blitar

Dalam sejarahnya, letusan Gunung Kelud tak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga mengubah bentang alam. Letusan tahun 1919 misalnya, menyebabkan banjir lahar yang memporakporandakan ribuan rumah dan sawah. Bahkan, sistem irigasi dan jalur perdagangan terganggu selama bertahun-tahun.

Kini, pasca letusan 2014, Gunung Kelud justru menjadi destinasi wisata alam. Kawahnya yang semula berisi danau kini kering, namun pemandangan puncaknya tetap memukau. Meski begitu, bayang-bayang kutukan Lembu Suro tetap membekas di benak masyarakat sekitar.

Warisan Budaya yang Terjaga

Legenda Lembu Suro menjadi warisan budaya tak benda yang terus diceritakan lintas generasi. Tidak hanya lewat cerita lisan, tetapi juga melalui seni tradisi seperti wayang kulit, kethoprak, hingga lagu-lagu daerah. Bagi warga, menjaga cerita ini sama pentingnya dengan menjaga keseimbangan alam.

Pada akhirnya, apakah letusan berikutnya hanyalah soal waktu seperti dalam kutukan Lembu Suro? Jawabannya mungkin berada di antara sains dan keyakinan. Yang jelas, sejarah Gunung Kelud mengajarkan satu hal: menghormati alam adalah kunci untuk bertahan hidup di kaki gunung yang menyimpan amarah abadi.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #gunung kelud