Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Transformasi KAI oleh Ignasius Jonan: Dari KRL Panas Tanpa AC Jadi Transportasi Modern Berkelas

Ichaa Melinda Putri • Senin, 13 Oktober 2025 | 17:20 WIB
Transformasi KAI oleh Ignasius Jonan: Dari KRL Panas Tanpa AC Jadi Transportasi Modern Berkelas
Transformasi KAI oleh Ignasius Jonan: Dari KRL Panas Tanpa AC Jadi Transportasi Modern Berkelas

BLITAR-Mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Ignasius Jonan, kembali mengenang masa-masa sulit saat memimpin transformasi besar di tubuh perusahaan pelat merah itu. Dalam sebuah wawancara yang viral di YouTube, Jonan menceritakan perjuangannya mengubah wajah transportasi kereta api Indonesia — khususnya KRL Jabodetabek — dari sistem yang semrawut menjadi layanan publik modern dan manusiawi.

Jonan menegaskan, perubahan besar itu hanya mungkin terjadi lewat disiplin keras dan kepemimpinan yang tegas. “Zaman Orde Baru aja enggak bisa nurunkan penumpang di atas atap KRL. Tapi setelah itu, beres. Karena saya turun langsung,” ujarnya.

Naik Sendiri ke Atap KRL

Salah satu langkah ekstrem yang dilakukan Jonan kala itu adalah terjun langsung ke lapangan untuk merasakan kondisi penumpang. Ia mengaku sengaja naik sendiri ke atap KRL dari Bogor hingga Jakarta, demi memahami alasan masyarakat rela mempertaruhkan nyawa.

“Saya ingin tahu sendiri kenapa orang mau naik ke atap. Padahal risikonya, kalau jatuh pasti mati,” kata Jonan.
Ia menambahkan, meski KAI menanggung seluruh biaya rumah sakit bagi korban yang jatuh dari atap kereta, hampir tidak ada yang selamat. “Enggak ada yang hidup, Pak. Kalau kesetrum kabel listrik kereta, itu 1.500 volt, bukan 220. Kalau kena pasti meninggal,” tegasnya.

Pengalaman itu membuat Jonan sadar, masalah utama bukan sekadar disiplin, melainkan kualitas layanan. Penumpang naik ke atap karena kondisi di dalam gerbong terlalu panas dan penuh sesak.

Kebijakan Revolusioner: Semua KRL Harus Pakai AC

Dari pengalaman tersebut, Jonan membuat keputusan besar: seluruh KRL Jabodetabek harus dilengkapi AC dan tidak ada lagi layanan ekspres.
“Semua kereta saya ganti jadi single service. Semua berhenti di setiap stasiun dan semua harus ber-AC,” jelasnya.

Keputusan itu sempat menimbulkan perdebatan internal antara KAI dan Kementerian Perhubungan. Sebab, dalam aturan saat itu, subsidi pemerintah hanya diberikan kepada kereta tanpa AC.
Namun Jonan bersikeras mengubah peraturan itu. “Saya bilang, zaman dulu memang mobil ada yang belum pakai AC. Sekarang, semua pasti ada. Jadi, masa peraturannya masih zaman dulu?” ujarnya.

Perjuangan itu akhirnya berhasil. Semua rangkaian KRL kini ber-AC, dan fenomena penumpang di atas atap pun hilang dari wajah transportasi ibu kota. “Kalau di dalam sudah dingin dan nyaman, siapa yang mau naik ke atas?” ucapnya dengan nada retoris.

Kenaikan Tarif Tak Bikin Ribut

Transformasi besar itu tentu berimbas pada biaya operasional. Harga tiket pun harus naik dari Rp2.000 menjadi Rp5.000. Namun, menurut Jonan, masyarakat bisa menerima karena merasakan langsung perbaikan layanan.
“Naik dari dua ribu ke lima ribu itu mestinya ribut besar. Tapi ternyata tidak. Karena orang merasa sepadan,” tuturnya.

Jonan sempat bercerita tentang seorang ibu yang protes keras soal kenaikan tiket di Stasiun Manggarai.
“Saya tungguin dia marah-marah. Setelah selesai, saya jawab, ‘Ibu, saya bukan alat pemuas,’” kata Jonan sambil tertawa. Cerita itu menjadi simbol gaya kepemimpinannya yang tegas, terbuka, dan berani menghadapi kritik langsung dari publik.

Transparansi dan Kepemimpinan Tegas

Selain soal layanan, Jonan juga menekankan pentingnya transparansi di lingkungan kerja. Ia mewajibkan semua pegawai KAI mengenakan seragam dengan nama terbuka di dada, agar masyarakat tahu siapa yang melayani mereka.
“Dulu semua pakai jaket biar enggak kelihatan namanya. Sekarang enggak boleh. Semua harus transparan,” tegasnya.

Langkah-langkah tersebut mencerminkan transformasi menyeluruh — bukan hanya fisik kereta, tapi juga mental dan budaya kerja di tubuh KAI. Kini, hasilnya bisa dirasakan: KRL menjadi tulang punggung transportasi perkotaan yang aman, nyaman, dan berstandar modern.

Transformasi yang dilakukan Ignasius Jonan di KAI menjadi contoh nyata leadership transformation di BUMN. Ia membuktikan bahwa perubahan besar hanya bisa terjadi jika pemimpin berani turun langsung, disiplin dalam prinsip, dan berorientasi pada pelayanan publik.
Atas keberhasilannya itu, Jonan kerap disebut sebagai figur reformis yang membawa KAI keluar dari masa kelam menuju era profesionalisme.

Editor : Anggi Septian A.P.
#ignasius jonan #Transformasi KAI