BLITAR - Suasana gudang KPU Kota Blitar di Jalan Bengawan Solo, Kecamatan Sukorejo, berbeda dari biasanya kemarin (10/1). Sebelumnya, suasana hening menyelimuti gudang untuk penyelenggaraan pesta demokrasi itu, berisi ribuan logistik kebutuhan Pemilu 2024.
“Ini ID card untuk media. Silakan masuk bergantian maksimal 5 orang,” kata satpam yang menjaga di depan gudang logistik.
Setelah menerima ID card dan mengisi buku tamu, lantas diperbolehkan masuk. Ketatnya aturan dimaksudkan agar kondisi sortir lipat tetap kondusif dan aman.
Alunan musik dan suara arahan dari koordinator dari KPU terdengar ketika memasuki gudang. Garis pembatas melintang untuk membatasi media mengambil dokumen.
Terlihat aktivitas sortir lipat surat suara beralaskan terpal. Sesekali terdengar gurauan dari petugas sortir lipat yang didominasi emak-emak itu. “Ayo eksen sik saurunge difoto (pose yang menarik sebelum difoto),” celetuk seorang ibu-ibu, lantas disambut gelak tawa oleh rekan-rekannya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, ada 80 petugas dibagi menjadi 20 kelompok. Dalam satu kelompok berisi 4 orang yang cekatan melipat ribuan lembar surat suara pilpres. Sejumlah benda-benda dimanfaatkan untuk memudahkan proses pelipatan. Seperti botol kaca hingga kotak kacamata.
Salah seorang petugas, Yunita mengaku sudah kali ketiga terlibat dalam proses sortir dan pelipatan surat suara. Sehingga, pekerjaan itu bukan hal asing lagi. Ketika mendengar informasi rekrutmen pekerja sortir lipat, dia bergegas mendaftarkan diri bersama teman-temannya. “Ya lumayan, untuk menambah penghasilan. Karena di rumah cuma menganggur,” katanya disela-sela aktivitas melipat surat suara.
Warga Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, ini memanfaatkan botol kaca untuk melipat surat suara. Hal itu mempercepat pelipatan. Hasil lipatan bisa lurus dan lebih rapi.
Selain itu, surat suara tidak mudah robek atau kotor karena keringat. Cara tersebut selalu diterapkan dalam proses lipat surat suara sebelum-sebelumnya.
Dia mengatakan, dalam sehari tidak ada target atau patokan dari KPU. Tapi dilihat dari kinerja setiap kelompok. Artinya, semakin cepat proses pengerjaan semakin banyak surat suara yang bisa dilipat. Namun, dia dan rekan satu kelompok menargetkan bisa melipat 6 kotak surat suara dalam sehari. “Kan lumayan kalau Rp 200 dikalikan 2.000 lembar sudah dapat Rp 400 ribu per kardus. Tinggal dikalikan sehari dapat berapa,” bebernya.
Senada diungkapkan Heny Retnowati. Dia mengaku mendaftar sebagai petugas sortir lipat suara untuk menambah penghasilan. Perempuan 38 tahun ini aktif sebagai kader posyandu. “Sehari-hari cuma ibu rumah tangga sekaligus kader posyandu. Jadi kalau tidak ada kegiatan balita ya mengerjakan pekerjaan rumah,” bebernya.
Upah yang didapatkan, lanjut dia, lumayan untuk menambah penghasilan. Satu lembar surat suara Rp 200 rupiah. Jika kerja sama antar kelompok bagus dan cepat tentu hasil yang didapat akan semakin banyak. “Karena sistemnya borongan jadi harus kerja sama satu kelompok. Semakin banyak surat suara yang bisa dilipat ya upahnya akan tambah,” pungkasnya. (*/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila