Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

PPA Kabupaten Blitar Turun Tangan Kawal Kasus Pengroyokan Santri, Bagaimana Nasib Para Pelaku yang Masih Di Bawah Umur

Fajar Ali Wardana • Senin, 8 Januari 2024 | 14:00 WIB
BERDUKA: Suasana rumah duka korban pengroyokan, MAR, di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Minggu (7/1/2024).
BERDUKA: Suasana rumah duka korban pengroyokan, MAR, di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Minggu (7/1/2024).

BLITAR - PPA Kabupaten Blitar langsung turun tangan untuk ikut mengawal kasus pengroyokan yang melibatkan sejumlah santri. Khususnya mengawal bebeberapa santri yang terlibat mengeroyok korban hingga harus berurusan dengan hukum.

Apalagi, korban Muhammad Ali Rofqi harus meninggal dunia usai dirawat intensif di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar.

Pendamping Hukum PPA Kabupaten Blitar Yulis Hastutik mengaku mendengar kabar kasus pengeroyokan di sebuah pondok pesantren di Sutojayan pada Kamis (3/1/2024). Pihaknya bergegas ke rumah sakit untuk koordinasi dengan keluarga.

“Usai dikabari kasus pengeroyokan ini, kami langsung ke rumah sakit untuk mengecek kondisi korban dan berkoordinasi dengan keluarga. Kami sudah mendampingi pelaporan ke Polres Blitar,” ujar Hastutik, Minggu (7/1/2024).

Dia mengaku kaget mendapatkan kabar bahwa korban telah meninggal dunia meski sudah mendapatkan penanganan intensif. Usai berkoordinasi dengan keluarga korban, kemudian diputuskan untuk melanjutkan proses hukum dari kasus tersebut.

PPA Kabupaten Blitar juga telah berkoordinasi dengan Kelurahan Kalipang, Kecamatan Sutojayan, yang menjadi lokasi peristiwa pengeroyokan. Koordinasi ini tidak lain untuk mendampingi anak-anak yang berhadapan dengan hukum.

Sebab, ada belasan anak yang diduga terlibat dalam kasus ini. “Kami melihat luka korban ada memar di wajah. Bahkan juga terdapat luka di punggung yang tidak dilakukan dengan tangan kosong,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi, sebenarnya PPA telah melakukan sosialisasi berulang-ulang. Bahkan dilakukan pada berbagai instansi, mulai dari sekolah hingga lembaga pendidikan nonformal.

“Memang harus kerja sama dengan semua sektor. Sebab, ponpes yang dianggap masyarakat aman dan terlindungi ternyata juga terjadi kasus kekerasan,” tutur Hastutik. (jar/c1/hai)

Editor : M. Subchan Abdullah
#santri #Pengroyokan #PPA Kabupaten Blitar #ponpes blitar #santri blitar