Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ambisi Miftahul Farhal, Seorang Warga Kabupaten Blitar Miliki Tekad Populerkan Olahraga Sepatu Roda

Agus Muhaimin • Jumat, 15 Desember 2023 | 02:15 WIB
GIGIH: Miftahul Farhan saat latihan di Sport Center Kota Blitar rabu (13/12).
GIGIH: Miftahul Farhan saat latihan di Sport Center Kota Blitar rabu (13/12).

BLITAR - Olahraga sepatu roda seakan sudah menjadi bagian dari hidup bagi Miftahul Farhan.

Setiap sore, dia selalu melakukan latihan di Sport Center, Kota Blitar. Sekalian mengagajari anak didiknya dalam bermain sepatu roda.

Tidak terasa sudah tujuh tahun dirinya menggeluti olahraga ini. Mulai dari umur 22 berbekal rasa ingin tahun sampai menginjak 29 tahun, dia tidak menghentikan semangatnya dalam melakoni hobi ini.

“Dulu inginya itu Desember 2015 namun baru bisa beli sepatu roda tahun berikutnya. Saat itu tidak ada yang bermain sepatu roda di Alun-alun selain saya,” ujarnya.

Lambat laun, pecinta sepatu roda semakin banyak. Bukan anak muda, melainkan orang-orang dewasa.

“Cuma saya yang dibawah 25 tahun, yang lain 30 keatas,” lanjutnya.

Fakta ini memicu ide baru di benaknya. Farhan lantas membuka pelatihan khusus untuk anak-anak.

Awal mula membuka jumlahnya cukup banyak, bahkan angka menyentuh ratusan anak yang ingin belajar.

Seiring berjalannya waktu, anak didiknya sering silih berganti. Puncaknya saat pandemi Covid-19 yang menyebabkan tidak adanya murid yang ingin belajar sepatu roda.

Untungnya, kondisi ini mulai berubah seusai pandemi. Pria yang bertempat tinggal di Desa Kedawung, Kecamatan Nglegok ini mulai merintis lagi pelatihan sepatu roda.

“Yang gabung itu ada sekitar 10 anak. Cuma setelah tiga bulan anak-anak ini sering berganti, ganti orang,” terangnya.

Menurutnya, pergantian ini disebabkan oleh anggapan bahwa bermain sepatu roda itu mudah.

Ada juga yang sudah menjalani pelatihan namun menyerah di tengah jalan karena patah semangat belajar sepatu roda.

Biasanya dengan tiga bulan ikut pelatihan dan dirasa sudah bisa berjalan sudah dianggap cukup. Namun, nyatanya tidak segampang yang dibayangkan.

“Untuk berjalan menggunakan sepatu roda itu satu bulan. Setelah dua atau tiga bulan berikutnya sudah bisa meluncur menggunakan sepatu roda,"

"Namun, untuk melakukan trik-trik dalam sepatu roda terbilang sulit. Perlu waktu tiga tahun lebih untuk menguasai sebuah trik, jadi memang tidak sebentar,” jelasnya.

Olahraga Sepatu roda dibagi menjadi tiga jenis, yakni kecepatan, free style, dan agresif. Kecepatan ini menggunakan tiga trik, start, lari, dan belok.

Untuk free style itu bergaya dengan menggunakan Sepatu roda. Sedangkan agresif, itu bermain di area skate park.

“Sedangkan kita itu fokusnya di free style yang banyak memiliki trik dengan memanfaatkan cone. Untuk melewati cone alias pembatas ini membutuhkan setidaknya satu tahun,” ungkapnya.

Ternyata, kebiasaan setengah-setengah ini tidak hanya dialami oleh dirinya. Teman-temanya yang tersebar di berbagai daerah seperti Malang, Kediri dan Tulungagung juga mengalami nasib yang serupa.

“Sebenarnya peminat sepatu roda itu banyak. Namun kebanyakan mundur setelah tahu harga sepatu rodanya yang juga mahal,"

"Sepatu roda yang standar itu sekitar Rp 600 ribu-an, namun yang enak sekitar Rp 1 juta-an. Padahal Sepatu ini terbilang penting, jika harga sepatu roda di bawah Rp 600, itu sudah sulit untuk menggelinding,” jelasnya.

Hingga kini, sepatu roda Blitar raya terbilang minim peminat. Bahkan dirinya harus mengalah agar olahraga ini selalu ada peminatnya.***

Editor : M. Subchan Abdullah
#Kabupaten Blitar #Olahraga #pelatih #sepatu roda