Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Aloon-Aloon Kota Blitar Jaman Kolonial Belanda, Pernah Jadi Arena Pertarungan antara Macan dan Manusia

Muhammad Bay Haki • Senin, 8 Januari 2024 | 19:00 WIB
Sejarah alun-alun kota blitar dengan kisah mistisnya.
Sejarah alun-alun kota blitar dengan kisah mistisnya.

BLITAR - Blitar merupakan sebuah kabupaten kecil yang terletak di Jawa Timur yang memiliki luas total 1.336,48 km2 dengan populasi penduduk pada tahun 2015 sebesar 126.600,39 jiwa.

Alun-Alun kota blitar merupakan salah satu tinggalan saksi bisu perjalanan sejarah kabupaten blitar pada masa kolonial belanda tersebut,sebelum tahun 1848 pusat pemerintah kabupaten blitar tidak berada diwilayah kota blitar saat ini.

Bupati Blitar yang pertama adalah yang bernama MR.Aryo Ronggo Hadi Negoro yang memindahkan pusat pemerintahan dari pinggir sungai pakunden.

Pro wilayah kota Blitar saat ini karena pemerintahan sebelumnya terkena dampak letusan erupsi Gunung Kelud pada masa kolonial belanda, alun-alun Blitar juga mendapatkan pengaruh semua ini.

Dibuktikan dengan adanya sel tahanan di sebelah timur alun-alun di balik keindahan awan kota Blitar banyak orang yang tidak mengetahui siapa arsitek alun-alun tersebut. Arsiteknya adalah Budiman Jogyodigo atau banyak di kenal dengan nama Enyang Djogyodigdo.

Beliau lahir pada tanggal 29 Juli 1827 beliau akhir dibuat Progo dan meninggal pada tanggal 11 Maret 1908,di usianya ke-82 tahun beliau dimakamkan di jalan Melati Nomor 43,Blitar yang terkenal dengan nama makam gantung Enyang joyodigo.

Di alun-alun Kota Blitar dahulu sering diadakan ritual rampokan macan atau perkelahian antara manuasia dengan harimau dan macan. Ritual tersebutlah yang mengakibatkan populasi harimau Jawa menurun dengan drastis.

Ritual rampokkan ini kemudian dihentikan oleh pemerintah Hindia-Belanda dikarenakan tradisi pembantaian harimau ini akan mengakibatkan populasi harimau di Jawa menurun dengan drastis. Lalu pada tahun 1910 pemerintah Hindia-Belanda mengeluarkan undang-undang perlindungan bagi mamalia dan burung liar.

Sehingga praktis sejak saat itu tradisi rampokan macan ditiadakan. Kini alun-alun itu mulai berubah fungsi yang digunakan sebagai transit bagi para pamong praja atau rakyat yang ingin menghadap Bupati maupun untuk kegiatan-kegiatan yang disenggarakan Bupati.

Sekarang mengedepankan sebuah ruang tata hijau atau taman yang terkadang untuk berbagai kegiatan masyarakat seperti upacara, olahraga, area bermain dan fungsi sosial lainnya. (hak/sub)

Editor : M. Subchan Abdullah
#rampokan macan blitar #sejarah #Kabupaten Blitar #Alun Alun Blitar #wisatawan #Kota Blitar