Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Belajar Sepanjang Hayat

Doni Setiawan • Rabu, 6 Desember 2023 | 23:39 WIB
Dian Novi Rianti, S.Pd (Guru Matematika SMKN 1 Kademangan)
Dian Novi Rianti, S.Pd (Guru Matematika SMKN 1 Kademangan)

BLITAR - Sering kali kita membaca kalimat “Jangan Pernah lelah untuk Belajar”. Kalimat sederhana tapi sangat bermakna. Mengapa demikian? Karena pada hakikatnya manusia hidup di bumi difitrahkan untuk mempelajari isi bumi dan seluruh makhuk penghuninya yang terus mengalami proses perubahan dan perkembangan. Belajar sepanjang hayat dapat kita artikan manusia terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sepanjang perjalanan hidup. Hal ini dapat membuka pintu peluang baru dan memperkaya pengalaman hidup. Belajar sepanjang hayat adalah suatu perjalanan tanpa batas waktu, dan selalu ada kesempatan untuk mengejar pengetahuan baru dan mengembangkan diri, tanpa memandang usia. Perjalanan manusia diawali dari bayi sampai nanti tua dan tutup usia hakikatnya adalah pembelajaran untuk beradaptasi dengan lingkungan disekitarnya agar dapat bertahan hidup menjadi manusiang berguna, bermartabat guna mencapai kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat.

Definisi belajar menurut KBBI yaitu memperoleh kepandaian atau ilmu dan juga perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Adapun pengertian belajar menurut W.S Winkel dalam Ahmad Susanto (2012, hlm.4) adalah suatu aktivitas mental yang berlangung dalam interaksi aktif antara seseorang dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan sikap yang relatif konstan dan berbekas. Ki Hajar Dewantara bapak pendidikan Indonesia mengajukan pandangan holistik tentang belajar. Baginya, belajar tidak hanya sebatas akuisisi pengetahuan akademis, melainkan juga melibatkan pengembangan karakter, kepribadian, dan kecakapan hidup. Pendekatan “ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani” yang diterapkan oleh Ki Hajar Dewantara mengedepankan pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial sebagai bagian integral dari proses belajar.

Dari beberapa pengertian belajar kita mengetahui belajar merupakan sebuah proses sepanjang tahapan hidup manusia untuk memperoleh kepandaian atau ilmu meliputi perubahan tingkah laku, aktivitas mental, interaksi aktif yang mengedapkan pembentukan karakter dan tanggung jawab. Proses belajar diawali dari bayi belajar untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, mengenali wajah, suara, dan objek. Kita mengembangkan keterampilan motorik, bahasa, dan pemahaman sosial melalui pengamatan, eksplorasi, dan interaksi dengan perawat atau lingkungan sekitar, berlanjut ketika pada tahapan anak-anak kita belajar untuk berkomunikasi, mengembangkan keterampilan sosial, dan memahami dunia di sekitarnya. Kita memperoleh pengetahuan melalui pendidikan formal dan informal, membangun keterampilan dalam bidang akademis, seni, olahraga, dan pengembangan karakter. Selama masa pertumbuhan, anak-anak juga belajar mengenai nilai-nilai, etika, dan cara berinteraksi dengan orang lain. Pada tahapan remaja kita belajar menemukan identitas pribadi, mengembangkan keterampilan mandiri, dan memahami tanggung jawab mereka dalam masyarakat. Proses ini melibatkan eksplorasi minat, pengembangan hubungan sosial yang lebih kompleks, serta persiapan untuk masa depan melalui pendidikan dan pengambilan keputusan yang semakin mandiri. Remaja juga belajar mengelola emosi, mengatasi tantangan, dan membangun fondasi untuk kedewasaan.

Selanjutnya pada saat manusia dewasa belajar untuk terus mengembangkan diri, baik dalam konteks profesional maupun pribadi. Mereka dapat meningkatkan keterampilan kerja, mengejar pendidikan lanjutan, atau bahkan belajar hal-hal baru di luar lingkungan pekerjaan. Selain itu, belajar sebagai dewasa juga melibatkan pengalaman hidup, pemahaman diri, dan penanganan tantangan yang kompleks dalam kehidupan sehari-hari. Kesempatan untuk pertumbuhan dan pembelajaran tetap terbuka sepanjang kehidupan. Bahkan pada saat manusia pada tahap usia lanjut mereka tetap belajar untuk tetap menjaga keaktifan mental, fisik, dan sosial. Ini melibatkan menjelajahi minat baru, mengembangkan keterampilan teknologi, memelihara kesehatan fisik melalui aktivitas fisik dan pola makan yang sehat, serta tetap terlibat dalam interaksi sosial untuk mendukung kesejahteraan emosional. Belajar di usia lanjut dapat melibatkan berbagai aktivitas yang membantu menjaga kualitas hidup dan merayakan pengalaman hidup yang panjang.

Tahapan belajar secara umum yaitu (1) Persiapan yaitu mempersiapkan diri untuk belajar menyadari tujuan dan rencana pendekatan. (2) Penerimaan informasi atau stimulus dari lingkungan sekitar, baik melalui indra atau pengalaman langsung. (3) Pemrosesan mempertimbangkan dan mengolah informasi yang diterima, menciptakan pemahaman dan koneksi dengan pengetahuan yang sudah ada. (4) Pemahaman membangun pemahaman terhadap informasi yang diolah, mengaitkannya dengan konsep-konsep yang sudah ada dalam pikiran. (5) Penerapan mengaplikasikan pengetahuan yang didapatkan dalam situasi atau konteks tertentu, sering melalui latihan atau pengalaman praktis. (6) Evaluasi menilai pemahaman dan kinerja, baik melalui ujian, tugas, atau bentuk evaluasi lainnya. (7) Refleksi merenungkan pengalaman belajar, mengevaluasi proses, dan mengidentifikasi pembelajaran yang dapat diambil. (8) Internalisasi menyelaraskan pengetahuan dan keterampilan baru ke dalam struktur pikiran dan nilai-nilai pribadi. Setiap individu dapat melewati tahapan-tahapan ini dengan kecepatan yang berbeda, dan proses belajar dapat berlangsung sepanjang kehidupan. Jangan pernah menyerah untuk belajar karena hakekatnya belajar adalah kunci untuk menggali potensi tersembunyi, memperluas wawasan, dan menciptakan perubahan positif dalam diri dan dunia di sekitar Anda.

Oleh : Dian Novi Rianti, S.Pd
Guru Matematika SMKN 1 Kademangan

Editor : Doni Setiawan
#profesional #artikel #ki hajar dewantara #belajar #guru