Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

“Bikin Rumah Ambruk, Sound System Karnaval Malah Jadi Kebanggaan Warga!”

Ichaa Melinda Putri • Jumat, 12 September 2025 | 05:00 WIB
“Bikin Rumah Ambruk, Sound System Karnaval Malah Jadi Kebanggaan Warga!”
“Bikin Rumah Ambruk, Sound System Karnaval Malah Jadi Kebanggaan Warga!”

BLITAR-Karnaval di Jawa Timur sering memicu kontroversi. Bukan hanya soal kemacetan, tapi juga karena suara sound system yang menggelegar sampai membuat genteng jatuh dan kaca rumah pecah. Namun, fakta mengejutkan datang dari Mas Brewog, kreator YouTube sekaligus praktisi audio asal Malang.

Menurutnya, warga justru merasa bangga jika rumah mereka rusak akibat getaran sound system karnaval. Fenomena ini disebut sebagai tanda “horeg”, istilah lokal untuk menggambarkan betapa kuatnya power audio yang dipasang.

“Kalau kaca sampai retak atau genteng jatuh, itu artinya sound system benar-benar horeg. Warga malah senang karena merasa desanya punya audio paling kuat,” ujar Mas Brewog dalam salah satu unggahan YouTube-nya.

Fenomena ini kontras dengan persepsi netizen di media sosial. Banyak yang menilai karnaval audio merugikan masyarakat sekitar karena rumah mereka mengalami kerusakan. Bahkan, tak jarang video viral menunjukkan kaca jendela pecah akibat dentuman bass yang berlebihan.

Namun, kenyataan di lapangan justru berbalik. Mas Brewog menegaskan bahwa mayoritas warga tidak keberatan. Mereka sudah menganggap kerusakan kecil sebagai bagian dari euforia perayaan.

Di beberapa desa di Malang, sound system memang menjadi kebanggaan tersendiri. Tiap RT bahkan rela menyewa audio raksasa hanya demi tampil beda saat karnaval. Biayanya bisa mencapai puluhan juta rupiah untuk sekali tampil.

Lebih dari sekadar hiburan, sound system menjadi simbol gengsi. Semakin keras dan semakin “horeg” audio yang dipakai, semakin tinggi pula status desa atau kelompok yang menyelenggarakan.

Mas Brewog menyebut, fenomena ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya Malang dan sekitarnya, karnaval bukan sekadar parade budaya, tetapi juga ajang adu kualitas sound system.

“Kalau cuma jalan pakai baju adat, orang biasa saja. Tapi kalau audio sampai bikin badan bergetar, itu baru meriah,” tambahnya.

Tidak heran, para pengusaha rental audio di wilayah ini kebanjiran pesanan setiap musim karnaval. Bahkan, beberapa di antaranya membangun sound system khusus yang bisa dipasang di truk dengan sistem hidrolik, lengkap dengan puluhan hingga ratusan speaker.

Salah satu proyek fenomenal adalah “Megatron”, sound system raksasa yang pernah dibangun Mas Brewog. Dengan biaya ratusan juta rupiah, Megatron bisa menghasilkan dentuman bass yang membuat tanah bergetar.

Kehadiran sound system dalam karnaval juga membawa dampak ekonomi. Banyak pemuda desa ikut bekerja sebagai kru teknis, dari pemasangan, penjagaan, hingga operator. Bagi mereka, ini bukan sekadar pekerjaan musiman, tetapi juga ruang kreativitas.

Namun demikian, tetap ada suara kritis dari sebagian masyarakat. Mereka khawatir dampak kesehatan akibat paparan suara keras berjam-jam, terutama bagi anak-anak dan lansia. Selain itu, risiko kerusakan rumah sebenarnya juga tidak bisa diabaikan begitu saja.

Beberapa kali muncul laporan warga yang menuntut ganti rugi, meski jumlahnya sangat sedikit. Sebagian besar memilih menerima dengan lapang dada, karena menganggap kerusakan kecil sebagai konsekuensi dari hiburan bersama.

Fenomena ini kemudian memicu perdebatan luas di media sosial. Sebagian warganet menyebutnya unik dan lucu, karena hanya di Jawa Timur orang bisa bangga rumahnya rusak akibat audio. Tapi, ada juga yang menyayangkan sikap permisif tersebut, karena dianggap membahayakan.

Mas Brewog sendiri menganggap perdebatan itu wajar. Namun, ia menekankan bahwa budaya lokal tidak bisa dipukul rata dengan standar umum. Bagi warga Malang, horeg bukan sekadar bunyi bising, melainkan identitas dan kebanggaan.

“Bagi mereka, semakin keras, semakin horeg, semakin puas. Itu bagian dari budaya yang sudah turun-temurun,” jelasnya.

Dengan segala pro dan kontranya, fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya peran sound system dalam budaya karnaval Jawa Timur. Dari sekadar hiburan, ia menjelma menjadi simbol kebersamaan, prestise, hingga pemicu kontroversi nasional.

Apakah tradisi ini akan terus bertahan di tengah kritik? Waktu yang akan menjawab. Satu hal yang pasti, dentuman bass karnaval di Malang masih akan terus menggetarkan rumah dan hati warga.

Editor : Anggi Septian A.P.
#brewog audio #karnaval #MAS #sound system #malang