Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Klasterisasi Masalah Pelaku Usaha di Kota Blitar, Ketua AUM: Menata Kembali Pasar yang Hilang Akibat Pandemi

M. Subchan Abdullah • Selasa, 2 Januari 2024 | 22:10 WIB
PILAH-PILIH: Pelanggan berbelanja di salah satu gerai di mall Blitar Square
PILAH-PILIH: Pelanggan berbelanja di salah satu gerai di mall Blitar Square

BLITAR - Ketua Asosiasi Usaha Makanan dan Minuman (AUM) Kota Blitar, Asna Rosida mengungkapkan, pada 2023, mayoritas pelaku UMKM masih beradaptasi dengan suasana usai pandemi Covid 19.

Perlahan-lahan mulai bangkit dan memulai kembali usaha yang sempat macet. Utamanya pemasaran produk yang mulai meningkat signifikan berkisar 30-35persen.

“Kami mulai menata kembali pasar-pasar yang hilang karena pandemi. Saat ini mulai stabil, terlebih menghadapi liburan ini,” katanya kepada Jawa Pos Radar Blitar.

Pemasaran produk, lanjut dia, dilakukan secara online maupun offline. Namun yang diandalkan tetap pemasaran offline.

Sebab, untuk usaha makanan minuman (mamin), mayoritas dijual di pusat oleh-oleh. Yang selalu dicari oleh wisatawan usai berkunjung ke Kota Blitar.

Namun, banyak juga yang berhasil di pasar online melalui toko online masing-masing.

Menurut dia, kontribusi pemerintah sudah baik. Ketika pandemi, pelaku UMKM tetap mendapat bantuan. Sebagai pemantik untuk menjalankan usaha meski terdampak pandemi.

Beberapa produk UMKM lokal juga dibeli oleh pemerintah sebagai bingkisan hari raya.

“Kalau dibilang maksimal ya belum. Karena yang diurusi banyak, pelaku usaha jumlahnya puluhan ribu. Intinya pemerintah tetap peduli dengan pertumbuhan UMKM,” tambahnya.

Menurut Asna, masalah UMKM di Kota Blitar cukup kompleks. Namun, 2024 diharapkan pembinaan UKMM bisa lebih fokus pada pengelompokan atau klaster setiap permasalahan yang dimiliki oleh masingmasing pelaku usaha. Misalnya, kelas nol, kelas 1, 2, atau sampai ke profesor belum ada.

Dengan adanya permasalah yang tertata, pembinaan bisa maksimal. Tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masing-masing UMKM.

“Kalau di klasterklaster, permasalahan UMKM itu cukup kompleks, dan setiap pelaku usaha punya masalah yang bedabeda. Mulai terkait pemasaran, legalitas, atau bagaimana cara memulai sebuah usaha,” jelasnya.

Selain itu, lebih maksimal untuk mendorong dan memborong produk UMKM lokal. Harapannya agar produk lokal punya branding yang kuat di kotanya sendiri.

Pelatihan UMKM sudah banyak dilakukan oleh setiap dinas terkait, tetapi hanya secara global. Dengan begitu, jika ada klaster yang sesuai dengan permasalahan itu, pelaku UMKM akan lebih terarah.

“Ini sesuai dengan visi pemerintah Kota Blitar yang mengaharapkan muncul dua wirausaha baru di setiap kelurahan “ tambahnya.

Terpisah, Ketua Asosiasi Usaha Mikro (ASUMI) Kota Blitar Priyo Widigdo menambahkan, selama ini pemerintah sudah banyak memberikan pelatihanpelatihan. Kini pelaku usaha tinggal menaikkan kualitas produk.

Baik dari sisi kemasan atau packaging yang lebih menarik. Menurutnya, dari segi rasa atau bentuk sudah bagus, hanya kemasan yang kurang maksimal.

“Sehingga di pasar modern kurang menarik dan kurang dilirik,” katanya.

Saat ini, lanjut dia, pihaknya sudah mengajukan untuk pengadaan rumah kemasan dan pusat layanan UKM terpadu (PLUT).

Fasilitas itu mempermudah para pelaku usaha untuk berkeluh kesah tentang apa pun permasalahan dalam mengembangkan usaha. Mulai manajemen, pemasaran, kemasan, hingga perizinan bisa dilakukan dalam satu tempat.

“Kami sudah koordinasi dan disepakati. Harapannya bisa direalisasi tahun depan. Jadi, satu gerakan bisa mencakup semuanya,” paparnya.

Selama 2023 ini, yang harus digaris bawahi adalah terkait arah pemasaran produk. Sepanjang tahun ini sudah banyak pelatihan yang diberikan. Namun, kurang ada tindak lanjut terkait pemasaran dari hasil produk yang diberikan.

Pemerintah sering mengadakan kegiatan bussines matching. Pelaku usaha langsung bertemu dengan pembeli.

Selain itu, event bazar atau pameran sudah bagus. Namun, hanya sedikit menjaring pembeli karena bersifat umum. Bukan mendatangkan pembeli atau buyer.

“Yang kita harapkan, pelaku usaha bisa tahu mana yang benar-benar membutuhkan produk kita. Kami sudah banyak menerima pelatihan industri dengan produk yang sama,"

"Nah, kalau produksi menumpuk dan pembeli hanya stuck ditempat dan jumlah yang sama, lalu bagaimana dengan produk lain? Tentu kami berharap ada pemasaran yang terarah,” tandasnya.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#UMKM #pelaku usaha #Kota Blitar