BLITAR - Di Kota Blitar ada sebuah makam dari Patih Blitar pada zaman dahulu yang dikeramatkan layaknya Makam Bung Karno. Masyarakat kerap menyebutnya dengan Makam Gantung Enyang Djojodigjo.
Makam Eyang Djojodigdo memiliki ciri khas yang mudah dikenali dibandingkan makam-makam yang lain. Sebab, selain pusara menggantung di bagian atap, posisi nisannya juga lebih tinggi dibandingkan yang lain.
Nisannya terbuat dari batuan marmer yang indah serta terdapat ukiran huruf jawa yang apabila diartikan kedalam Bahasa Indonesia berisikan informasi perihal kelahiran dan meninggalnya Eyang Djojodigdo ini.
Namun karena kepercayaan pada ajian Ilmu Pancasona yang dimilikinya ini akan mampu membuat Djojodigdo hidup kembali apabila menyentuh tanah sehingga sebelum diuruki tanah, jasad dari patih Blitar ini di masukkan ke dalam peti yang di sangga oleh empat tiang.
Dinamakan Makam Gantung karena ilmu, baju kebesaran serta senjata Eyang Djojodigdo di letakkan diatas pusara makamnya.
Karena hal inilah dinamakan Makam Gantung. Seperti itulah asal mula nama Makam Gantung.Sebagai informasi Eyang Djojodigdo merupakan sosok yang dkenal sakti.
Bahkan Ia termasuk patih Blitar yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia atas penjajahan Belanda.
Konon Ia seringkali ditangkap Belanda dan dieksekusi mati namun Ia kerap muncul kembali ditengah masyarakat.
Nisannya terbuat dari batuan marmer yang indah serta terdapat ukiran huruf jawa yang apabila diartikan kedalam Bahasa Indonesia berisikan informasi perihal kelahiran dan meninggalnya Eyang Djojodigdo ini.(hak)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila