Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mohammad Ariel Alfarizal Untung Besar Geluti Peternakan Kambing, Tiap Bulan Kantongi Puluhan Juta

Agus Muhaimin • Senin, 8 Januari 2024 | 19:32 WIB
TEKUN: Beberapa kambing boer milik Mohammad Ariel Alfarizal.
TEKUN: Beberapa kambing boer milik Mohammad Ariel Alfarizal.

BLITAR-Ingatan itu masih membekas dalam benak Mohammad Ariel Alfarizal. Kala itu, saat masih menginjak kelas satu SMK, dia harus bergelut dengan kehidupan untuk mencari uang demi mencukupi kebutuhan. Terutama ketika sang ayah berada di rumah sakit karena terpapar Covid-19.

Karena keterpaksaan inilah, Rizal memberanikan diri mencoba menjual kambing yang selama ini dipelihara. Merasa untung, bisnis pun berlanjut hingga akhirnya mampu mengirim kambing ke berbagai wilayah.

Warga Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, ini mengaku sudah menekuni bisnis sejak usai 16 tahun.

Semula hanya kambing jawa milik orang tuanya. Kini, dia memiliki jenis baru yakni kambing boer asal Australia.

“Kalau sekarang saya sudah menjual di berbagai daerah di Jawa. Mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat sudah pernah saya lakukan. Termasuk di Lampung, Riau, Kalimantan, dan Pontianak. Semua sudah pernah,” ujarnya.

Laki-laki yang kini menginjak 18 tahun ini mengaku ada 5 sampai 20 ekor kambing boer dalam sekali pengiriman.

“Ya, permintaan ini tergantung pemesan. Terlebih kambing boer ini masih sedikit peternak yang tahu,” jelasnya.

Rizal bersyukur enemukan ide bisnis ini. Terlebih, perbedaan keuntungan perdagangannya cukup signifikan antara kambing jawa dan kambing boer. Dalam sebulan, dia mampu mendapatkan omzet Rp20 juta. Tergantung banyaknya kambing yang dijual.

“Paling sedikit itu untung di atas Rp10 Juta,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, harga kambing jawa induk jenis jawa randu berkisar 2,5 juta. Namun, jumlah ini masih dianggap sedikit jika dibandingkan dengan kambing boer.

Pasalnya, harga 2,5 juta hanya mampu untuk membeli anakan kambing boer yang sudah tidak menyusu.

“Memang perbedaannya itu sangat besar. Makanya saya senang di bisnis ini. Soalnya kambing boer bisa laku Rp40 juta per ekor, tergantung berat dan corak warna,” ujarnya.

Dia menjelaskan, keberadaan kambing boer di Indonesia diterima dengan tangan terbuka. Tujuannya untuk memperbaiki genetik kambing lokal agar nilai ekonomi kambing lokal meningkat.

Secara fisik, ada beberapa ciri yang membedakan kambing boer dengan kambing lokal. Kambing boer memiliki daging lebih banyak dengan tubuh cenderung bulat. Karena itu, dari berat jelas beda jika dibandingkan dengan kambing lokal.

Tinggi kambing boer cenderung lebih pendek daripada kambing lokal. Namun memiliki dada yang terbilang lebar.

“Kalau bobot kambing boer itu bisa 1 kuintal lebih. Bisa 130 kg hingga 150 kg. Bahkan, keunggulan kambing ini di dagingnya yang memang lebih banyak dari kambing lokal,” ujarnya.

Jika dibandingkan, dua ekor kambing jawa beratnya bisa sama dengan seekor kambing boer. Selain segi bobot, kambing boer juga memiliki tulangan yang kecil. Dengan begitu, daging kambing boer lebih banyak daripada kambing lokal yang memiliki tulangan besar.

“Tanduk kambing boer lebih panjang dan berbentuk sabit. Pemeliharaannya juga cukup mudah, seperti kambing pada umumnya,” lanjutnya.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#kambing #Kabupaten Blitar #ekspor #peternakan #ternak