BLITAR – Eksistensi pasar tradisional di Kabupaten Blitar kian terancam. Hal itu diakibatkan oleh beberapa faktor, salah satunya minat belanja masyarakat minim.
Salah seorang pedagang di Pasar Nglegok, Sumiran, mengaku bahwa akhir-akhir ini kondisi pasar memang sepi.
Menurutnya, hal ini disebabkan oleh banyaknya pedagang ethek atau pedagang sayur keliling yang menjajakan dagangannya ke permukiman warga.
“Kebanyakan kios sudah tutup. Yang masih buka hanya di sudut timur pasar. Kalau saya tidak ada pilihan lagi. Saya cari makan, kalau tidak berdagang di sini ya di mana lagi,” keluhnya.
Jumlah kunjungan pasar tertinggi biasanya terjadi ketika pagi hari. Namun, kondisi itu tak merata di seluruh bagian pasar.
Hanya pedagang di bagian depan pasar yang merasakan dampak tingginya jumlah pembeli.
“Soalnya pedagang yang berada di dalam pindah ke luar. Bahkan saat ini terbilang sepi banget dibandingkan tahun-tahun sebelumya,” ujarnya.
Laki-laki 73 tahun itu mengaku bahwa hanya ada 10 orang pedagang yang menjajakan dagangannya di bagian dalam pasar.
Meski jumlah pengunjung pasar terus turun, Sumiran mengaku masih akan berjualan karena itu satu-satunya cara dia bisa mendapat penghasilan.
Kabid Pengelolaan dan Pengembangan Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar, Sri Supartiningsih mengaku, jumlah pembeli di pasar tradisional memang mengalami penurunan. Dia mengeklaim kondisi serupa juga terjadi di sebagian besar wilayah tanah air.
“Situasi seperti ini merata di seluruh pasar di Indonesia. Hal ini kami dapati kemarin saat menghadiri undangan dari Kementerian Perdagangan di Surabaya. Sejumlah pemerintah kabupaten/kota juga mengeluhkan hal yang sama,” ujarnya.
Perempuan berjilbab ini menerangkan bahwa turunnya transaksi di pasar tradisional disebabkan oleh perekonomian masyarakat yang belum pulih sepenuhnya pascapandemi Covid-19.
Karena itu, daya beli masyarakat masih rendah. Selain itu, berkembangnya teknologi pemasaran melalui media daring juga menjadi salah satu penyebab kenapa minat pembelian secara luring menurun.
“Tapi, untuk pasar pagi yang menjual sayuran dan kebutuhan dapur itu masih tetap ramai. Kebanyakan mereka menjual dagangan ke pedagang ethek. Soalnya ketika Covid-19 banyak pedagang ethek yang berkeliaran, dan ibu-ibu rumah tangga lebih suka belanja di ethek,” ujarnya.
Tren belanja secara daring, kata Sri, mulai meningkat begitu pandemi Covid-19 melanda. Perlu diingat, masyarakat diimbau untuk tidak banyak berkegiatan di luar rumah selama pandemi beberapa tahun lalu. Buntutnya, masyarakat memilih untuk belanja secara online guna memenuhi kebutuhannya.
“Yang bisa kami lakukan untuk mempertahankan pasar tradisional adalah mencoba menghidupkan dan meramaikan kembali pasar-pasar itu. Hal ini bisa dilakukan dengan menawarkan kios-kios kosong ke masyarakat untuk kegiatan berdagang,” terangnya.
Adanya stigma negatif pada kegiatan belanja di pasar tradisional juga perlu diubah. Hal itu juga patut jadi perhatian selain halnya melakukan tindakan teknis seperti halnya merevitalisasi atau membangun ulang pasar.
“Itu agar terkesan modern dan tentunya tidak meninggalkan esensi pasar tradisional,” jelasnya.
Selain itu, peningkatan sumber daya manusia (SDM) pelaku pasar melalui berbagai pelatihan juga bisa jadi opsi.
Salah satunya adalah menggelar pelatihan pemasaran produk secara daring. Dengan demikian, para pedagang bisa mencakup pasar yang lebih luas. Tak terkecuali kaum milenial.
“Sekarang masih dalam tahap pengkajian dan akan direalisasikan pada tahun depan. Apakah dengan cara ini masyarakat bisa tertarik lagi dengan pasar tradisional. Namun, saya kira pasar tradisional masih bisa eksis,” tandasnya. (mg2/c1/dit)
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra