Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Ryssa Putri, Gen Z Asal Blitar yang Sukses Jadi Produsen Jam Tangan Kayu Estetik

M. Subchan Abdullah • Rabu, 10 Januari 2024 | 20:38 WIB
INOVATIF: Ryssa Putri, warga Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan menunjukkan produk jam tangan kayu bikinannya, Selasa (9/1/2024).
INOVATIF: Ryssa Putri, warga Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan menunjukkan produk jam tangan kayu bikinannya, Selasa (9/1/2024).

BLITAR - Ruangan bergaya modern di lantai dasar itu jadi area yang paling banyak disinggahi oleh Ica, sapaan akrab Ryssa Putri.

Beberapa jam unik tersusun rapi di beberapa sudut ruangan. Yang menambah estetik yakni perpaduan warna antara tali strap dan dial jam, serta bingkai jam berbahan baku kayu.

Perempuan berusia 24 tahun ini memiliki latar belakang yang selaras dengan usaha yang digeluti saat ini.

Ica merupakan lulusan desain produk di salah satu universitas di Surabaya. Dia kemudian magang di tempat usaha pembuatan jam tangan kayu terkemuka.

“Di situlah aku dapat bassic, ilmu soal cara-cara bikin jam tangan kayu. Karena terlanjur suka sama jam tangan, akhirnya memutuskan merintis,” ujarnya sambil menunjukkan beberapa hasil jam tangan buatannya, Selasa (9/1/2024).

 Baca Juga: Cerita Nurul Hidayah, Geluti Bisnis Klinik Kecantikan, Pastikan Treatment Manjur

Anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku, kayu yang dipakai untuk memproduksi jam bukan kayu khusus nan utuh.

Melainkan kayu limbah dari perajin yang dia kenal. Meski begitu, dia mampu membuat limbah yang biasanya berakhir di tungku perapian itu, memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

“Desain series jamnya kotak. Saya kombinasi warna, seperti dial jam di dalamnya, lalu strap bisa mix and match. Ke depan kami berencana bikin model jam lainnya,” jelas perempuan berambut cepak ini.

Adapun, kayu yang dia manfaatkan, yakni jenis maple. Kayu jenis ini dinilai memiliki karakteristik dan daya tahan lebih baik dibanding kayu lainnya.

Melalui berbagai langkah, satu buah jam tangan memakan waktu produksi selama 4 jam.

 Baca Juga: Cerita Wahyu Putra Utama, Pemuda Kanigoro Blitar yang Getol Tularkan Ilmu Seni Rupa lewat Sanggar

“Kita selalu ready stock. Memang produksinya pakai sistem batch, sekali bikin langsung jadi beberapa buah. Kalau akumulasi, seminggu bisa bikin 100 pcs,” paparnya.

Satu buah jam tangan dengan kemasan lengkap, dibanderol Rp300 ribu. Dia mengakui bahwa peminat jam tangan buatannya mayoritas dari luar daerah. Seperti Jogjakarta dan sebagian Jawa Tengah dengan persentase 85 persen. Sisanya, 15 persen konsumen lokal

Ica mengaku, rata-rata omzet yang didapat sekira Rp3 juta hingga Rp4 juta. Selain mengandalkan penjualan secara online, dia mengaku kerap ambil bagian dalam pameran UMKM.

Untuk menggaet pembeli, dia mengombinasikan warna jam, serta bahan bakunya. Misalnya, dia memakai kayu kopi saat mengikuti event festival kopi. Hal ini berdampak besar pada pendapatannya.

 Baca Juga: Cara Hartutik Warga Asal Kota Blitar Olah Belimbing Wuluh Jadi Manisan yang Lezat

“Karena masih babat, belum tahu market, harus bagaimana belum luas. Ya tahun ini harapannya terus bagus,” tandasnya.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#ide bisnis #bisnis #kisah inspiratif #kerajinan #Kota Blitar