BLITAR - Pohon belimbing wuluh menghiasi setiap ruas jalan di kompleks Perumahan Wisma Indah, Kota Blitar.
Tak sedikit buah yang tampak masak berwarna kuning masih melekat di pohon hingga berjatuhan di tanah. Hanya segelintir warga yang memanfaatkan buah ini. Sebab, rasanya yang asam membuat belimbing jenis ini kurang dilirik.
Jika biasanya belimbing wuluh jadi pelengkap utama menu masakan berkuah seperti sayur asam atau garang asam, maka berbeda di tangan Hartutik.
Dia menyulap belimbing bercita rasa asam tersebut menjadi manisan. Ide cemerlang ini muncul ketika ia melihat banyak belimbing wuluh di sekitar lingkungannya kurang dimanfaatkan.
“Kok eman, begitu. Orang kan tidak setiap hari bikin sayur asam juga. Akhirnya coba saya olah menjadi jajanan, perpaduan rasa yang unik,” ujarnya kepada Koran ini.
Perempuan berkacamata ini menuturkan, sebelum membikin manisan belimbing wuluh, dia lebih dulu memproduksi minuman dari bahan yang sama.
Produk olahan ini sempat dilombakan pada ajang kreasi teknologi kategori agribisnis di Kabupaten Blitar pada 2014 lalu bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat.
Meski gagal menyabet gelar juara, Hartuti tak patah arang. Dia lantas bereksperimen membuat olahan manisan belimbing wuluh.
Perempuan 67 tahun ini memaparkan, awal merintis produksi manisan banyak keraguan yang dilontarkan dari orang-orang sekitar.
Mereka memandang sebelah mata, menganggap mustahil belimbing wuluh menjadi manisan yang lezat. Hal itu tak digubris. Pensiunan PNS ini terus berjuang menepis keraguan itu.
“Itu bagian dari perjalanan. Kalau kita mau usaha, sabar, walhasil bisa juga,” tutur ibu tiga anak ini.
Mula-mula Hartutik memetik buah berkualitas bagus. Lalu dicuci menggunakan air mengalir. Setelahnya, direndam sehari semalam dalam larutan air kapur.
Baca Juga: Cerita Wahyu Putra Utama, Pemuda Kanigoro Blitar yang Getol Tularkan Ilmu Seni Rupa lewat Sanggar
Belimbing lalu kembali dicuci dan direbus hingga matang. Untuk pemanisnya, Hartutik membuat larutan karamel berbahan dasar gula, kayu manis, dan cengkeh.
Karamel yang sudah mengental dituang pada belimbing yang sebelumnya sudah melalui perebusan.
Belimbing yang sudah tercampur dengan karamel, selanjutnya ditutup selama sehari semalam.
“Besoknya disaring, lalu karamel dimasak lagi. Yang lama itu proses ini diulangi tiga hari tiga malam. Biar tahan lama dan juga meresap sempurna. Kemudian dijemur sampai kering,” bebernya.
Manisan yang sudah jadi berwarna cokelat gelap. Kadar air di dalam belimbing juga susut drastis. Adapun rasa buah ini manis berpadu sedikit asam.
Teksturnya yang kenyal membuat manisan ini cukup banyak diminati pembeli. Produk bikinan Hartuti ini pun laris manis di pasar lokal maupun luar kota untuk oleh-oleh khas Blitar. Olahan ini tahan hingga setahun.
Perempuan ramah ini mengaku sulitnya membuat manisan terletak pada proses perendaman. Pasalnya, apabila wadah rendaman tidak steril, belimbing bisa berjamur dan tak bisa diolah.
“Selain itu, kalau cuaca buruk, penjemuran juga terkendala. Karena kami pakai sinar matahari, jika dipanaskan di pan tidak bisa,” terangnya.
Hasil manis dari produksi belimbing wuluh itu membuat pemkot menyalurkan bantuan bibit belimbing wuluh. Harapannya bisa meningkatkan perekonomian melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).***
Editor : M. Subchan Abdullah