Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ironis, Kabupaten Blitar Sumbang 730 Ton Sampah Tiap Tahun, Mayoritas Sampah Bersumber dari Sektor Ini

Mohammad Syafi'uddin • Jumat, 8 Desember 2023 | 19:00 WIB

MENUNGGU DIGUNAKAN: Kendaraan pengangkut sampah dinas lingkungan hidup terparkir di RTH Kanigoro kemarin (4/12).
MENUNGGU DIGUNAKAN: Kendaraan pengangkut sampah dinas lingkungan hidup terparkir di RTH Kanigoro kemarin (4/12).
 

BLITAR - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blitar mencatat 730 ton sampah masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dalam setahun. 

Sementara penghasil sampah hingga 70 persen itu berasal dari sarana perdagangan alias pasar.

Subkoordinator Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blitar, Masna Karimah mengungkapkan bahwa sampah yang masuk adalah sampah domestik yang terdiri dari limbah rumah tangga dan pasar.

“Itu seperti sampah bekas makanan, plastik, sampah dapur, sampah saset, sampah botol sekali pakai dan berbagai macam sampah organik dan anorganik. Semua terkumpul dan dibuang ke TPA,” jelasnya.

Dalam sehari terdapat 20 ton sampah yang masuk di berbagai TPA di Bumi Penataran.  Perinciannya, 15 ton sampah masuk ke TPA Tegalasri, 2 ton ke TPA Kesamben dan 3 ton ke TPA Srengat.

“Jika di total ada sekitar 20 ton sampah yang masuk ke TPA, itu angka maksimal sampah yang masuk. Namun setiap hari rata-rata yang masuk ada sekitar 15-16 ton smpah,” ujarnya.

Masna mengatakan, jika dikalkuliasi ada sekitar 730 ton sampah yang harus dikelola dalam setahun. Sebagian diolah atau didaur ulang.  

“Nantinya sampah itu diolah dan dipilah . Seperti sampah organik dijadikan pupuk kompos, kertas kardus, kertas, botol-botol dikumpulkan dan di jual. Di TPA juga ada alat untuk membuat biogas,” terangnya.

Masna mengaku ada kesulitan dalam proses pemilahan sampah di TPA. Jumlah personel di tiap TPA terbatas. Hal ini karena jarang ada yang mau bekerja di TPA.

“Memilah itu gampang, sudah ada kategori-kategorinya. Mungkin karena banyak masyarakat yang enggan memilah karena berhubungan dengan sampah dan masih menganggap sampah itu jorok dan tidk menguntungkan,” ujarnya.

Dia menyebut,  hanya ada 7 orang personel di TPA Tegalasri, 3 orang di TPA Kesamben, dan 3 orang di TPA Srengat.

Tiga belas orang ini memiliki berbagai tugas, yakni merapikan timbunan sampah, membersihkan sekitar TPA, mengolah kompos, dan memilah sampah.

“Jumlahnya personel sedikit, adanya cuma segitu. Makanya kami kewalahan, tenaga terbats. Sehingga kinerja juga lamban,” jelasnya.

Kurangnya personil pengolahan di TPA mengakibatkan sampah tidak terolah sepenuhnya. Sehingga perlahan bertumpuk-tumpuk dan mengakibatkan TPA hampir penuh.

“Saya rasa semua TPA di Kabupaten Blitar akan penuh dan overload dalam tiga tahun kedepan. Jadi saya harap masyarakat dapat mengolah sampah sendiri, kalau bisa dikelola sampai habis di sumbernya. Sehingga sampah tidak tertimbun di TPA,” ungkapnya. (mg2/hai)

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#blitar #DLH kabupaten blitar #sampah