BLITAR – Kasus penyebaran penyakit malaria di Blitar patut jadi perhatian. Pasalnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar mencatat ada 14 kasus malaria impor yang masuk dari berbagai daerah.
Adanya fakta bahwa penyakit ini tidak bisa disembuhkan membuat masyarakat wajib waspada dengan dampak yang ditimbulkan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto mengatakan, tahun lalu ada sekitar 10 kasus malaria di kabupaten.
Lalu, selama Januari hingga awal bulan ini sudah ada 14 kasus malaria. Seluruh kasus yang ada di wilayah Bumi Penataran diketahui berasal dari luar daerah.
Kini, belasan penderita malaria yang sudah diidentifikasi sedang menjalani pengobatan di puskesmas dan rumah sakit.
“Sebanyak 14 kasus malaria di Kabupaten Blitar ini diketahui memiliki riwayat seperti bekerja di daerah lain yang masih endemi malaria,"
"Seperti dari Kalimantan dan Papua. Namun, mereka dipastikan sudah mendapat penanganan seperti pengobatan untuk gejala yang dideritanya,” ujar Anggit.
Sampai saat ini, dinas memang belum menemukan kasus malaria primer. Itu karena wilayah Kabupaten Blitar menjadi salah satu dari sekian wilayah yang dikategorikan bebas malaria.
Menurut Anggit, penyakit malaria tidak bisa disembuhkan. Adapun langkah yang bisa diambil adalah pengobatan gejala. Misalnya, mual, pusing, hingga demam.
Bakteri penyebab malaria masih tetap ada pada tubuh manusia. Kondisi ini memungkinkan pasien kembali terserang malaria meski sudah dinyatakan sembuh.
“Ada rapid test khusus penyakit malaria setelah seseorang terkena gejalanya. Selain itu, bisa diketahui dengan pengambilan sampel darah. Dinkes juga baru saja melakukan pelatihan sampel darah,” ungkapnya.
Sama halnya dengan penyakit lain, malaria membutuhkan pemeriksaan penunjang. Tujuannya untuk mengambil langkah atau tindakan medis yang sesuai dengan standar.
Maka dari itu, seorang penderita malaria bergejala diwajibkan melakukan pengecekan darah terlebih dahulu sebelum diberi tindakan medis lanjutan.
Dia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan pola hidup sehat.
Di antaranya dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari gigitan nyamuk.
“Karena malaria penyakit yang cukup berbahaya dan hanya ditangani gejalanya saja,” tegasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra