BLITAR - Sejarah Gunung Kelud tak hanya menyimpan kisah letusan besar yang mengguncang Jawa Timur, tetapi juga legenda penuh intrik antara manusia dan makhluk gaib. Salah satu kisah paling terkenal adalah tentang Dewi Kilisuci, seorang putri kerajaan yang kecantikannya memikat hingga ke dunia makhluk halus. Cerita ini memadukan sejarah, mitos, dan pesan moral yang terus hidup di tengah masyarakat.
Dalam sejarah Gunung Kelud, Dewi Kilisuci dikenal bukan hanya karena kecantikan parasnya, tetapi juga ketajaman pikirannya. Konon, kecerdikan sang putri inilah yang menyelamatkan kerajaan dari ancaman Lembu Suro — sosok makhluk berkepala kerbau yang berasal dari alam gaib. Kisahnya mengalir dari generasi ke generasi, menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya daerah sekitar Kelud.
Cerita bermula ketika Lembu Suro jatuh hati pada Dewi Kilisuci dan melamar sang putri. Namun, lamaran itu ditolak secara halus oleh Kilisuci. Penolakan ini bukan karena semata-mata ketidaksukaan, melainkan karena sang putri menyadari bahwa menerima pinangan makhluk gaib bisa membawa malapetaka bagi kerajaan. Penolakan ini memicu rangkaian peristiwa besar yang membentuk salah satu bab penting dalam sejarah Gunung Kelud.
Baca Juga: Disnaker Kabupaten Blitar Gelar Pelatihan Masakan Unggas, Hasilnya Dapat Sertifikat Nasional
Tantangan Mustahil untuk Lembu Suro
Dewi Kilisuci dikenal sebagai sosok yang berani mengambil risiko. Untuk menolak lamaran Lembu Suro tanpa memicu amarah secara langsung, ia memberikan syarat yang tampaknya mustahil dipenuhi. Lembu Suro diminta membuat telaga besar di puncak Gunung Kelud hanya dalam semalam. Tantangan ini disetujui oleh Lembu Suro, yang mengerahkan kekuatan supranaturalnya untuk memenuhi permintaan tersebut.
Namun, di tengah proses pengerjaan, Dewi Kilisuci menggunakan akalnya untuk menggagalkan pekerjaan itu. Dikisahkan, ia memerintahkan para prajurit untuk menumbuk padi dan memukul lesung sebelum fajar tiba. Suara tersebut membuat ayam berkokok lebih awal, sehingga Lembu Suro mengira pagi telah datang. Merasa gagal memenuhi syarat, Lembu Suro murka dan mengucapkan kutukan kelam.
Kutukan yang Melegenda
Kutukan Lembu Suro berbunyi bahwa kelak Gunung Kelud akan meletus dan menumpahkan banjir lahar ke wilayah kerajaan, menenggelamkan segalanya. Masyarakat percaya, setiap letusan Gunung Kelud adalah wujud amarah Lembu Suro yang tak pernah padam. Hingga kini, kepercayaan tersebut masih dipegang sebagian warga sekitar, bahkan menjadi dasar ritual-ritual sesaji yang rutin digelar.
Baca Juga: Warung Makti Blitar: Sensasi Kuliner Ikan Segar dari Sungai Brantas yang Bikin Ketagihan
Nilai dan Pesan Moral
Kisah Dewi Kilisuci bukan sekadar cerita rakyat, tetapi juga simbol kepemimpinan yang cerdas dan penuh pengorbanan. Ia berani menentang kehendak makhluk gaib demi menjaga keselamatan rakyatnya. Pesan moralnya jelas: keberanian dan kecerdikan adalah kunci untuk mengatasi ancaman, sekecil atau sebesar apa pun.
Selain itu, legenda ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Meskipun Lembu Suro hanyalah tokoh legenda, “amarahnya” yang mewujud dalam letusan Kelud menjadi metafora betapa alam bisa berubah bencana jika tidak dihormati.
Dari Legenda ke Pariwisata
Kini, Gunung Kelud bukan hanya menjadi objek studi geologi, tetapi juga destinasi wisata yang memadukan keindahan alam dan cerita rakyat. Wisatawan yang datang tak jarang mendengar kembali kisah Dewi Kilisuci dari pemandu lokal, lengkap dengan interpretasi modern yang membungkus sejarah dan mitos menjadi pengalaman unik.
Baca Juga: Lagi, 9 Oknum Pesilat di Blitar Keroyok Pemuda Hanya Gara-gara Hal Sepele Ini
Pemerintah daerah memanfaatkan daya tarik ini dengan membangun spot-spot wisata yang mengangkat kisah legenda tersebut, termasuk patung Dewi Kilisuci dan replika Lembu Suro. Kehadiran legenda ini memberi warna tersendiri bagi perkembangan pariwisata di Blitar dan Kediri, yang menjadi pintu gerbang menuju Kelud.
Legenda yang Tak Lekang Waktu
Di tengah gempuran era digital, legenda Dewi Kilisuci masih mampu bertahan sebagai bagian penting dari budaya lisan masyarakat. Sekolah-sekolah lokal, komunitas budaya, hingga konten kreator memanfaatkan kisah ini sebagai bahan edukasi dan hiburan. Hal ini membuktikan bahwa cerita lama bisa terus hidup, selama ada yang mau merawat dan menceritakannya kembali.
Bagi masyarakat sekitar, sejarah Gunung Kelud bukan sekadar catatan letusan dan dampak alam, tetapi juga kisah heroik yang membentuk jati diri daerah. Dan selama Gunung Kelud berdiri kokoh di Jawa Timur, kisah Dewi Kilisuci akan tetap bergaung, menjadi penanda bahwa kecerdikan seorang putri bisa mengubah nasib sebuah kerajaan.
Editor : Anggi Septian A.P.