BLITAR - Perkumpulan pedagang terdampak pohon beringin tumbang di Alun-Alun Kota Blitar, Minggu (7/1/2024) lalu, menduga bahwa salah satu penyebab pohon tumbang adalah dampak pembangunan gorong-gorong pada 2022 lalu. Proyek tersebut dinilai merusak struktur akar.
Menanggapi polemik itu, Wali Kota Blitar Santoso mengaku bakal melakukan evaluasi lebih lanjut.
Dugaan penyebab tersebut menjadi masukan positif untuk perencanaan pembangunan mendatang. Pihaknya tidak ingin berkomentar lebih jauh terkait dugaan tersebut.
Menurut Santoso, pohon beringin yang tumbang di area timur alun-alun itu murni karena bencana alam.
“Yang pasti, masukan dan saran kami terima dan dapat kami pertimbangkan. Jangan sampai niat bagus, dalam pelaksanaannya ada sesuatu terlupakan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, di kantornya, Selasa (9/1/2024).
Dia menyebut bencana pohon tumbang tidak hanya terjadi di Bumi Bung Karno. Namun, di beberapa daerah lain juga terjadi. Persoalan tersebut kini menjadi pekerjaan rumah bersama.
Pascakejadian pohon tumbang hingga mengakibatkan 10 orang terluka, pemkot langsung menyalurkan bantuan kepada korban. Pemkot juga siap untuk menanggung seluruh biaya perawatan serta kerugian pedagang.
“Yang penting pemda segera ambil langkah dalam meringankan beban kepada yang kena musibah. Setelah itu, baru kami evaluasi penyebabnya agar tidak terjadi lagi,” paparnya.
Diketahui, pembangunan proyek gorong-gorong di area timur Alun-Alun Kota Blitar itu diawali pada 2022 lalu. Pengerjaan proyek gorong-gorong atau drainase itu satu paket dengan pelebaran ruas Jalan Merapi. Proyek drainase dampak dari pelebaran jalan sehingga harus digeser ke sisi barat.
Dasar proyek tersebut salah satunya juga untuk memberi ruang parkir bagi pengunjung alun-alun dan area berjualan PKL. Proyek tersebut menelan anggaran sekitar Rp1,2 miliar. Selain pembangunan gorong-gorong, anggaran juga untuk peningkatan Jalan Merapi, serta pembuatan lahan parkir dan taman.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Blitar Suharyono mengaku telah menerima audiensi penasihat PKL Bumi Proklamator, M. Triyanto.
Dalam pembahasan itu, pedagang meminta ada upaya kaji ulang atas proyek tersebut.
“Beliau (M. Triyanto, Red) bilang tidak ingin menyalahkan satu dan lainnya. Intinya ini sudah terbangun, makanya perlu dikaji kembali di mana yang salah? Kalau memang ada yang keliru, harus ada perbaikan,” paparnya.
Paguyuban pedagang menyampaikan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar dan berkomitmen merabas pohon di pekan ini. kemudian, DPUPR bakal melakukan pengkajian ulang dengan DLH terkait nasib taman di area timur alun-alun tersebut.
“Pengkajian ulang alun-alun itu harus dibahas secara komprehensif melibatkan pemerhati lingkungan dan masyarakat. Kami kaji bersama DLH. Apakah pembuatan taman perlu dikurangi atau tidak. Baiknya sesuai kaidah seperti apa,” terangnya.
Pemkot menyatakan bahwa pembangunan taman dan gorong-gorong itu sebelumnya telah melalui berbagai pertimbangan dan kajian maksimal. Namun, perlu ada evaluasi atas peristiwa pohon tumbang itu sebagai antisipasi saat musim penghujan.
“Ini harus diteliti, karena ini jadi pengalaman untuk meneliti pohon yang lain. Tidak cuma beringin alun-alun saja, tapi di semua jalan yang ada pohon itu dicek,” tuturnya.
Sebelumnya, 10 orang dilarikan ke rumah sakit usai ditimpa pohon beringin di sisi timur Alun-Alun Kota Blitar pada Minggu (7/1/2024) lalu.
Pohon tumbang terjadi akibat diterjang angin kencang dan hujan deras. Sebanyak enam rombong juga mengalami kerusakan serius. Paguyuban pedagang pun meminta agar pemerintah turut andil dalam penanganan musibah itu.
“Mau makan sama apa kalau tidak segera berdagang? Atas peristiwa ini pemkot sudah meng-cover biaya ganti rugi. Kami sudah bersurat ke dinas terkait. Kerugian total Rp 50 juta,” tandas Sekretaris Paguyuban PKL Alun-Alun Kota Blitar, Septy.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra