BLITAR - Nining Srigati menemukan ide membuat kostum dari bahan alam berawal dari keisengan.
Mulanya, Nining tak sengaja menemukan bunga Pinus, lalu terbesit keinginan untuk dijadikan kerajinan. Warga Kota Blitar itu pun berinisiatif membuat mahkota dari bunga pinus.
Caranya simpel, mulai dari menempelkan bunga Pinus yang sudah dipotong pada spon ati berbentuk lingkaran.
“Kalau buat bunga kan sudah biasa ya. Akhirnya saya coba, ternyata kok bagus. Kemudian muncul ide lagi untuk melengkapi dengan kostumnya,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Selasa (26/12/2023).
Perempuan 40 tahun ini memang memiliki jiwa seni sejak usia sekolah. Sejumlah kerajinan yang dibuat berhasil membuahkan cuan.
Seperti kerajinan bunga dari sabun, miniatur masjid dari stik es krim, hingga kostum.
Semua bahan-bahan yang digunakan berasal dari alam. Seperti bunga pinus, goni, biji palem, bunga pohon jati, kerang, batok kelapa, bulu ayam, kelobot jagung, dan lainnya.
“Ada juga yang pakai kain kemben ibu saya buat baju kostumnya. Ditempel dengan bahan-bahan alam dan manik-manik supaya lebih cantik,” imbuhnya.
Menurut dia, ada keunikan tersendiri memanfaatkan bahan-bahan dari alam untuk membuat kostum.
Seperti terlihat klasik. Selain itu, khusus di Blitar belum ada yang membuat kostum serupa.
Kebanyakan kostum biasa. “Banyak yang menyepelekan. Dibilang sampah dan sebagainya,"
"Kalau saya ya cuek. Sampah kalau diolah dengan baik punya nilai seni. Buktinya, saya bisa mengolah sampah jadi karya seni,” ujar ibu dua anak ini.
Hampir enam tahun Nining membuat kostum dari alam. Hingga kini, 15 kostum sudah diciptakan.
Namun, sebagian ada yang rusak dan hanya tersisa mahkota. Kostum-kostum itu dibuat sendiri secara manual.
Dengan memanfaatkan waktu senggang di sela-sela kesibukan menjadi sebagai petugas kebersihan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar.
Nining mengaku bahwa dulu pernah ada yang membantu membuat kostum. Namun, hasilnya kurang sesuai dengan keinginan sehingga harus mengulang sedari awal. Sejak saat itu, semua dilakukan sendiri.
Jadi, tidak dapat dipatok berapa lama pembuatan satu kostum. Sebab, bisa dikatakan membuat kostum sebagai hobi yang dilakoni ketika ada waktu luang.
“Kalau mood-nya bagus, dulu pernah buat bulan Mei dan Agustus sudah harus tampil. Itu termasuk cepat, apalagi saya kerjakan sendiri. Mahkotanya cuma tiga hari,” paparnya.
Semua kostum buatannya dapat disewa. Jika lengkap dengan sayap bisa Rp500 ribu sampai Rp800 ribu. Namun, ada juga yang satu paket dengan make-up.
Terakhir, kostum miliknya sempat digunakan dalam event Sananwetan Cinta Balitar Damai (SCBD) dan berhasil mendapat juara kedua.
Namun, kendala dalam pembuatan kostum berbahan alam adalah dana. Meskipun berbahan dasar alam tetap butuh modal untuk keperluan membeli bahan pendukung lain.
Selain itu, kurangnya informasi dalam pemasaran karena mayoritas orang hanya menginfokan dari mulut ke mulut.
Dia berharap kostum buatannya bisa dikenal banyak orang.
“Dengan potensi ini, saya juga ingin berkontribusi untuk Kota Blitar. Paling tidak bisa menjadi ikon di Kelurahan Gedog, khususnya Lingkungan Ngegong,” pungkasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra