Dalam pembangunan aloon-aloon Blitar, digunakan sebuah pakem yang juga digunakan oleh daerah-daerah di wilayah Jawa.
Yaitu dikelilingi oleh kediaman penguasa pada bagian utara, penjara pada bagian timur, kantor pemerintahan pada bagian selatan, dan masjid pada bagian barat.
Sekarang, aloon-aloon Blitar telah berubah fungsi menjadi taman kota yang menjadi tempat berbagai macam kegiatan masyarakat.
Aloon-aloon ini dilengkapi dengan jogging track dan sarana fitness sederhana, sehingga membuat masyarakat gemar menikmati kesejukan udara pagi sambil berolahraga di sana.
Aloon-aloon Blitar dikelilingi oleh pohon beringin dan terdapat sebuah pohon beringin yang diberi pagar di bagian tengahnya.
Selain untuk berolahraga, aloon-aloon Blitar juga digunakan untuk ragam kegiatan pemerintahan seperti upacara dan rangkaian kegiatan kenegaraan lainnya.
Bagian utara aloon-aloon terdapat dua buah bangunan semacam pendopo, sedangkan kendaraan bisa masuk melalui pintu selatan.
Pintu utara tidak dapat diakses oleh kendaraan, sehingga parkir kendaraan di bagian dalam aloon-aloon sisi selatan dengan biaya parkir yang kontroversial, yaitu Rp. 5.000 untuk sekali parkir.
Meski sering mendapat teguran dari dinas terkait, namun fakta di lapangan, biaya parkir berkisar Rp3.000 – Rp5.000 untuk kendaraan roda dua. Sedangkan parkir resmi hanya Rp. 2.000 untuk sekali parkir.
Pemandangan indah juga bisa dinikmati di aloon-aloon Blitar ketika sore hari. Siluet Masjid Agung Blitar dengan warna kejingga-jinggaan menarik pengunjung untuk sekedar berhenti sejenak menikmati sore sambil menyaksikan anak-anak bermain sepak bola.
Selain aloon-aloon, Blitar juga memiliki tempat wisata baru yang terletak di sebelah selatan aloon-aloon, yaitu Taman Pecut.Untuk mencapai aloon-aloon Blitar, lokasinya berada di pusat kota di Jalan Merdeka Kota Blitar.***