Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bikin Merinding, Begini Kisah Horor Sopir Mobil Jenazah Rumah Sakit saat Bertugas di Blitar

M. Subchan Abdullah • Rabu, 27 Desember 2023 | 23:14 WIB
PERBANYAK DOA: Dwi Susanto (kiri) dan Hariyanto saat berada di dalam mobil ambulans. Pekerjaan ini mereka lakoni selama sekitar 1 dekade.
PERBANYAK DOA: Dwi Susanto (kiri) dan Hariyanto saat berada di dalam mobil ambulans. Pekerjaan ini mereka lakoni selama sekitar 1 dekade.

BLITAR - Ya, itu adalah pengalaman yang selalu diingat. Dia menceritakan kejadian di luar nalar yang sempat dialami ketika mengantar jenazah.

Kala itu, dia sedang mengantar jenazah seorang anak ke rumah duka. Tepatnya di Dusun Sekardangan, Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Blitar.

Sopir mobil ambulans dan jenazah di salah satu rumah sakit (RS) di Bumi Bung Karno ini berangkat sekira pukul 16.00.

Kondisi jalanan masih basah karena baru diguyur hujan. Gerimis juga belum reda. Hampir tak ada pedagang yang berjualan di sepanjang trotoar yang dilaluinya.

"Mungkin karena saat itu masih hujan. Juga tidak ada pengendara lain yang simpangan dengan saya," jelasnya kepada Koran ini.

Situasi masih normal ketika pria yang berdomisili di Desa Jatilengger, Kecamatan Ponggok, ini menurunkan jenazah di rumah duka.

Jalanan saat itu sepi dan lengang. Menjelang magrib, Hari mendadak memperlambat laju mobil.

Rupanya, dia mendengar suara seseorang yang memanggil.

"Saat itu malam Jumat. Pulangnya lewat akses yang sama, tidak ada orang. Tiba-tiba ada suara bertanya ‘dari mana pak lik?’. Saya cari, ternyata memang tidak ada orang sama sekali," papar bapak dua anak ini.

Setelah mengalami kejadian itu, dia bergegas masuk mobil dan kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Sepanjang jalan, bulu kuduknya merinding tak karuan. Pria yang sudah 8 tahun melakoni pekerjaan ini mengaku sulit melupakan momen tersebut.

"Sangat yakin dengan suara itu. Sebab, jalan benar-benar sepi. Saya bertugas sendirian. Saat itu saya banyak berdoa kepada Allah, mohon perlindungan, keselamatan," lanjutnya.

Soal kejadian-kejadian janggal, aroma wewangian ataupun bau anyir darah sudah biasa baginya.

Meski begitu, dia meyakini tidak semua sopir mobil jenazah mengalami pengalaman serupa.

Selain itu, ada pula pengalaman lain yang sejatinya masih sulit dia nalar. Tepatnya ketika perjalanan mengantar jenazah ke Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk.

Sebelum berangkat, dia memastikan mobil dalam kondisi aman. Termasuk bensin ataupun hal-hal teknis mobil lainnya.

Maklum saja, setiap hari selalu ada pengecekan mobil sebagai bagian prosedur utama rumah sakit. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi mobil mogok.

"Waktu itu di Kecamatan Papar sampai Mengkreng, Kediri, tiba-tiba mobil macet sampai empat kali. Padahal, mesin tidak ada kendala," tuturnya.

Setelah mogok, akhirnya mobil kembali melaju. Tak berlangsung lama, mobil kembali mogok.

Pria berperawakan tegap ini lantas meminjam selang warga setempat untuk mengecek bensin. Ternyata, bahan bakar kendaraan habis tak tersisa.

"Pikir saya mustahil, karena dengan kapasitas penuh, harusnya buat pergi-pulang masih bisa. Malah tersisa. Apalagi, tangki tidak bocor. Ini kok tiba-tiba habis," ungkapnya.

Setelah mengisi bensin, perjalanan pun dia lanjutkan hingga tiba di rumah duka. Meski sering kali mengalami hal tak terduga, dia berupaya untuk memantapkan hati dan banyak bersalawat serta berdoa kepada Sang Pencipta.

Kejadian tak logis juga pernah dialami rekan sejawatnya, Dwi Susanto. Pria yang sudah bekerja sebagai sopir jenazah selama 11 tahun ini pernah mengalami hambatan sepulang mengantar jenazah.

Melewati jalanan perbukitan dan mendadak lampu utama mobil padam, persisnya di Desa Suruhwadang, Kecamatan Kademangan.

Lebih dari 10 kilometer dia tempuh dengan penerangan yang minim dan seorang diri.

Walhasil, pria warga Kelurahan Karantengah, Kecamatan Sananwetan, ini cuma bisa mengandalkan cahaya korek miliknya. Bulu kuduknya tak berhenti berdiri.

Dwi lega setelah lampu menyala ketika memasuki kawasan kota.

"Saat mesin mati, lampu menyala. Tetapi saat dihidupkan malah mati. Aneh. Padahal ya tidak pernah seperti ini," jelas bapak berusia 53 tahun itu.

Saat ini, dia selalu mengajak teman selama bertugas mengantar jenazah ke luar kota.

"Kalau dalam kota, sendiri tidak masalah. Kalau di luar kota ajak teman. Jadi kalau malam ada gangguan, bisa cari solusi bersama, sekaligus untuk keamanan," bebernya.

Hariyanto dan Dwi tak hanya sekali mengalami kejadian janggal kala bertugas. Kendati sempat mendapat kejadian tak masuk akal, keduanya enggan selalu mengaitkan dengan hal-hal mistis.

Berdoa selama bekerja menjadi poin yang tak pernah luput dilakukan. Termasuk mencarikan akses yang mudah, serta mengirimkan doa untuk jenazah.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#Kabupaten Blitar #jenazah #cerita horror #sopir