SANANWETAN – Minimnya anggaran yang dialokasikan bagi Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Kota Blitar membuat proses pembinaan cukup terkendala. Buntutnya, atlet harus melakoni rangkaian program pembinaan secara terbatas.
Ketua POBSI Kota Blitar, Hari Cahyono mengatakan, tahun ini induk cabor dijatah anggaran pembinaan sekitar Rp 45 juta. Sebesar 75 persen dari total anggaran dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam program pembinaan atlet. Sisanya digunakan untuk kebutuhan operasional di internal induk cabor. “Termasuk untuk kebutuhan sarana prasarana juga,” terangnya.
Dia mengaku, jumlah yang dikucurkan tahun ini terbilang minim. Dia berharap agar POBSI diberi anggaran yang lebih besar pada tahun depan. Meski begitu, Hari belum merinci berapa kebutuhan yang akan diajukan pada tahun depan. “Kalau dari segi anggaran memang belum cukup. Jadi yang ada itu kami cukup-cukupkan. Ada berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi,” imbuhnya.
Untuk diketahui, saat ini para atlet berlatih di salah satu kediaman pelatih yang dijadikan base camp. Setidaknya ada dua meja biliar yang digunakan atlet untuk berlatih. Selain itu, induk cabor sedang menimbang opsi untuk menambah jumlah meja melalui mekanisme pengajuan ke KONI-pemkot. Ada kemungkinan rencana ini bakal tertunda. Alasannya, luasan tempat latihan dinilai tidak cukup untuk menampung tiga meja biliar.
“Berarti kalau mau pindah base camp juga harus ada anggarannya. Misalnya, untuk beli berbagai kebutuhan di tempat latihan yang baru. Karena itu tidak mengajukan meja baru terlebih dahulu. Menunggu nanti kalau ada anggaran untuk pindah base camp,” sambungnya.
Bukan cuma itu, POBSI juga kudu lebih bijak dalam pengalokasian anggaran. Sebab, induk cabor juga dihadapkan dengan rencana rekrutmen atlet baru. Meski tak merinci teknis pelaksanaan penjaringan atlet, Hari mengungkapkan bahwa hal ini memang harus dilakukan.
“Sebab, Jatim adalah satu-satunya provinsi yang membatasi usia atlet yang bertanding di porprov. Yakni di bawah 23 tahun. Itu berarti kami harus lebih cepat dalam melakukan regenerasi dibanding provinsi lain. Itu juga perlu dipikirkan secara matang,” bebernya. (dit/c1/rka)
Editor : Doni Setiawan