BLITAR - Sopingan, warga Desa Ngoran, Kecamatan Nglegok, Blitar, harus bertaruh nyawa untuk menghasilkan Rp300 ribu per hari.
Pekerjaannya sebagai petani gula kelapa membuatnya rela memanjat pohon kelapa yang tingginya mencapai puluhan meter.
Meski terbilang miris, Sopingan tetap memilih pekerjaan ini sebagai mata pencaharian utama.
Alasannya, dia menilai kebutuhan masyarakat akan salah satu sumber glukosa ini terbilang besar. Nah, dibutuhkan proses yang panjang dalam pembuatan gula merah.
Pertama, Sopingan harus mencari buah kelapa dengan kualitas terbaik. Kegiatan ini biasa ia lakukan setiap pagi dan sore hari.
Proses pengambilan buah kelapa memang harus dilakukan dengan cara memanjat pohon. Sebab, dengan cara ini petani bisa memastikan aliran sari kelapa bisa mengalir secara deras usai disayat bagian kuncupnnya.
“Berangkat itu biasanya pagi setelah subuh dan sore setelah asar,” ujarnya.
Setelah dirasa cukup mengumpulkan sari kelapa, langkah selanjutnya adalah menyaring sari kelapa agar kotoran di dalam komplong atau wadah sari kelapa tidak ikut masuk.
“Kemudian dimasak hingga air yang terkandung dalam sari kepala menguap,” imbuhnya.
Proses ini butuh waktu paling lama dibanding proses lainnya. Bahkan, proses ini bisa memakan waktu hingga setengah hari dengan panas yang cukup menyengat.
“Prosesnya memang lama dan bisa berjam-jam. Setelah ini akan saya masak sampai tinggal sari yang mengendap,” ujar Ria Cristiani, putri Sopingan.
Selang beberapa waktu, parutan kelapa ditaburkan ke dalam larutan gula agar buih-buih yang naik ke permukaan bisa kembali turun.
Lalu, lanjut dimasak hingga gula berwarna merah dan memiliki tekstur yang lengket. Itu menandakan gula sudah matang.
Langkah selanjutnya adalah menyiapkan dan menuangkan gula kelapa ke dalam cetakan. Setelahnya didiamkan hingga mengeras. Dari 30 pohon, Ria mengaku bisa memproduksi sekitar 20-23 kilogram (kg) gula merah.
“Ya itu tergantung cuaca. Kalau musim kemarau bisa dapat sari banyak. Namun kalau penghujan, sari gula malah lebih sedikit. Yang banyak justru airnya,” ujar wanita 31 tahun ini.
Harga gula merah di pasaran terbilang variatif. Itu tergantung dari ukuran gula. Untuk cetakan besar, hari ini dihargai Rp18 ribu per kg, sedangkan cetakan kecil Rp17.200 per kg.
“Kalau kami, dua hari sekali dimasak hingga matang agar lebih banyak. Biasanya sekali jual dapat sekitar Rp 300 ribu,” ucapnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra