BLITAR - Pembangunan infrastruktur di Kabupaten Blitar tentu akan berdampak langsung pada perputaran ekonomi dari sektor pariwisata.
Pemkab Blitar melalui dinas terkait sedang memetakan potensi berdasarkan karakteristik di masing-masing wilayah.
Adapun fokus pengembangan wisata di tahun ini dialamatkan ke wilayah Blitar selatan.
Kepala Disbudpar Kabupaten Blitar Suhendro Winarso mengungkapkan, secara geografis, wilayah kabupaten terbagi menjadi lima wilayah wisata.
Yakni, selatan, timur, utara, barat, dan tengah. Masing-masing wilayah memiliki karakteristik tersendiri.
“Sesuai dengan hasil koordinasi dengan lintas sektor, wilayah Kabupaten Blitar kita bagi menjadi lima bagian berdasarkan karakter wisatanya,” ucap laki-laki yang akrab disapa Hendro ini.
Dia merinci, wilayah utara bakal difokuskan untuk mengembangkan destinasi wisata budaya dan alam, wilayah tengah berkarakteristik wisata buata, wilayah selatan untuk pengembangan wisata alam, sedangkan wilayah timur dan barat bakal difokuskan sebagai gerbang wisata.
“Misal, di barat kita ada pendapa Hand Asta Sih yang merupakan rest area dan bisa jadi jujukan,"
"Wilayah timur kita kembangkan melalui desa-desa wisata yang ada di Kecamatan Gandusari. Kalau wilayah tengah dan utara karakteristiknya adalah wisata buatan, alam, dan budaya,” bebernya.
Sedangkan wilayah Blitar selatan memiliki potensi dari sektor wisata alam, utamanya pantai. Itu membuat dinas membuat masterplan puluhan pantai di pesisir selatan.
Teknisnya, Disbudpar bakal merinci potensi, kebutuhan, hingga segmentasi di masingmasing pantai. Diharapkan hal ini dapat menjadikan wisata pantai jadi jujukan utama para pelancong lokal maupun internasional.
“Risngkasnya, nanti dibuatkan gambaran seperti apa karakter masing-masing wisata pantai berdasar kekhasannya,"
"Karena masingmasing pantai punya ciri. Ada yang kuat di wisata kuliner, surving, diving, spot memancing, dan industri kreatif lainnya,” katanya.
Hendro menambahkan, tercatat ada sebanyak 42 pantai di Kabupaten Blitar yang masuk ke dalam masterplan pengembangan wisata di tahun ini.
Pengambilan kebijakan ini tak lepas dari keberadaan jalur lintas selatan atau JLS Blitar yang disebut bisa meningkatkan gairah wisata di Blitar Selatan.
Dalam beberapa waktu ke depan, lanjut Hendro, dinas bakal menggelar pelatihan dan bimibingan teknis (bimtek) kepada para pelaku wisata.
Tujuannya agar sumber daya manusia (SDM) yang bersinggungan langsung dengan kegiatan wisata punya kompetensi untuk mengolah dan mengembangan destinasi di wilayahnya.
Tapi, Hendro belum dapat merinci secara pasti berapa nominal anggaran yang akan dikucurkan untuk merealisasi program ini.
“Setelah adanya jalur lintas selatan, di wilayah selatan mulai banyak tumbuh warung, rumah warga, atau kegiatan industri lainnya. Itu berarti potensinya ada,” sebutnya.
Meski fokus di tahun ini ada di wilayah selatan, dia menegaskan bahwa pengembangan wisata di wilayah lain juga tak kalah penting.
Sebab, industri wisata merupakan penggerak ekonomi yang memiliki miltiplier effect alias efek berganda bagi sendisendi ekonomi lainnya.
“Prioritas bukan berarti anak emas ya. Semua dikembangkan. Tapi kita tetap harus punya skala prioritas,” pungkasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra