BLITAR - Berawal pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar terkait untuk ajang RT Keren Kota Blitar, kelompok Ibu-ibu beranggotakan 6 orang ini mulai produksi aneka keripik dari buah. Yakni dari pisang, nangka, pepaya, dan salak.
Buah-buahan itu didapat secara lokal dengan memanfaatkan lingkungan sekitar. Misalkan, buah nangka diperoleh dari tanaman tetangga.
Namun, sesekali mengambil buah dari luar daerah jika stok milik warga sekitar sudah kosong.
“Iya kami memang utamakan dari tetangga sekitar. Kalau semua sudah diambil, stoknya kosong ya kami cari dari daerah lain. Misalnya kabupaten yang banyak buah nangka dan pisang,” kata Nana Novita, kepada Koran ini Rabu (3/1/2024).
Nana, sapaan akrabnya, mengatakan semua buah bisa dijadikan keripik. Namun, tergantung kadar air dimiliki.
Sebab, jika kandungan air dalam buah banyak, akan membuat keripik mudah melempem. Selain itu, harus memperhatikan tekstur dan rasa buah itu sendiri.
Untuk keripik nangka menggunakan buah nangka matang dan segar. Namun, tidak semua nangka bisa digunakan. Contohnya, nangka bubur dan cempedak punya tekstur lembek.
Buah nangka dipisahkan dengan bijinya dan dicuci bersih. Selanjutnya, di-freezer sehari semalam baru bisa digoreng menggunakan alat khusus vakum friyer.
“Jadi nggak bisa langsung diolah. Untuk menjaga rasa dan warna agar tidak berubah dari kondisi aslinya,” jelas ibu dua anak ini.
Satu kali proses penggorengan butuh hingga 2 jam. Sementara rambak pisang bisa sampai 3 jam 30 menit.
Dari bahan sekitar 4,5 kilogram (kg) bahan baku nangka akan menyusut menjadi sekitar 1 kg. Sedangkan 3,5 kg salak sudah dipisahkan dengan bijinya susut jadi 6-7 ons.
Itulah membuat harga keripik buah mahal. Sebab, proses pembuatan keripik butuh waktu lama.
Sedangkan rambak pisang, menggunakan jenis pisang kapasari matang dan segar. Usus pepaya dipilih pepaya tua dan warnanya putih. Atau memiliki tekstur keras dan belum lembek.
“Semua prosesnya hampir sama. Tapi kalau usus pepaya setelah dipasah harus dijemur sebelum diberi bumbu dan digoreng,” terangnya.
Semua olahan keripik buah tidak menggunakan tambahan pewarna ataupun pengawet.
Rasa dan warna yang dihasilkan dari buah asli. Keripik buah bisa tahan sampai setahun jika disimpan dengan tepat.
Menurut dia, kendala pengolahan keripik buah dari bahan baku. Terkadang banyak pesanan namun stok bahan baku sedikit. Selain itu, pemilihan buah yang tepat harus diperhatikan.
“Misalnya nangka kita nggak tahu kualitas isinya, karena beli buah utuh. Kadang ada isinya besar-besar tapi rasanya kurang manis. Jadi cara memilih buah harus tahu,” paparnya.
Terkait pemasaran keripik buah, ada di pusat oleh-oleh MBK, Masjid Ar-Rahman, swalayan, untuk lokal.
Sementara luar daerah Lombok, Jakarta, Jember, hingga Hong Kong. Pemasaran online melalui market place. Momen Natal dan tahun baru, hingga Lebaran menjadi momen banjir pesanan.
“Kini masih fokus sama keripik buah. Tapi ada rencana mengolah keripik sayur seperti wortel dan sebagainya. Karena di Blitar jarang yang membuat keripik sayur,” pungkasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra