Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Puluhan Perempuan Jadi Korban KDRT, P3APPKB Kabupaten Blitar Jelaskan Penyebabnya

Agus Muhaimin • Senin, 11 Desember 2023 | 23:00 WIB
ilustrasi kdrt
ilustrasi kdrt

BLITAR– Puluhan kaum hawa di Bumi Penataran masih menjadi korban kekerasan. Kekerasan dalam rumah tangga menjadi kasus terbanyak tahun ini.

Kepala Bidang KKP dan PHA Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3APPKB) Kabupaten Blitar Lelita Novianita mengatakan, hingga November ini tercatat 23 kasus kekerasan perempuan.

Itu terdiri dari 5 kasus pencabulan, 2 kasus kekerasan, 1 kasus penelantaran, 1 kasus human trafficking, dan terakhir 14 kasus KDRT.

“Sepanjang 2022 lalu ada 26 kasus kekerasan perempuan,” katanya.

Dia mengungkapkan, upaya menanggulangi kekerasan perempuan ini dilakukan dengan pemberdayaan perempuan. Ketika perempuan berdaya, maka perempuan tidak mudah diperdayai.

“Soalnya, ketika ada kasus KDRT itu, sebagian besar dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi,” ujarnya.

Menurut Lelita, selain faktor ekonomi, ada beberapa pemicu lain yang menyebabkan kekerasan terhadap perempuan. Misalnya, belum cukup umur dan sumber daya manusia yang tergolong rendah.

“Yang berdaya dan memiliki keputusan itu condong ke laki-laki. Perempuan tidak berdaya karena tidak ada pendapatan atau pendidikan yang masih rendah. Ini nanti berakibat pada urusan rumah tangga,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, komunikasi menjadi dasar utama dalam rumah tangga. Beda pola pikir dan latar belakang pendidikan bisa mengakibatkan keretakan dalam rumah tangga.

“Bayangkan saja, jika laki-laki yang pulang habis bekerja dan curhat ke istrinya, tapi istri tak paham. Ini akan membuat suami marah,” terangnya.

Menurutnya, saat ini perempuan bisa memiliki pendapatan dengan hanya dari rumah. Melalui handphone, perempuan bisa mendapatkan penghasilan. Misalnya dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya.

“Dengan pemberdayaan wanita seperti ini, tidak mengecilkan martabat laki-laki atau mengungguli laki-laki. Namun, berfungsi untuk menambah pendapatan keluarga agar kesejahteraan keluarga semakin meningkat,” ulasnya.

Dia mengakui bahwa di tahun ini masih banyak perempuan yang hanya berstatus ibu rumah tangga tanpa ada pendapatan tambahan. Angka paling banyak masih berada di pinggiran antardaerah atau pegunungan.

“Diharapkan dengan adanya pendapatan tambahan ini, perempuan tidak lagi diam saja dan bergantung pada laki-laki. Namun, ada komunikasi agar rumah tangga bisa tenteram,” imbuhnya. (mg2/c1/hai)

Editor : Doni Setiawan
#kdrt #P3APPKB #rumah tangga