Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Peternak Ayam Petelur di Kabupaten Blitar Terus Merosot, Ketua Koperasi Beberkan Alasannya

Mohammad Syafi'uddin • Kamis, 4 Januari 2024 | 16:00 WIB
TAK MAKSIMAL: Seorang peternak di Desa/Kecamatan Ponggok memberi makan hewan ternak di kandang miliknya.
TAK MAKSIMAL: Seorang peternak di Desa/Kecamatan Ponggok memberi makan hewan ternak di kandang miliknya.

BLITAR – Tingginya harga pakan membuat peternak ayam petelur di Kabupaten Blitar galau.

Pasalnya kondisi itu tak sebanding dengan harga jual telur ayam yang terus merosot. Tak pelak kondisi ini membuat sekitar 20 persen peternak kategori mikro gulung tikar.

Kondisi ini tentu kudu jadi perhatian banyak pihak. Sebab, selama ini wilayah Blitar dikenal sebagai salah satu produsen telur terbesar di tanah air.

Ketua koperasi peternak ayam petelur Kabupaten Blitar Sukarman menjelaskan bahwa, turunnya harga telur terjadi sejak pandemi Covid-19.

Dalam beberapa tahun belakangan, jumlah 'pemain' alias peternak memang sedikit mengnalami peningkatan. Tapi itu tak bertahan lama.

“Setelah Covid-19 langsung turun drastis. Namun setelah kejadian ini sedikit demi sedikit sudah ada penambahan populasi,” jelasnya.

Menurutnya, hal ini wajar. Sebab, memang dibutuhkan modal cukup besar sebelum memulai kegiatan usaha ternak ayam petelur.

“Jika dalam satu kandang membutuhkan seribu ayam, maka dibutuhkan modal Rp 100 juta. Makanya peningkatan populasi itu cenderung rendah dan tidak bisa langsung banyak. Terutama untuk peternak UMKM yang memiliki ayam dibawah sekitar 10 ribu ekor,” lanjutnya.

Dia melanjutkan, banyak pelaku usaha ternak kategori mikro yang tumbang. Sedangkan peternak ayam petelur dengan jumlah populasi 10 ribu ekor ayam atau lebih justru mengalami peningkatan. Alasannya tentu karena para peternak mikro kekurangan modal dalam usahanya.

“Ada penambahan populasi, terutama yang besar. Jadi yang kecil banyak yang tumbang sedangkan yang besar cenderung bertambah populasinya,” ujarnya.

Dia mengungkapkan bahwa penurunan peternak kecil sejauh ini ada di angka 20 persen. Sedangkan kategori peternak didasarkan pada jumlah populasi ayam miliknya.

Peternak dengan jumlah populasi sekitar 11.500 ekor ayam atau kurang dikategorikan mikro, peternak dengan populasi sekitar 11.500 hingga 200 ribu ekor ayam atau lebih disebut peternak menengah.

Sukarman melanjutkan, bahwa tiga bulan terakhir ini harga telur turun drastis. Bahkan di bawah harga minimal yang ditetapkan pemerintah.

“Sekarang harga telur Rp21.500 per kilogram. Sedangkan normalnya Rp22-24 ribu per kilogram. Namun jika dibandingkan harga pakan, seharusnya Rp26-28 ribu per kilogram,” jelasnya.

Adapun harga jagung kering untuk pakan ternak saat ini di angka Rp 7.900 per kilogram. Sedangkan harga jagung dalam kondisi normal hanya berkisar Rp5 ribu per kilogram.

Penggunaan jagung memang sangat penting bagi peternak. Yakni mencapai 50-55 persen dari total pakan yang diberikan kepada ternak.

Para peternak. Lanjut Sukarman, sempat bernapas lega begitu mendapati kabar adanya bantuan dari pemerintah pusat melalui Bapanas.

Bantuan yang dimaksud berupa pengadaan jagung impor di tahun lalu. Meski begitu, dia tetap berharap kondisi ini direspon oleh pemkab agar para peternak bisa bertahan.

“Jagung impor memang sudah diterima. Sehingga kini sudah disalurkan ke peternak-peternak dengan harga Rp 5.350-5.500 per kilogram. Tapi kami berharap agar kondisi ini bisa dijadikan perhatian oleh pemerintah setempat,” ungkapnya.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#peternak #UMKM #peternak ayam petelur